Demo Tolak PPKM Darurat, Pengunjuk Rasa di Bandung Bawa Bom Molotov

Sebanyak 149 pengunjuk rasa ditangkap polisi.

BERITA | NASIONAL | NUSANTARA

Rabu, 21 Jul 2021 17:34 WIB

Author

Arie Nugraha

Demo Tolak PPKM Darurat, Pengunjuk Rasa di Bandung Bawa Bom Molotov

Aksi tolak PPKM Darurat yang langgar Prokes Pencegahan COVID-19. (Foto: KBR - Arie Nugraha)

KBR, Bandung - Sebanyak 149 pengunjuk rasa yang menolak pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat di Kota Bandung, Jawa Barat ditangkap polisi. 

Menurut Kepala Polisi Kota Bandung Ulung Sampurna Jaya, penangkapan dilakukan antara lain karena mereka melakukan pengrusakan fasilitas umum. Padahal, pengunjuk rasa itu awalnya hanya berunjuk rasa di sekitaran balai kota saja. 

“Pelaksanaan di Pemkot sudah selesai, mereka melakukan jalan kaki ke Gedung Sate (Kantor Gubernur Jawa Barat). Tetapi di perempatan jalan sebelum sampai ke Gedung Sate, mereka melakukan penutupan jalan. Dengan melakukan orasi sehingga terjadi kemacetan yang panjang, dan yang kedua mereka melakukan pengrusakan. Pengrusakan-pengrusakan di sekitarnya, pot-pot segala macamnya. Ada 60 pot yang dirusak,” ujar Ulung di Bandung kepada KBR (Rabu, 21 Juli 2021).

Ulung mengatakan para pengunjuk juga dalam menyampaikan pendapatnya, tidak mematuhi protokol kesehatan pandemi (prokes). Sebagian besar pengunjuk rasa tidak memakai masker. 

Ulung menjelaskan pengunjuk rasa yang ditangkap yaitu sembilan mahasiswa, 36 pelajar SMA sederajat, enam pelajar SMP, dan 34 orang pengangguran dan putus sekolah, serta 64 orang berprofesi lainnya. 

“Saat melakukan pembubaran ditemukan bom molotov yang telah dipersiapkan oleh kelompok mereka. Dapat kami simpulkan bahwa memang mereka tidak ingin kondisi Kota Bandung tidak kondusif,” kata Ulung.

Ulung memperkirakan pengunjuk rasa seolah-olah mengajak masyarakat agar menolak PPKM Darurat agar tidak diperpanjang, padahal ada tujuan lain.

Usai dilakukan penangkapan, polisi menemukan tiga pengunjuk rasa reaktif COVID-19. Itu hasil dari pemeriksaan tes usap oleh kepolisian terhadap pengunjuk rasa. “Awalnya unjuk rasa diikuti oleh para pengemudi ojol dan pedagang. Tetapi pengemudi ojol dan pedagang memisahkan diri karena mengetahui aksi unjuk rasa menjadi tidak terkendali,” ucapnya.

Editor: Fadli Gaper

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Lambannya Pencairan Bansos di masa PPKM Darurat

Kabar Baru Jam 8

Platform Para Pekerja untuk Saling Berbagi

Kabar Baru Jam 10