Pembicara Simposium Anti-PKI Tolak Hadir

Bekas Ketua Persatuan Gereja Indonesia (PGI) Nathan Setiabudi mengaku tak diundang, meski namanya tertera dalam jadwal simposium hari kedua

, BERITA , NASIONAL

Kamis, 02 Jun 2016 10:04 WIB

Author

Sasmito

Pembicara Simposium Anti-PKI Tolak Hadir

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu memberikan sambutan saat menghadiri pertemuan Purnawirawan TNI, Ormas Kepemudaan dan Ormas Keagamaan di Jakarta, Jumat (13/5). Pertemuan ini bertujuan untuk mengan

KBR, Jakarta - Bekas Ketua Persatuan Gereja Indonesia (PGI) Nathan Setiabudi memastikan tidak akan datang ke simposium anti-penyelesaian kasus tragedi 1965 yang digelar sejumlah pensiunan jenderal TNI di Balai Kartini Jakarta. Nathan diklaim akan menjadi pembicara yang mewakili PGI. Dalam jadwal, namanya tertera untuk menyoroti aspek agama pada sesi ketiga hari ini, Kamis, 2 Mei 2016. Ia beralasan hingga saat ini belum menerima undangan dari pihak panitia.

"Saya belum pernah dihubungi. (Dicatut?) Pertama saya bukan Ketua PGI lagi, jadi saya tidak bisa mewakili PGI, kecuali PGI meminta saya," jelas Nathan saat dihubungi KBR.

Nathan menganggap simposium yang digelar usai simposium tragedi 65 ini sebagai hal yang lucu. Sebab Menteri Koordinator Politik Hukum Keamanan, Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Pertahanan, Ryamizar Syacudu berbeda sikap atas penyelesaian kasus kejahatan HAM tersebut.

Hari ini, pensiunan jenderal TNI melanjutkan simposium anti-penyelesaian kasus tragedi 1965. Simposium ini merupakan gelaran untuk menandingi hasil rekomendasi simposium nasional penyelesaian kasus 1965 pada April lalu. Beberapa pembicara dan tamu yang hadir antara lain pemimpin ormas FPI Riziek Shihab, politisi PPP Abraham Lunggana atau Haji Lulung, bekas ajudan Soeharto Try Sutrisno, serta pimpinan MUI Cholil Ridwan.

Tetapi para pembicara ini lebih banyak menghidupkan kembali kebencian yang dikonstruksi rezim Soeharto terhadap keluarga PKI dalam simposium ini. Seperti memvonis keluarga komunis sebagai orang tak beragama. Menurut akademisi Universitas Indonesia, para pembicara, termasuk Ketua Pelaksana simposium tandingan, Kiki Syaknarki salah kaprah. Menurut Rocky, tidak ada kaitan antara paham yang diajarkan oleh penganut Marxisme, Leninisme dengan Atheis.

"Itu tanggapan bodoh, karena dia tidak mengetahui konsep dasarnya. Sudah tidak ada penjelasan lagi untuk orang bodoh. Yang jelas tidak ada hubungan antara Marxisme dan Atheisme. Orang Yahudi, ada yang Marxisme dan ada yang Atheisme. Kalau mau ditanya, Marx itu Atheis atau tidak, tanya sama Kiki Syakhnarki. Atheisme itu kan sikap pribadi seseorang yang tidak ada sangkut pautnya dengan ideologi. Jadi kalau dikatakan begitu, seolah-olah sinonim dari Marxisme adalah Atheisme. Atheisme itu urusan dengan hati, tidak ada dengan ideologi," jelasnya saat dihubungi KBR. 


Editor: Damar Fery Ardiyan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Presiden Didesak Keluarkan Perppu untuk Batalkan UU KPK

Cek Fakta Top 5 Hoax of The Week 14-20 September 2019

Bangun Sinergi Selamatkan Badak