Share This

Protes Pabrik Semen, Petani Kendeng Gelar Aksi Damai di Kedubes Jerman

“Kenapa ini harus diperjuangkan, karena ini adalah rumah kita, tempat kita beraktivitas, tempat kita melangsungkan hidup dan kemudian bisa menjaga sebuah keberlangsungan bangsa dan generasi."

BERITA , NUSANTARA

Senin, 16 Mei 2016 14:35 WIB

Aksi petani perempuan Kendeng di depan Istana Negara meminta Presiden Jokowi menghentikan pembangunan pabrik semen. Foto: KBR.

KBR, Jakarta - Masyarakat tani yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) meminta Kedutaan Besar Jerman turun tangan menghentikan pembangunan pabrik semen. Permintaan itu dilayangkan lewat aksi damai di depan Kedubes Jerman, Jakarta, Senin (16/5/2016).

Aksi dilakukan yang dilakukan sekitar 30 orang itu terdiri dari ibu-ibu petani Gunung Kendeng Utara, beberapa tokoh masyarakat Kendeng, dan juga dibantu seniman seperti Band Marjinal. Dalam aksi tersebut, mereka menyatakan memprotes dan menolak PT. Sahabat Mulia Sakti (SMS) yang merupakan anak perusahaan PT. Indocement Tunggal Prakarsa.

“Walaupun ini belum terjadi kerusakan di sana sudah sangat tidak bisa tergantikan. Contoh rusaknya sosial budaya, warga yang dulunya guyup rukun, itu sekarang renggang dan seperti musuh-musuhan karena ada yang setuju adanya pabrik semen, dan dari PT SMS selalu mengucurkan dana CSR-nya,” hal ini disampaikan oleh Ibu Gunardi (41), selaku perwakilan aksi.

Gunardi juga menambahkan, daerah Gunung Kendeng adalah daerah pertanian yang subur, hasil bumi yang dihasilkan Jawa Tengah, termasuk Gunung Kendeng adalah sentra penghasil pangan untuk Indonesia.

Upaya unjuk rasa dan advokasi oleh JMPPK, sengaja dilakukan di depan Kedutaan Besar Jerman dengan alasan, 51 persen saham PT. Indocement Tunggal Prakarsa, dimiliki oleh Heidelberg Cement AG, sebuah perusahaan dari Jerman. Sehingga diharapkan Kedutaan Besar Jerman bisa membantu mengadvokasikan masalah ini langsung.

“Kenapa ini harus diperjuangkan, karena ini adalah rumah kita, tempat kita beraktivitas, tempat kita melangsungkan hidup dan kemudian bisa menjaga sebuah keberlangsungan bangsa dan generasi. Itu kan patut diperjuangkan,” ujar Mike “Marjinal” yang juga mengikuti dan mendukung aksi hari ini.

Aksi ditutup dengan bernyanyi bersama lagu yang diciptakan grup Band Marjinal. Massa juga berencana berangkat ke kantor Kementerian ESDM, untuk advokasi lanjutan.



Editor: Quinawaty Pasaribu 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.