Share This

Rumah Tahan Gempa

Sayangnya kearifan lokal itu makin tergerus. Padahal selama ini kebanyakan korban tewas dan luka disebabkan reruntuhan bangunan beton atau batu bata.

OPINI , EDITORIAL

Rabu, 08 Agus 2018 05:32 WIB

Anggota Basarnas dan relawan mencari korban yang tertimbun reruntuhan Masjid Nurul Iman akibat gempa

Anggota Basarnas dan relawan mencari korban yang tertimbun reruntuhan Masjid Nurul Iman akibat gempa bumi di Pemenang, Lombok Utara, NTB. (Foto: Antara/Zabur Karuru).

Lebih dari 100 orang tewas akibat gempa kuat yang mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat beberapa hari lalu. Ratusan orang luka. Sebagian besar korban tertimpa reruntuhan bangunan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut banyak warga yang mengabaikan aspek risiko bencana ketika membangun rumah.

Nusa Tenggara Barat, juga sebagian besar wilayah lain di Indonesia, rawan gempa. Sebagai negara kepulauan yang berada di jalur cincin api Pasifik serta pertemuan sejumlah lempeng tektonik bumi, Indonesia menjadi salah satu negara yang paling sering diguncang gempa dan letusan gunung api.

Kondisi itu mestinya disadari semua masyarakat, khususnya yang tinggal di daerah rawan bencana gempa. Sejak jaman nenek moyang, sebetulnya banyak kearifan lokal yang dibuat untuk mitigasi atau pengurangan risiko bencana. Misalnya pembangunan rumah tradisional menggunakan kayu atau bambu, yang bisa mengurangi risiko bencana gempa.

Sayangnya kearifan lokal itu makin tergerus. Padahal selama ini kebanyakan korban tewas dan luka disebabkan reruntuhan bangunan beton atau batu bata. Sementara rumah-rumah kayu atau bambu yang lentur bisa meredam getaran gempa dan tetap bertahan.

Gempa yang melanda Lombok beberapa hari lalu menjadi pengingat ke sekian kali bagi kita, agar lebih akrab dengan bencana. Akrab artinya siap menghadapi bencana, dan tidak menyepelekan segala sesuatu yang bisa menimbulkan jatuhnya korban lebih banyak.

Saatnya warga terutama di daerah rawan bencana untuk melihat dan meneliti kembali bangunan rumah masing-masing, apakah sudah cukup ramah dan tahan gempa. Juga kemudahan akses evakuasi jika gempa terjadi. Publik dan pemerintah daerah mesti sama-sama meningkatkan kesadaran warga agar memperhatikan aspek risiko bencana dalam membangun rumah.

 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.