Pasca Brexit, DPR RI Khawatir Inggris Jadi Antipendatang

"Kalau sampai pemimpin yang muncul di Inggris itu antiimigrasi, itu tidak akan kondusif bagi dunia maupun Indonesia," kata Wakil Ketua Komisi I DPR Hanafi Rais.

, BERITA , NASIONAL

Senin, 27 Jun 2016 15:33 WIB

Author

Ria Apriyani

Pasca Brexit, DPR RI Khawatir Inggris Jadi Antipendatang

BERPISAH - Bendera Inggris dan bendera Uni Eropa terpasang di sebuah gedung di Inggris. (Foto: Dave Kellam/Flickr/Creative Commons)

KBR, Jakarta - DPR meminta pemerintah tidak hanya melihat keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Britain Exit) hanya dari sudut pandang ekonomi.

Wakil Ketua Komisi Luar Negeri DPR, Hanafi Rais mengatakan Brexit akan berbahaya bagi Indonesia jika ke depannya tren pemimpin yang muncul adalah pemimpin-pemimpin anti pendatang.

"Saya khawatir, tapi semoga ini ngga terjadi. Kalau sampai di Inggris itu nanti ada tren pempimpin yang muncul adalah yang anti imigrasi dan membawa ideologi-ideologi kanan. Maka itu yang akan tidak kondusif bagi dunia, termasuk Indonesia," kata Hanafi, Senin (27/6/2016).

Hanafi Rais mengatakan, Brexit merupakan puncak keresahan sebagian masyarakat Inggris yang gagal bersaing dalam pasar bebas Uni Eropa. Pasca Inggris bergabung ke Uni Eropa pada 1973, Inggris dibanjiri pendatang.

Para pendatang tersebut memiliki hak dan keuntungan yang sama dengan masyarakat Inggris termasuk dalam hal pekerjaan. Ini membuat sebagian masyarakat Inggris merasa terpinggirkan oleh pendatang.

Pekan lalu, hasil referendum Inggris digelar antara kubu Remain (Inggris tetap berada di dalam Uni Eropa) dan kubu Leave (yang menginginkan Inggris keluar dari Uni Eropa). Hasil penghitungan suara menunjukkan sekitar 17 juta orang (sekitar 51,9 persen) warga Inggris Raya mendukung Leave.

Baca: Referendum Inggris: Brexit Menang!   

Alhasil, Inggris pun harus bercerai dengan Uni Eropa. Keluarnya Inggris dari Uni Eropa ini menimbulkan reaksi hingga mundurnya Perdana Menteri Inggris David Cameron. Sejak awal, Cameron dari Partai Konservatif mendukung Inggris tetap di Uni Eropa.

Pasca pengumuman kemenangan Brexit ini, pengusiran dan ujaran kebencian merebak di Inggris.

Seorang peneliti Universitas Coventry, Heaven Crawley, melaporkan kejadian sekelompok orang menyudutkan seorang perempuan Muslim di Birmingham. Mereka meminta perempuan tersebut pergi dari Inggris.

Baca: Rasisme Meningkat usai Brexit Menang, WNI di Inggris Resah  

Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Kerusuhan Lapas Diduga Dipicu Praktik Diskriminasi