Pengamat Militer: Sweeping Buku Bukan Kewenangan Tentara

"Apakah buku-buku itu dianggap anti-Pancasila? Itu harus jelas dan itu bukan tugas militer untuk sweeping. Mesti ditetapkan dulu instansi yang berwenang yaitu Kemendikbud."

BERITA | NASIONAL

Kamis, 12 Mei 2016 13:41 WIB

Author

Quinawati Pasaribu

Pengamat Militer: Sweeping Buku Bukan Kewenangan Tentara

Buku yang disita dari kamar aktivis AMAN di Ternate, Maluku Utara. Foto: Twitter.

KBR, Jakarta - Pengamat militer Usriful Usman menyebut aksi sweeping atau penyisiran buku-buku yang dianggap berkaitan dengan paham komunis, bukan tugas tentara. Melainkan, kewenangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

"Apakah buku-buku itu dianggap anti-Pancasila? Itu harus jelas dan itu bukan tugas militer untuk sweeping. Mesti ditetapkan dulu instansi yang berwenang yaitu Kemendikbud. Sayangnya tak ada komentar dari Mendikbud," pungkas Usriful pada KBR, Kamis (12/5/2016).

Ia juga mengatakan, TNI dan Kepolisian tak bisa menyita buku-buku tersebut dengan dalih TAP MPRS No 25 Tahun 1966. Sebab, TAP MPRS itu melarang kegiatan organisasi PKI, bukan buku-buku yang merupakan hasil pikir manusia. "Berbeda antara buku lalu teater yang merupakan hasil pikir. Tapi dicap langsung. Ini karena tak ada ketegasan dari pusat," katanya.

Meski begitu, lanjutnya, TNI bisa diminta bantuan oleh Kepolisian dalam hal-hal tertentu, semisal penangkapan teroris. Hanya saja, perbantuan itu harus jelas sehingga tak menimbulkan keresahan di masyarakat.

"Perbantuan harus jelas pada bidang apa dan isinya, karena itu kan tugas polisi. Semisal perbantuan teroris. Tapi itu memang abu-abu. Asal jelas legal standarnya, boleh-boleh saja. Menurut saya sih polisi sanggup tak perlu minta perbantuan," kata Usriful.


Rentetan Sweeping Buku dan Kaus oleh TNI

Di berbagai daerah, sejumlah penerbit buku didatangi tentara. Toko Buku Ultimus Bandung misalnya, April lalu disambangi tentara. Kedatangan anggota TNI itu menanyakan tentang buku-buku yang dijual Ultimus, apakah ada yang mengandung komunis atau berkaitan dengan PKI atau tidak. "Mereka sih bilangnya hanya mau silaturahmi, tapi silaturahmi basa-basi," kata salah satu pengurus Ultimus Bookstore.

Begitu pula Resist Book, Yogjakarta. Pada Selasa (10/5/2016) siang, mereka didatangi tentara. "Siang sekitar pukul 11.00-13.00 WIB," kata Titis lewat pesan singkat pada KBR.

Sementara di Ternate, Kodim 1501 Ternate menyita lima buku milik aktivis Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Di antaranya, Nalar yang memberontak (filsafat Maxisme), Investigasi Tempo “Lekra dan Geger 1965”, dan Orang yang di persimpangan Kiri Jalan.

Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Antisipasi Arus Balik Pemudik ke Jakarta