Korban HAM 65 dan Mei 98 Ajukan Gugatan Materi UU Pengadilan HAM

Mereka menganggap UU itu menghambat kerja penyidikan dan penuntasan kasus pelanggaran HAM

BERITA | NASIONAL

Kamis, 21 Mei 2015 20:35 WIB

Author

Yudi Rachman

Korban HAM 65 dan Mei 98 Ajukan Gugatan Materi UU Pengadilan HAM

Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan melakukan aksi Kamisan di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Kamis (30/4). Pada aksinya ke-395 itu mereka mendesak Presiden Jokowi untuk menunjukan komitme

KBR, Jakarta- Korban pelanggaran HAM 65 dan Mei 98 menyebut UU pasal 20 ayat 3 Undang-Undang No 26 tahun 2000 soal Pengadilan HAM, menghambat kerja penyidikan dan penuntasan kasus pelanggaran HAM melalui meja peradilan. Ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1995/1996 (YPKP65) Bedjo Untung mengatakan berkas hasil penyelidikan yang dilakukan Komnas HAM ke Kejaksaan Agung tidak bisa dilanjutkan karena terganjal pasal tersebut. Karena itu dia berharap Mahkamah Konstitusi mengabulkan uji materi soal pembentukan peradilan ham Adhoc.

"Setelah disampaikan kepada Kejaksaan Agung, Kejaksaan mengembalikan lagi, itu sampai tiga kali bolak balik dengan alasan yang tidak jelas. Ada yang bilang alasan administrasi dan sebagainya. Korban 65 memiliki kepentingan supaya hasil penyelidikan Komnas HAM itu ditindaklanjuti karena itu sebagai pintu masuk untuk penyelesaian kasus 65," jelas Ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1995/1996 (YPKP65) Bedjo Untung di Gedung Mahkamah Konstitusi, Kamis (21/5/2015). 

"Meskipun ada yang mengatakan penyelesaian kasus 65 itu melalui non yudisial tetapi tidak ada salahnya apabila kita menemukan fakta dan cukup bukti maka perlu juga dibentuk pengadilan HAM Adhoc kasus 65 sehingga ada penjeraan bagi pelaku," jelasnya lagi.

Sebelumnya, LSM HAM Kontras dan beberapa korban pelanggaran HAM 1965, korban pelanggaran HAM Mei 1998 mengajukan uji materi pasal 20 ayat 3 Undang-Undang No.26 tahun 2000 ke Mahkamah Konstitusi. Pengajuan uji materi pasal dalam UU tersebut akan memberikan kepastian hukum dan memungkinkan pelaku pelanggar HAM bisa diadili melalui pengadilan HAM Adhoc.

Editor: Dimas Rizky


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17