Bagi-bagi Obat COVID-19 Gratis, Hati-hati Ada Obat Kerasnya

Artinya enggak bisa juga sembarangan mendapat obat. Jangan-jangan berinteraksi dengan obat lain yang dia gunakan. Kan dia enggak ngerti dia pasien itu sedang punya sakit apa.

BERITA | NASIONAL

Jumat, 16 Jul 2021 19:42 WIB

Author

Heru Haetami

Bagi-bagi Obat COVID-19 Gratis, Hati-hati Ada Obat Kerasnya

Pakar Farmakologi dan Farmasi Klinik UGM Yogyakarta, Zullies Ikawati. (Foto: farmasi.ugm.ac.id)

KBR, Jakarta - Pemerintah diingatkan untuk memperhatikan prosedur mengonsumsi obat terkait program bagi-bagi obat gratis untuk pasien COVID-19 yang isolasi mandiri.

Pakar Farmakologi dan Farmasi Klinik dari UGM Yogyakarta, Zullies Ikawati mengatakan, selain membagikan obat COVID-19 gratis, sebaiknya pasien disediakan juga layanan konsultasi, supaya obat yang dikonsumsi tidak berefek samping hingga fatal. Apalagi Zullies meyakini, diantara obat gratis yang diberikan ada yang tergolong obat keras.

Berikut, perbincangan jurnalis KBR Heru Haetami dengan Zullies Ikawati, yang gelar kesarjanaannya diraih di Fakultas Farmasi UGM Yogyakarta pada 1992 dengan predikat Cum Laude:

Presiden Jokowi pada Kamis (15/7/2021) meluncurkan pemberian obat gratis bagi pasien Covid-19 yang isolasi mandiri. Apakah yang harus menjadi perhatian, sehingga pemberian obat ini tentu tidak berdampak fatal pada penggunaannya?

Memfasilitasi konsultasi, karena kalau yang saya lihat, paket obatnya itu kan mengandung obat keras juga. Nah itu kan artinya ada risiko kalau obat keras itu harus digunakan sesuai aturan dengan pengawasan dokter. Kalau memang cara mendapatkannya ada fasilitas untuk berkonsultasi, ya silahkan. Kalau langsung gitu aja kan kita enggak mengerti kondisi orang kan beda-beda, enggak bisa digeneralisir. Karena obat-obat covid kan tidak cuma satu ya ada kemungkinan lebih dari satu. Mungkin vitamin dan antivirusnya. Mungkin paracetamol, kemudian ada beberapa vitamin itu so far tidak ada interaksi yang signifikan. Itu kalau ngomong secara umum tetapi kan kadang-kadang kasus per kasus bisa terjadi. 

Jadi mungkin yang perlu diperhatikan tadi misalnya pasien Covid-19, isolasi mandiri tapi dia punya komorbid, misalnya dia punya penyakit lain, itu yang mungkin perlu diperhatikan. Artinya enggak bisa juga sembarangan mendapat obat. Jangan-jangan berinteraksi dengan obat lain yang dia gunakan. Kan dia enggak mengerti dia pasien itu sedang punya sakit apa, sedang minum obat apa kan ya. Tapi kalau secara umum ya, enggak bisa digeneralisir tadi yang saya bilang. Jadi contoh, misalnya Azithromicin kalau enggak salah ada dalam paket. Nah Azithromicin sendiri itu kan walaupun jarang kejadiannya cuman kalau kita baca di literatur ada risiko mengarah ke gangguan jantung. Artinya kalau dipakai oleh orang yang sudah punya gangguan itu, akan berisiko.

Artinya menempatkan dokter atau tenaga kesehatan tetap penting dalam pembagian obat-obat untuk pasien Covid-19 ini?

Iya jadi tentu harus ada enforcement dari tenaga kesehatan. Jadi misalnya kan saya dengar mau lewat tentara tuh, mau lewat mana gitu pembagiannya. Tapi sampai di ujung tetap harus ada kerja sama dengan pihak puskesmas atau pokoknya tenaga kesehatan yang bisa ikut memantau. Jangan masyarakat umum yang awam. Palingan untuk membantu memantau dari hasil terapinya. Terapi itu bisa efikasi atau kemanjuran maupun kalau ada efek samping

Apakah program ini tepat? Masukan anda baiknya seperti apa program ini?

Ya jadi harus disertai dengan fasilitas informasi yang akurat terhadap pengguna. Mungkin kalau bisa ada fasilitas konsultasi, atau mungkin melibatkan di ujung ya terutama mungkin melibatkan tenaga kesehatan begitu untuk ikut memantau mungkin tadi menskrining karena paketnya sama semua itu tapi kan kondisi orang beda-beda. Apakah tepat dia menggunakan itu? Kalau cuma Covid-19 nya saja oke tapi kan orang bisa memiliki komorbid entah penyakit Asma mungkin, entah apa, yang artinya itu perlu menjadi perhatian. Nah itu yang memerlukan keterlibatan dari tenaga kesehatan untuk memantau obat gratis itu.

Pentingnya skrining ini juga apakah menghindari kekhawatiran misal seseorang belum pernah divonis penyakit berat tetapi sebetulnya dia memiliki itu?

Iya betul jadi kan yang vaksin juga diskrining dulu kan? Punya riwayat penyakit apa. Sebenarnya ini sama ya, paket obat ini kan ada obat kerasnya jadi ya harus ada skriningnya juga sesuai enggak untuk pasien tersebut.

Editor: Fadli Gaper

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Lambannya Pencairan Bansos di masa PPKM Darurat

Kabar Baru Jam 8

Platform Para Pekerja untuk Saling Berbagi

Kabar Baru Jam 10