Diminta Blokir Youtube dan Google, Rudiantara: Tidak Mungkin

Pemblokiran Youtube dan Google justru akan menutup Indonesia dari dunia luar

BERITA | NASIONAL

Rabu, 08 Jun 2016 11:27 WIB

Author

Ria Apriyani

Diminta Blokir Youtube dan Google, Rudiantara: Tidak Mungkin

Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara. Foto ANTARA

KBR, Jakarta - Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara menegaskan tidak mungkin memblokir Google dan Youtube seperti Tiongkok. Ini menjawab pernyataan Sekjen Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia, Jafar Hafsah yang menuding Google dan Youtube sebagai sumber inspirasi adegan pornografi. Sehingga, menurut dia, kedua situs itu harus diblokir.

Namun Rudiantara memastikan opsi pemblokiran dua situs ini tidak mungkin diambil. "Block itu unlikely ya. Tapi kira-kira sama yang namanya pornografi, perjudian, yang konten negatif teman-teman tahu semua hpir 770-an ribu kita block. Ini tetap jalan," ujar dia di gedung DPR, Rabu (8/6/2016).

Rudiantara mengatakan, pemblokiran dua situs itu justru akan menutup Indonesia dari dunia luar. Ia menyesalkan pernyataan Jafar tersebut. Demi mengonfirmasi pernyataan itu, Rudiantara mengaku langsung menghubungi Ketua ICMI, Jimly Asshidiqqie. Kepada awak media, Rudiantara membacakan pesan balasan dari Jimly.

"Statementnya, bahwa pemerintah dan ICMI memiliki kesamaan pandangan tentang concern pornografi di media sosial maupun di dunia internet. Artinya sama-sama concern. Pemerintah terus mengefektifkan upaya pemblokiran pornografi. ICMI juga berpandangan bahwa di era kebebasan informasi dewasa ini Indonesia tidak mungkin meniru Cina dengan melarang google dan youtube. Karena itu semua kekuatan moral bangsa harus diefektifkan untuk mengarahkan generasi muda dan pengguna pada umumnya untuj menentukan pilihan moral masing-masing sehingga terhindar dari konten pornografi di media sosial," ungkapnya.

Meski begitu, Rudiantara juga mengakui sulitnya membatasi akses masyarakat terhadap konten-konten negatif ini. "Kalau sifatnya pornografi di kita tidak boleh jelas ada Undang-Undangnya. Tapi di negara lain justru suatu industri. Bahkan komersil. Jadi namanya komersil mereka selalu mempromosikan dirinya. Kita block dua, muncul 5. Kita block 5 muncul 100. Block 200 muncul 500, ada terus. Dan kita tidak akan pernah berhenti," pungkasnya. 


Editor: Damar Fery Ardiyan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

KPK Serukan Penerapan Sertifikasi Sistem Manajemen Antisuap