Kalau Tak Ada yang Bergerak, Kasus Ini Akan hilang

17 tahun berlalu, tapi semangat Ruyati tak pernah padam untuk terus menuntut keadilan kepada pemerintah.

BERITA | PILIHAN REDAKSI | NASIONAL | REFORMASI HUKUM DAN HAM

Senin, 11 Mei 2015 15:00 WIB

Author

Eka Jully

Kalau Tak Ada yang Bergerak,  Kasus Ini Akan hilang

Ruyati Darwin, saat berbincang di studio KBR, pada program Reformasi Hukum dan HAM, Senin 11 Mei 2015. (foto : KBR)

KBR, Jakarta - Pekan ini, kita memperingati Tragedi Kerusuhan Mei 1998. Sudah 17 tahun peristiwa itu terjadi, belum juga ada titik terang penuntasannya oleh pemerintah.


Ruyati Darwin, Ibunda Almarhum Eten Karyana, Mahasiswa Fakultas Sastra Prancis Universitas Indonesia yang tewas pada tragedi 1998, tak pernah lelah berjuang untuk menuntut keadilan. Eten, tewas terbakar ketika berusaha menolong anak kecil yang terjebak dalam kerusuhan di Mall Klender Jakarta Timur (sekarang Citra Mall). Sampai saat ini, meski usianya sudah 67 tahun, Ruyati, masih berharap ada usaha dari pemerintah untuk menguak kasus ini.


Kepada KBR, ia menceritakan kesedihan dan perjuangannya.


Saya tau kabar anak saya meninggal di Mall Klender, Jakarta Timur, dari TV. Katanya, ada abu yang dimasukkan ke dalam kantong plastic. Di dalam abu yang dikantongi plastic itu, ada dompet yang tidak terbakar, KTP dan kartu-kartu/identitas tidak terbakar. KTP itu atas nama Eten Karyana, beralamat di Penggilingan, anak saya,” ujarnya saat berbincang bersama KBR pada program Reformasi Hukum dan HAM, Senin (11/5/2015).


Sebelumnya, Eten memang tidak pulang pada kerusuhan tersebut, saya pikir dia sudah dewasa, bisa menjaga dirinya sendiri. Sampai akhirnya keluarga saya panik, karena Eten tidak pulang, hingga mendengar kabar kematian anak saya dari TV,” tambahnya.


Meskipun Ruyati sudah mengikhlaskan kepergian anak yang menjadi tumpuan hidupnya, namun perjuangan belum berhenti. Berbagai cara sudah ia lakukan, agar kasus ini segera diusut. Ombudsman sudah ia datangi untuk mengadukan masalah ini. Sudah banyak pula curahan hati yang dilayangkan melalui puluhan surat kepada mantan Presiden SBY dan Presiden Jokowi. Bertatap muka dengan SBY pun sudah dilakukan, walau hanya janji-janji belaka yang ia dapatkan.


Teman-teman saya sudah lelah berjuang, karena tak ada hasilnya. Pak SBY cuma janji melulu, buktinya sampai sekarang tak ada hasilnya. Kalau saya tidak berjuang dan bergerak, bagaimana nanti kasusnya? Takutnya kalau tak ada yang eksis, nanti kasus Mei’ 98 ini akan hilang, karena sampai saat ini belum ada kepastian dari pemerintah,” jelasnya.


Saya harus berjuang untuk menuntut keadilan, demi mereka-mereka yang sudah jadi korban. Demi ibu–ibu yang sudah kehilangan anak, suami, saudara, adik dan kakak. Saya sudah berumur 67 tahun, betapa saya lelah dan capek. Tapi, saya tidak peduli, yang penting saya dikasih kesehatan. Saya akan tetap berjuang, sampai terwujud keadilan, sampai pemerintah mengakui siapakah pelakunya itu.”


17 tahun bukanlah waktu yang singkat. Namun Ruyati tetap bersemangat. Jeritan hati seorang ibu yang ingin membela anaknya, mengobarkan semangatnya, mengalahkan segalanya.


Bukan hanya saja yang kehilangan anak. Banyak. Saya mewakili orang-orang yang mengalami nasib seperti saya. Supaya kami mendapat perhatian dari negara. Negara harus bertanggung jawab atas peristiwa yang maha dahsyat itu,” tegas Ruyati.


Editor: Malika

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Stephanie: Mengubah Stigma Menjadi Empati