Simposium Tragedi 65, Luhut: Rekomendasi Bisa Berubah

"Itu kan masih dalam bentuk draf. Bisa aja seperti itu, bisa aja perbaikan,"

BERITA | NASIONAL

Jumat, 20 Mei 2016 20:30 WIB

Author

Ria Apriyani

Simposium Tragedi 65, Luhut: Rekomendasi Bisa Berubah

KBR, Jakarta- Poin rekomendasi penyelesaian kasus 65/66 disinyalir akan berubah di tingkat pembahasan Kemenkopolhukam. Kata Menkopolhukam Luhut Binsar Panjaitan, ada perbaikan yang dilakukan terhadap rekomendasi.

Namun Luhut masih enggan dikonfirmasi soal isi dari poin-poin rekomendasi.

"Draf yang itu masih dalam proses perbaikan. (Benar ada soal rehabilitasi dan penyesalan?) Ya itu kan masih dalam bentuk draf. Bisa aja seperti itu, bisa aja perbaikan," jawab Menteri Luhut, Jumat(20/5/2016).

Luhut melanjutkan." (Rekomendasi tidak dibuka ke publik karena takut ada penolakan dari pihak lain?) Ya itu kita lihat nantilah keputusan Presiden ketika final report sudah diterima presiden."

Luhut menegaskan dia tidak mau menarik presiden masuk ke dalam pusaran konflik penyelesaian 65/66. Ia juga mengatakan, jika tidak perlu, soal 65/66 ini akan ditangani oleh Kemenkopolhukam saja.

"Kita tidak ingin membawa presiden kepada polemik. Jadi kalau nanti kita anggap ga perlu ke presiden, ya kita aja."

Sebelumnya, upaya  mencari penyelesaian 65/66 mendapat tentangan. Simposium Membedah Tragedi 65/66 yang didukung kantor Menkopolhukam di Hotel Aryaduta bulan lalu diprotes kelompok anti komunisme.

Pekan lalu, sejumlah purnawirawan TNI dan ormas keagamaan berkumpul di Balai Kartini. Mereka mempertanyakan motif pemerintah mengadakan simposium dan mengusahalan rekonsiliasi dengan para penyintas serta keluarganya. Purnawirawan TNI Kiki Syahnakrie menuding pemerintah terlalu mengakomodir kelompok kiri. Rencananya, mereka akan mengadakan simposium tandingan bulan depan. 

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Belgia Kewalahan Hadapi Gelombang Pandemi

Penerimaan Masyarakat terhadap Vaksin Covid-19 Masih Rendah

Ronde 6 - Petani Tembakau

Kabar Baru Jam 8