Gayus Pelesir, Dua Sipir Penjara Tipikor Sukamiskin Kena Sanksi

Petugas pengawal terpidana akui Gayus pelesir pada 9 September.

BERITA | NUSANTARA

Selasa, 22 Sep 2015 19:24 WIB

Author

Arie Nugraha

Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Barat, Agus Toyib, sedang

Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Barat, Agus Toyib, sedang memberikan keterangan kepada jurnalis terkait keluarnya terpidana korupsi penggelapan pajak, Gayus

KBR, Bandung - Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Barat akan menjatuhkan sanksi terhadap dua petugas penjara khusu Tipikor Sukamiskin, Bandung, terkait keluarnya narapidana korupsi dari penjara secara ilegal, Gayus Halumoan Tambunan, beberapa waktu lalu.  Alasannya, kedua petugas penjara ini dianggap melanggar standar operasional pengawalan narapidana, sehingga dapat mampir di sebuah restoran bersama dua orang perempuan.

Menurut Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Barat, Agus Toyib, hal tersebut diketahui saat dilakukan penyidikan kepada anggotanya, bersama Dirjen Keamanan dan Ketertiban Pemasyarakatan kemarin.

"Artinya kan pengawal yang mengawal Gayus itu mengakui. Cuma hanya tanggalnya bulan 9 September. Jadi sudah ada pengakuan dari pengawal yang saya periksa, bahwa itu benar terjadi tanggal 9 September," ujarnya di Penjara Khusus Tipikor, Jalan AH. Nasution, Bandung, Selasa (22/9).

Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Barat, Agus Toyib mengatakan, seharusnya dalam standar operasional pengawalan, petugas penjara tidak boleh mengizinkan narapidana yang dikawalnya untuk pelesiran.

Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Barat menyatakan, akan memberikan sanksi kepada ke dua petugas penjara khusus Tipikor Sukamiskin, seperti penurunan pangkat atau  penundaan gaji.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Pandemi dan Dampak Pada Kesehatan Mental Siswa

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Menanti Perhatian pada Kesehatan Mental Pelajar

Kabar Baru Jam 10