Jaga Generasi Suku Duano dengan Imunisasi

Imunisasi dasar lengkap adalah hak anak

Bayi bernama Bintang digendong Mirna, ibunya, bersiap menerima imunisasi DPT dan Polio. Mereka adalah warga Suku Duano di Indragiri Hilir, Riau. (Foto:KBR/Elvi)

Minggu, 12 Juni 2022

KBR, Riau - Yuliana (28) tengah menjaga Amelia, putrinya, saat tiga petugas Puskesmas Kuala Enok, Indragiri Hilir, Riau datang berkunjung. Balita berusia 2 tahun itu sedang sakit.

“Demam panas, semalaman tidak tidur. Sariawan juga mulutnya,” kata Yuliana menjelaskan kondisi putrinya.

Amelia mestinya disuntik vaksin DPT untuk mencegah penyakit difteri, pertusis dan tetanus. Vaksin ini masuk kategori imunisasi dasar dan wajib bagi balita. Namun, karena sedang sakit, suntikan urung diberikan.

“Berhubung anak ibu demam, kami tidak memberikannya, nanti dikunjungi lagi oleh petugas kita ya” kata Nursiah Sitompul, petugas Puskesmas Kuala Enok.

Nursiah menjelaskan pentingnya pemberian vaksin DPT.

"Anaknya mau diimunisasi lagi, booster. Diulangi lagi dengan pemberian ketiga DPT-nya. Kalau jarak setahun diberikan lagi sampai usianya 3 tahun. Kenapa? Karena kekebalan untuk mencegah penyakit difteri, pertusis, itu sudah mulai menurun," jelas Nursiah.

Baca juga: Dedikasi Nakes Vaksinasi di Wilayah Terpencil

Petugas imunisasi tengah bersiap memberikan layanan saat mendatangi satu per satu rumah warga Suku Duano. (Foto:KBR/Elvi).

Nursiah dan dua rekannya dari Puskesmas Pembantu Tanjung Pasir, Ratna Sartika dan Erin melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya.

Ada dua rumah lagi di Desa Tanjung pasir yang harus mereka datangi untuk imunisasi DPT dan polio. Yakni Mirna dan Sumarni yang sama-sama memiliki bayi berumur 4 bulan. Dua bayi dalam kondisi sehat sehingga vaksin bisa disuntikkan.

“Ini pemberian imunisasinya pemberian imunisasi DPT (dosis) dua dan Polio (dosis) tiga. Satu bulan kemudian nanti diberikan lagi untuk DPT (dosis) tiga dan Polio (dosis) empatnya,” kata Ratna Sartika yang menjabat sebagai Kepala Puskesmas Pembantu Tanjung Pasir di rumah Mirna.

Ketiga ibu yang dilayani petugas puskemas itu merupakan warga Suku Duano atau Suku Laut. Suku Duano adalah suku asli yang jumlahnya mencapai seribu orang atau separuh populasi warga Desa Tanjung Sari. Sebagian besar bekerja sebagai buruh nelayan dengan pendidikan rata-rata sampai jenjang SMP.

Baca juga: Kiprah Posyandu Khusus ODHA, Makin Relevan di Masa Pandemi

Warga harus menyeberang dengan pompong atau perahu jika ingin mendapat layanan kesehatan di Puskesmas Kuala Enok. (Foto: KBR/Elvi).

Layanan kesehatan dasar di Tanjung Sari belum memadai, termasuk soal imunisasi. Puskesmas pembantu di sana tidak punya lemari pendingin dan listrik hanya menyala pada malam hari. Karenanya seluruh vaksin disimpan di Puskesmas Kuala Enok, yang berada di wilayah berbeda yang dipisahkan sungai.

Untuk mencapai Tanjung Sari, petugas kesehatan harus menempuh perjalanan sekitar 15 menit dengan menggunakan pompong atau sejenis perahu.

Ada 13 balita warga suku Duano di Tanjung Sari yang mesti dipastikan mendapat imunisasi lengkap. Imunisasi sebenarnya sudah dijadwalkan tanggal 15 tiap bulan di posyandu yang bertempat di puskesmas pembantu. Namun, banyak yang mangkir lantaran masih rendahnya kesadaran tentang pentingnya imunisasi.

Akhirnya, puskesmas berinisiatif mendatangi satu per satu rumah warga (sweeping).

“Ini betul-betul di-sweeping tiap bulan, (karena) kadang anaknya tidur, sakit, ibunya jarang keluar juga. Daripada tidak diimunisasi, terpaksa kita sweeping,” ujar Ratna.

Baca juga: Akses Pendidikan untuk Asa Masa Depan Anak Pemulung

Suasana Desa Tanjung Sari, Indragiri Hilir, Riau. Separuh populasinya merupakan warga Suku Duano yang mayoritas bekerja sebagai buruh nelayan. (Foto:KBR/Elvi)

Mekanisme ini butuh persiapan matang. Jumlah orang yang akan diimunisasi mesti akurat, agar tidak ada vaksin bersisa.

“Vaksin yang kita bawa sesuai kebutuhan di lapangan. Kalau vaksin sudah dibuka, tidak boleh lagi dimasukkan ke dalam kulkas vaksin,” jelas Nursiah.

Imunisasi bayi pascakelahiran juga sering dilakukan door-to-door. Ini lantaran ibu hamil di Tanjung Sari mayoritas melahirkan di rumah ketimbang ke puskesmas. Terlebih, pilihannya cuma di Puskesmas Kuala Enok yang harus menyeberang sungai.

“Keadaan pasang surut air ini kadang masyarakatnya mau pergi air surut, susah dibawa. Tapi tetap dipanggil tenaga kesehatan untuk memotong tali pusatnya, perawatan bayinya. Yang paling penting itu imunisasi HB0 dan pemberian vitamin K,” kata Nursiah.

HB0 adalah vaksin hepatitis B yang mesti diberikan kurang dari 24 jam setelah bayi lahir.

Baca juga: Masyarakat Adat Anggai di Tengah Konsesi Sawit

Kondisi Puskesmas Pembantu Tanjung Sari tidak memadai untuk memberikan layanan medis seperti imunisasi dan persalinan. (Foto: KBR/Elvi).

Puskesmas pembantu di Tanjung Sari tak layak digunakan untuk tindakan medis. Posisi bangunannya sudah miring dan atapnya bocor. Kondisi ini terjadi sejak 2007.

“Kalau air pasang, banjir kamu, terendam semua barang di dalam. Biasanya pasang itu bisa 3 hari, sekarang bisa sampai seminggu,” ujar Ratna.

Menurut Ratna, sudah ada pengajuan anggaran perbaikan ke desa, tetapi sampai detik ini belum bersambut.

Ini merupakan karya hasil Fellowship AJI – UNICEF "Mendorong Hak Sehat Anak Melalui Imunisasi 2022".