Simposium Tragedi 1965, Anak D.I. Pandjaitan: Kalian Sakit, Saya Juga

Catherine Pandjaitan sebetulnya tidak lagi mau bersaksi mengenai G30S yang menewaskan orangtuanya, D.I. Pandjaitan. Buatnya ini sudah selesai. Tetapi ia kembali bersaksi di Simposium Nasional

BERITA | NASIONAL

Senin, 18 Apr 2016 17:17 WIB

Author

Damar Fery Ardiyan

Simposium Tragedi 1965,  Anak D.I. Pandjaitan: Kalian Sakit, Saya Juga

Catherine Pandjaitan saat menyampaikan pandangan dalam Simposium Nasional mengenai tragedi 1965/66 di Jakarta. (Sumber: Youtube)

KBR, Jakarta - Sekitar pukul 04.00 WIB pada 1 Oktober 1965, Catherine Pandjaitan terbangun karena derap lars tentara yang masuk melalui brandgang (lorong)  rumah di Jalan Sultan Hasanuddin, Jakarta. Ia melihat sejumlah tentara bersenjata dari balik jendela. Mereka berteriak mencari Mayor Jenderal, Donald Isaac Pandjaitan, ayahnya, di lantai dasar rumah tersebut.

Derapan dan teriakan tersebut jelas membuatnya terperanjat takut. Saking takutnya, ia mengendap temui sang Jenderal di dalam kamar. Yang dicari sudah terbangun. "Di atas saya melihat ayah tengah mengokang senjata," kisah Catherine di Simposium Nasional Tragedi 1965/66 di Jakarta, Senin, 18 April 2016.

Di dalam kamar, Catherine pun sempat menanyai kepungan tentara tersebut. Namun, Pandjaitan bergeming di tengah bising letupan senjata.

"Siapa yang suruh?" Teriak Panjaitan dari balik kamar. Menurut Catherine, salah satu dari mereka menyaut pendek "Paduka yang Mulia." Ia menganggap ungkapan itu merujuk pada Presiden Soekarno.

Itu sebab, Panjaitan memutuskan untuk menemui pasukan tersebut di teras rumahnya. Ia turun sambil menenteng sepatu, tongkat dan topi terselip di ketiak. 

"Saya mau ikut, kata bapak saya jangan ada yg turun," lirih Catherine.

Mendengarkan perintah itu, Catherine beranikan mengendap ke balkon. Dari situ, ia melihat Panjaitan yang menolak untuk memberi hormat kepada pasukan tersebut. Dan "Door," peluru menembus kepala Mayjen.

"Saya langsung lari ke bawah. Tetapi jasadnya sudah tidak ada, hanya tampak bekas seretan darah. Saat itu, saya hanya bisa memukul dada," ungkap Catherine yang saat itu usia 17 tahun.

Sejak saat itu, kehidupan Catherine berubah. Ia mengaku sempat melakukan percobaan bunuh diri, meminum obat tidur berlebihan, hingga berkonsultasi ke psikiater.

"Saya disarankan tidak tinggal lagi di sana," saran psikiater saat itu.

Hingga kemudian, ia kembali terbang ke Jerman dengan bantuan kerabat keluarga yang kebetulan menjadi Duta Besar di sana.

"Saya benci Indonesia. Saya di sana disekolahin, tetapi keluar-masuk sekolah," ujarnya.

Keluarga Padjaitan memang pernah meninggali rumah di Bonn, salah satu kota di Jerman. Mereka tinggal di sana sejak 1957, hingga kembali ke tanah air pada 1964, beberapa bulan sebelum G30S terjadi. Pada simposium tersebut, Catherine sempat menyesali kepulangan ini. Meski berat, ia mengaku telah berdamai dengan masa lalu saat ini.

"Saya masih nangis sampai sekarang. Liat keluarga Jenderal lain hidupnya senang. Saya juga sakit, bukan hanya kalian (red-korban)," imbuhnya 


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 20

Pemerintah akan Evaluasi Peningkatan Serapan Anggaran

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18