Share This

Ekstrawaspada

Fakta bahwa aksi bom Surabaya melibatkan anak-anak membuat kita harus ekstra waspada.

OPINI , EDITORIAL

Senin, 14 Mei 2018 05:57 WIB

Aksi solidaritas menolak radikalisme dan terorisme

Aksi solidaritas menolak radikalisme dan terorisme di Batam, Kepulauan Riau, mendoakan para korban ledakan bom di Surabaya serta dukungan untuk Polri dan TNI. (Foto: Antara/M N Kanwa).

Semua aksi terorisme adalah sebuah kebiadaban. Serangan dilancarkan. Sejumlah manusia yang tak tahu apa-apa lantas jadi korban. Hidup mereka direnggut begitu saja atas dasar keyakinan sekelompok teroris yang tak punya rasa kemanusiaan ini. Menyebar takut tanpa hati. 

Indonesia berduka. Dan duka itu mengoyak kembali luka lama akan serangan terorisme sebelumnya. Apalagi diperkirakan bom Surabaya ini bukan yang terakhir. Badan Intelijen Negara menyebut kericuhan di Rutan Mako Brimob sebagai momentum untuk ‘serangan bergelombang’ yang ‘membangunkan sel-sel tidur terorisme’. Pelaku Bom Surabaya sudah dipastikan adalah Jaringan Ansharut Daulah, yang berafiliasi dengan ISIS. Pola-pola serangan ala ISIS disebut terlihat dalam aksi terorisme di Mako Brimob, juga tiga gereja di Surabaya. Di Indonesia, polisi jadi sasaran lantaran dianggap sebagai thagut atau setan. 

Fakta bahwa aksi bom Surabaya melibatkan anak-anak membuat kita harus ekstrawaspada. Betapa ide terorisme begitu mudah dibisikkan lewat ruang-ruang gelap, lewat kelompok percakapan daring atau media sosial, bahkan dibangun dalam keluarga, lantas menggumpal jadi niat melakukan aksi bom bunuh diri. Ini generasi teroris baru, kata pengamat terorisme Noor Huda Ismail, ketika propaganda terorisme disebarkan lintas batas lewat internet. 

Karena itu, penyelesaiannya juga harus dari multidimensi. Keluarga mesti memainkan peran, dengan menekankan pentingnya merangkul perbedaan karena itu adalah esensi umat manusia. Bahwa kebencian terhadap mereka yang dianggap berbeda hanya akan membawa keburukan dan luka. Seperti disampaikan Paus Fransiskus di Vatikan kemarin siang untuk korban bom Surabaya: supaya di hati semua orang tidak ada perasaan kebencian dan kekerasan, tapi rekonsiliasi dan persaudaraan. 

 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.