Bagikan:

BNPB: 700 Kecamatan Alami Kekeringan

BNPB mengalokasikan dana Rp200 milyar untuk mengantisipasi bencana kekeringan. Sebagian besar dana akan digunakan untuk penyaluran air bersih lewat tangki air ke masyarakat.

BERITA | NASIONAL

Selasa, 18 Agus 2015 17:18 WIB

BNPB: 700 Kecamatan Alami Kekeringan

Warga menyedot air dari sumber air ke tandon penampungan, di Rembang Jawa Tengah. (Foto: Musyafa)

KBR, Denpasar - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengalokasikan dana Rp200 milyar untuk mengantisipasi bencana kekeringan.

Juru bicara BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan sebagian besar dana itu akan digunakan untuk penyaluran air bersih lewat tangki air ke masyarakat yang membutuhkan.

Selain itu BNPB akan melakukan modifikasi hujan buatan menggunakan lima pesawat---termasuk dua pesawat Hercules untuk menyemai hujan.

Beberapa daerah sudah meminta hujan buatan ke BNPB, seperti provinsi Jawa Timur.

"Perkiraan dari BMKG, El Nino akan mengakibatkan kekeringan di wilayah Indonesia khusunya di selatan garis khatulistiwa. Sampai saat ini dilaporkan ada 16 provinsi, 106 kabupaten/kota, 700 kecamatan mengalami kekeringan. Diperkirakan kekeringan akan mencapai puncaknya pada Oktober-Nopember mendatang," kata Sutopo Purwo Nugroho, di Bali (18/8/2015).

Sutopo mengatakan musim kemarau tahun ini akan lebih kering dan curah hujan lebih sedikit hingga akhir Desember 2015 nanti. Diperkirakan musim hujan baru akan terjadi pada akhir 2015.

BNPB juga memperkirakan kasus krisis air akan meningkat di wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.

Saat ini beberapa tempat di Bali sudah lebih dari dua bulan tidak terjadi hujan seperti Buleleng, Jembrana dan Bangli. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali sudah mensuplai kebutuhan air di daerah itu.

BNPB juga memperingatkan dampak lain kekeringan yaitu ancaman kebakaran hutan. Berdasarkan data BNPB kejadian hutan terbakar sering terjadi di gunung. Seperti gunung Agung Bali yang setiap musim kemarau mengalami kebakaran. Sutopo meminta pencinta alam dan wisatawan berhati-hati karena sulit memadamkan api saat terjadi kebakaran hutan.

Editor: Agus Luqman 

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Memuja Idola Sampai Sebegitunya

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Most Popular / Trending