Bagikan:

Ahli Curiga Vaksin AstraZeneca Batch CTMAV547 Terkontaminasi Bakteri

Tapi yang namanya manusia, mungkin ada batch yang lolos. Nah makanya supaya kita bisa menghilangkan keraguan itu, perlu dilakukan investigasi.

BERITA | NASIONAL

Jumat, 21 Mei 2021 15:51 WIB

Ahli Curiga Vaksin AstraZeneca Batch CTMAV547 Terkontaminasi Bakteri

Vaksin AstraZeneca.. (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Kalangan ahli menduga, vaksin COVID-19 AstraZeneca batch (kode produksi) CTMAV-547 terkontaminasi bakteri atau zat tertentu, sehingga justru membahayakan kesehatan orang yang divaksin.

Ahli biologi molekuler dari Universitas YARSI Jakarta Ahmad Rusdjan Utomo mengatakan dugaan itu muncul karena kasus kematian yang terjadi begitu cepat, usai seseorang disuntik vaksin AstraZeneca.

Ahmad curiga, cepatnya kasus kematian yang diduga usai disuntik vaksin AstraZeneca batch CTMAV-547, bukan karena respon imun pembekuan darah, juga bukan karena buruknya kualitas efek vaksin.

"Jadi kalau kita lihat ini kan sebetulnya vaksin ini kan diproduksi oleh perusahaan yang cukup berpengalaman ya. Dan mereka itu ketat sekali dalam good manufacturing practices, dalam GMP sangat ketat. Tapi yang namanya manusia, mungkin ada batch yang lolos. Nah makanya supaya kita bisa menghilangkan keraguan itu, perlu dilakukan investigasi. Dan BPOM sudah punya piranti-piranti yang mutakhir untuk bisa menentukan, apakah memang ada kontaminasi di situ," ujar Ahli Biologi Molekuler Ahmad Rusdjan Utomo kepada KBR (21/5/2021).

Meski begitu Ahmad mengingatkan masyarakat agar tetap tenang sambil menunggu hasil penyelidikan resmi dari Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI).

Terhadap pengujian toksisitas dan sterilitas vaksin AstraZeneca batch CTMAV-547, Ahmad menuturkan adanya perangai VIIPT yang gejala munculnya tidak langsung.

"Jadi begini. Kalau kita lihat dari literatur, memang ada yang namanya VIIPT. Vaccine-induced immune prothrombotic thrombocytopenia. Nah perangai VIIPT ini munculnya, gejala munculnya itu tidak langsung. Dia munculnya sekitar 4-5 hari pasca disuntik. Mengapa? Karena ini immune induced. Immune induced itu imun perlu waktu. Sementara dari data yang kemarin sempat heboh itu kan pemuda meninggal kurang dari 24 jam pasca disuntik. Nah kalau ini sangat cepat kurang dari 24 jam, memang saya bisa melihat kemungkinan bukan VIIPT. Walaupun kita juga masih belum tahu ya, karena hasil autopsinya belum keluar. Apakah memang terjadi pembekuan darah misalnya. Nah tapi saya duga kenapa kok ini lebih ke arah mungkin sterilitas, itu mungkin di batch yang ini itu ada kontaminan. Nah kontaminasi ini entah ini bakteri atau zat yang lain gitu ya, yang memang bisa menimbulkan reaksi hebat. Itu akan diselidiki apakah ada di situ gitu. Karena kejadian terlalu cepat. Karena kalau terlalu cepat, kemungkinan bukan VIIPT," urai Ahmad.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan menghentikan sementara distribusi dan pemberian suntik vaksin COVID-19 AstraZeneca batch CTMAV-547. Penghentian itu untuk pengujian sterilitas dan toksisitas vaksin, demi memastikan keamanannya.

Masyarakat Tak Perlu Khawatir

Pemerintah juga akan melakukan audit terhadap vaksin Covid-19 AstraZeneca usai ada dugaan terjadi kasus kematian pasca-vaksinasi. 

Juru bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan, audit dilakukan setelah proses investigasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) selesai.

BPOM saat ini tengah melakukan uji toksisitas dan sterilitas demi memastikan keamanan vaksin AstraZeneca batch CTMAV-547. Ia meminta masyarakat tidak khawatir dan takut mendapatkan vaksin AstraZeneca di luar batch yang dihentikan sementara. 

"Nah kalau kita lihat vaksin ini manfaatnya masih jauh lebih besar daripada efek samping yang ditimbulkan. Tapi pemerintah harus melakukan investigasi ataupun audit untuk kejadian imunisasi yang berat tadi. Supaya bisa segera dilakukan penanganan yang cepat ya," kata Nadia kepada KBR melalui sambungan telepon, Jumat (21/5/2021).

Siti Nadia mengklaim, sejak awal pemerintah sudah mengantisipasi kemungkinan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI). Untuk itu ketika ada dugaan KIPI atas vaksin AstraZeneca, pemerintah memilih menunda penggunaannya.

Dikatakannya, penghentian sementara ini dilakukan untuk kehati-hatian. Karena tengah dilakukan investigasi atas adanya kejadian fatal usai imunisasi.

Editor: Fadli Gaper

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Catatan untuk TNI

Most Popular / Trending