Trigana Air: Santunan untuk Ahli Waris Rp1,35 M

Santunan tersebut terdiri dari dua asuransi, yakni asuransi dari PT Trigana sebesarRp 1,25 miliar dan Asuransi Jasa Raharja sebesar Rp100 juta.

, BERITA , NASIONAL

Kamis, 20 Agus 2015 19:10 WIB

Author

Katarina Lita

Trigana Air: Santunan untuk Ahli Waris Rp1,35 M

Ilustrasi salah satu pesawat Trigana Air. (Foto: ANTARA)

KBR, Jayapura - PT Trigana Air Service memberikan santunan sebesar Rp1,35 miliar kepada ahli waris keluarga korban jatuhnya Trigana Air jenis ATR 42 nomor lambung PK-YRN.

Santunan tersebut terdiri dari dua asuransi, yakni asuransi dari PT Trigana sebesarRp 1,25 miliar dan Asuransi Jasa Raharja sebesar Rp100 juta.

Direktur Operasional PT Trigana Air Service Benny Sumaryanto mengatakan santunan ini akan diberikan kepada seluruh penumpang di dalam pesawat tersebut. Pemberian santunan kepada ahli waris korban Trigana dalam jangka waktu 3-4 minggu kedepan.

"Tim dari asuransi dari Inggris sudah ada di hangar. Baru saja kami ketemu dan mungkin minta waktu kisaran 3-4 minggu karena butuh identifikasi. Contohnya surat Akte Kelahiran, KTP, Kartu Keluarga. Itu untuk data, agar tidak salah dalam memberikan santunan itu," katanya kepada wartawan di Rumah sakit Bhayangkara.

Pesawat Trigana Air Service jenis ATR 42 PK YRN tujuan Jayapura menuju Oksibil di Kabupaten Pegunungan Bintang jatuh di sekitar Kampung Atenok, Distrik Oksbob, Kabupaten Pegunungan Bintang.

Lokasinya berada di ketinggian 2,500 meter di atas permukaan laut. Daerah tempat ditemukannya puing pesawat sangat menyulitkan karena memiliki kemiringan 45 derajat. Seluruh penumpang berjumlah 54 orang termasuk lima kru pesawat ditemukan tewas.

Kamis (20/8) sore, dari 54 jenasah, sudah ada 4 jenasah yang bisa diidentifikasi. Diantaranya jenazah Terianus Salawala (Sekretaris Bappeda Kabupaten Pegunungan Bintang, beralamat di Oksibil), Matius Nikolaus Aragay (pegawai Kantor Pos Jayapura, beralamat di Polimak II Gunung, Jayapura), Laboni alias Boni Woriori (mahasiswa STIE Ottow Gesler Serui, alamat rumah di Serui) serta Wendepen Bamulki (seorang guru di Kampung Aldom, Oksibil).

Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Polisi Didesak Ungkap Jaringan Perdagangan Orang dengan Modus Pernikahan