Bagikan:

Banyak Perusahaan Hutan Abaikan Kanal Air

Juru Bicara Kementerian Kehutanan, Eko Widodo Sugiri mengatakan banyak perusahaan tidak memanfaatkan secara maksimal kanal-kanal air tersebut. Kanal-kanal itu kosong tanpa air.

BERITA | NASIONAL

Selasa, 29 Sep 2015 10:19 WIB

Author

Eli Kamilah

Banyak Perusahaan Hutan Abaikan Kanal Air

Ilustrasi. Lahan gambut di Riau. (Foto: www.riau.go.id)

KBR, Jakarta - Pemerintah mendesak perusahaan hutan tanaman industri (HTI) maupun gambut merevitalisasi kanal yang sudah ada di lahan dan hutan mereka.

Juru Bicara Kementerian Kehutanan, Eko Widodo Sugiri mengatakan banyak perusahaan tidak memanfaatkan secara maksimal kanal-kanal air tersebut. Kanal-kanal itu kosong tanpa air.

Eko mengatakan semestinya kanal-kanal itu dimanfaatkan untuk mencegah kebakaran lahan dan hutan, termasuk lahan gambut.

"Jadi intinya kanalisasi, pengaturan muka tinggi muka airnya naik. Dia akan menggenangi kanan kirinya kalau airnya naik, akan menggenangi gambut. Gambut itu kan kaya tisu. Kalau perusahaan-perusahaan besar itu sudah ada kanal-kanalnya, tapi ternyata tidak dimanfaatkan, tidak dipelihara dengan baik. Kanal ini dimanfaatkan sebagai bentuk pencegahan kebakaran," kata Eko Widodo Sugiri dalam perbincangan di KBR Pagi, Selasa (29/7).

Presiden Joko Widodo pada pekan lalu meminta agar tata kelola lahan gambut yang buruk segera diperbaiki. Salah satunya dengan merendam lahan gambut agar tidak kering dan mudah terbakar.

Jokowi menginstruksikan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Pemerintah Daerah mewajibkan perusahaan hak pengelolaan lahan gambut membangun embung yang bisa dimanfaatkan untuk perendaman (rewetting) tanah gambut.

Presiden Jokowi juga menyampaikan bahwa langkah konkrit untuk mengatasi darurat kebakaran lahan gambut dengan membangun embung air sudah dilakukan di Kalimantan Tengah.

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Aturan Jilbab Sekolah Negeri, Lampu Kuning Arah Pendidikan