Realitas Kampung Pulo: 'Camat Sofyan Memarahi Ustad, Warga Marah, Lalu...' (1)

"Saya bertanya-tanya ini ada apa? Kok masyarakat didatangi sebegitu rupa dengan alat perang. Sementara dari pihak warga malah justru minta cara damai, berdialog dulu baik-baik."

BERITA | NASIONAL

Kamis, 27 Agus 2015 14:30 WIB

Author

Agus Lukman

Realitas Kampung Pulo: 'Camat Sofyan Memarahi Ustad, Warga Marah, Lalu...' (1)

Polisi berjaga di lokasi penggusuran rumah warga di Kampung Pulo, Jakarta Timur. (Foto: Ninik Yuniati)

Pengantar: Pada Kamis (20/8) hingga Sabtu (22/8), pemerintah DKI menggusur paksa rumah warga di kawasan Kampung Pulo di aliran Sungai Ciliwung. Kawasan itu dihuni sekitar 3,800 keluarga.

Kawasan ini digusur karena berada di bantaran sungai, dan kerap dilanda banjir. Warga menolak digusur karena tidak ada ganti rugi dari pemerintah, walaupun mereka mengklaim memiliki surat-surat tanah seperti Letter C, girik atau Verbonding Indonesia. Sementara pemerintah DKI Jakarta yang sebelumnya berencana memberi ganti rugi, berubah haluan. Pemerintah DKI menyatakan tidak ada ganti rugi karena warga tinggal di lahan milik negara.

Ketua Komunitas Sanggar Ciliwung Merdeka, Sandyawan Sumardi mengatakan banyak orang yang tidak tahu sejarah keberadaan Kampung Pulo. Padahal, keberadaannya sudah ada sejak sebelum kemerdekaan.

Senin (24/8) lalu, Pak Sandy---panggilan Sandyawan Sumardi---datang ke KBR. Ia menjelaskan banyak hal soal Kampung Pulo, bergantian dengan Soebandi (warga RW 03) dan Vera Soemarwi (kuasa hukum warga Kampung Pulo). Berikut petikannya.


***

Kronologis bentrokan warga dengan aparat, 20 Agustus 2015.

Pada 19 Agustus malam sekitar pukul 21:00 hingga 20 Agustus pukul 03:00 pagi, warga sedang melakukan rapat. Dalam rapat itu ada kesepakatan, mulai RW01 sampai RW03 tidak akan menggunakan kekerasan. Saya (Sandyawan Sumardi) masih menyimpan percakapan di grup WhatsApp. Kami juga mengantisipasi agar tidak terjadi apa apa. Kami siapkan P3K, tapi bukan berarti kita men-setting suatu konflik.

Saya tiba di Kampung Pulo 20 Agustus pagi pukul 06:30 WIB. Sekitar pukul 07.30 pemadam kebakaran datang. Satpol PP datang. Ada polisi dan tentara ratusan jumlahnya. Lalu hadir juga mesin-mesin penghancur beckho, begitu rupa. Yang membuat saya sakit hati itu bagaimana mereka---pemerintah dan aparat---memperlakukan warga. Seperti menghadapi perang.

Warga berdatangan dari mana-mana. Secara spontan. Bukan hanya warga Kampung Pulo saja yang berdatangan. Sementara warga Kampung Pulo itu tenang-tenang saja di dalam.

Saya ingat pagi sekali itu Ustad Kholili dikerumunin wartawan itu.

Saya bertanya-tanya ini ada apa? Kok masyarakat didatangi sebegitu rupa dengan alat perang. Sementara dari pihak warga malah justru minta cara damai, berdialog dulu baik-baik. Siapa yang tidak beradab dan mana yang beradab? Warga Kampung Pulo bahkan berdoa dipimpin oleh Habib Soleh.

Sekitar pukul 08:15 menit saya berada di rumah Habib Soleh. Habib Soleh belum tidur dari malam saat itu. Baru saya duduk lima menit, tiba-tiba ada teriakan, "kita diserbu..."

Lalu saya keluar dan melihat ada bapak-bapak dan ibu-ibu jatuh tersungkur, mukanya terkena gas air mata dan terasa mual. Saya inisiatif keluar ke Jl. Jatinegara, itu saya lihat warga dan aparat sudah berhadap-hadapan. Massa ribuan mayoritas anak-anak muda sudah mulai ledek-ledekan itu dengan Satpol PP. 

Saya lalu maju kesitu mencoba diskusi dengan warga, saya meminta agar mereka bisa tenang. Mereka kenal saya, mereka tenang. Mereka hanya minta Satpol PP dimundurkan sedikit. Saya lalu inisiatif menanyakan ke Satpol PP, siapa pemimpin mereka?

Saya dikenalkan dengan Kapolres Bapak Umar Faruk, selaku Kapolres Jakarta Timur. Beliau sangat tenang. Sekitar satu jam lamanya saya bernegosiasi. Saya minta agar Pak Kapolres memundurkan Satpol PP. Kapolres berjanji akan memundurkan Satpol PP. Warga lega, tapi kenyataannya tidak mundur-mundur juga.

Lalu datanglah Ustad Kholili dengan pengacara. Mereka setuju kalau yang akan dibongkar hari ini adalah yang sudah ambil kunci Rusun dulu. Yang belum, nanti akan dibicarakan lagi bagaimana kelanjutannya.

Setelah dibuatkan kesepakatan ini, saya minta lawyer untuk membuatkan draft dengan materai, lalu ditanda tangani sekiranya warga setuju.

Tidak lama datang Pak Camat Jatinegara Sofyan Taher dengan kacamata hitam dan masker. Ia mengatakan "tidak ada kesepakatan-kesepakatan itu". Lalu Pak Camat Sofyan Taher sempat memarahi Pak Ustad Kholili. Melihat ustad mereka dimarahi, warga lantas marah. Terjadilah konflik. Lempar-lemparan batu dua belah pihak, warga dan Satpol PP. Lalu tak polisi dan tentara pun ikut melempar.

Ada 27 orang yang ditahan. Pak Kapolres mengatakan kalau itu semua tidak ada orang bayaran. Memang ada warga datang dari kampung lain, tapi itu adalah tindakan spontan saja. Yang salah satu korbanya atas nama Eko yang sekarang masih di Carolus. Pecah pembuluh darahnya.

***
Sanggar Ciliwung Merdeka

Sandyawan Soemardi mendampingi warga Kampung Pulo sejak empat tahun lalu---meski ia sudah mengenal Kampung Pulo sejak ia mendirikan Sanggar Ciliwung Merdeka di Bukit Duri---yang berada di seberang Kampung Pulo. Sandyawan bersama kawan-kawan aktivis melakukan studi sejarah kampung secara antropologis pada 2009, termasuk Kampung Pulo.

Aktivitas Sanggar Ciliwung Merdeka melibatkan banyak orang, mulai dari pekerja lapangan, lawyer, perencana tata ruang kota (urban planner), arsietk, ahli tata ruang, antropolog, sosiolog, hingga ahli komunikasi.

Dalam menghadapi sengketa dan ancaman penggusuran oleh Pemprov DKI, warga Kampung Pulo didampingi tujuh pengacara, dan banyak pihak yang secara sukarela membantu mengadvokasi kasus Kampung Pulo.

Baca: Realitas Kampung Pulo: 'Dianggap Ilegal dan Liar, Itu Menyakitkan Sekali' (2)    

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Indahnya Keberagaman di Kota Paling Toleran Salatiga

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Peraturan Presiden tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstrimisme