Share This

Presiden Minta Prioritaskan Evakuasi Korban Gempa Lombok

"Setelah tanggap darurat selesai, kita akan masuk ke rehabilitasi, ke rekonstruksi, guna memperbaiki kondisi fisik bangunan baik rumah maupun fasilitas umum," ucap Presiden Jokowi.

BERITA , NASIONAL

Jumat, 10 Agus 2018 16:12 WIB

Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Gubernur NTB TGB Zainul Majdi (kedua kiri) membagikan buku kepada anak-anak korban gempa di Desa Madayin, Kecamatan Sambelia, Selong, Lombok Timur, NTB, Senin (30/7). (Foto: Antara)

KBR, Jakarta- Presiden Joko Widodo mengumpulkan menteri-menterinya untuk rapat membahas penanganan gempa yang mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Sejak gempa mengguncang NTB akhir Juli lalu, pemerintah belum menetapkan status bencana nasional.

Dalam rapat siang tadi, Jokowi memerintahkan seluruh pihak yang terlibat dalam pencarian untuk fokus mengevakuasi korban. Kata Jokowi, dirinya sudah memerintahkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Basarnas, TNI, dan Polri untuk melakukan operasi pencarian dan evakuasi wisatawan.

"Saya minta evakuasi yang belum ditemukan harus jadi prioritas. Saya dapat laporan dari lapangan pencarian terus intensif. Sudah banyak dikerahkan alat berat. Untuk pengungsi saya minta pastikan keersediaan logistik, tenda, selimut, makanan, terutama untuk bayi, obat-obatan, pasokan air, dan listrik," kata Jokowi di Kantor Presiden, Jumat, (10/08).

Presiden Jokowi mengungkapkan, dirinya sudah menerima laporan lengkap terkait kerusakan dan pencarian korban. Berdasarkan data terakhir dari BNPB, jumlah korban gempa berkekuatan 7 Skala Ricther itu mencapai 259 orang.

"Setelah tanggap darurat selesai, kita akan masuk ke rehabilitasi,  ke rekonstruksi, guna memperbaiki kondisi fisik bangunan baik rumah maupun fasilitas umum," lanjutnya.

Lebih lanjut, Jokowi juga menitipkan kepada BNPB agar menggencarkan pendidikan mitigasi bencana kepada masyarakat, khususnya di daerah rawan bencana. Hal itu, kata dia, diperlukan agar masyarakat tanggap menghadapi bencana.

Editor: Adia Pradana 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.