Bagikan:

Ratusan Nelayan Muara Angke Segel Pulau Reklamasi

Mereka membawa gembok raksasa dari styrofoam sebagai simbol penyegelan pulau yang disebut Pulau Siluman itu.

BERITA | NASIONAL

Minggu, 17 Apr 2016 17:31 WIB

Author

Rio Tuasikal

Ratusan Nelayan Muara Angke Segel Pulau Reklamasi

Nelayan segel pulau reklamasi di Jakarta. Foto Rio Tuasikal

KBR, Jakarta - Ratusan nelayan Muara Angke, Jakarta, siang tadi menyegel Pulau G hasil reklamasi. Ratusan nelayan laki-laki, perempuan dan anak, datang dengan belasan perahu ke pulau tersebut.

Mereka membawa gembok raksasa dari styrofoam sebagai simbol penyegelan pulau yang disebut Pulau Siluman itu. Mereka membentangkan  belasan spanduk penolakan dan berorasi, hingga sempat dihadang petugas keamanan pulau.

Wakil Ketua Kerukunan Masyarakat Nelayan Muara Angke, Sugiyanto, membacakan deklarasi di tengah-tengah pulau.

"Kerukunan Masyarakat Nelayan Muara Angke beserta seluruh jajarannya, dan warga di Teluk Jakarta, melakukan penyegelan hari ini," pekiknya disambut teriakan warga.

"Mulai detik ini tidak ada lagi pekerjaan reklamasi. Kami berharap Jokowi menghentikan. Ahok tolong dengar," tambahnya.

Sementara puluhan petugas keamanan akhirnya hanya bisa melihat aksi tersebut.

Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Riza Damanik mengatakan pemerintah harus segera menyegel Pulau G secara resmi. "Jika pemerintah diam, kewibawaan mereka runtuh," ujarnya di sela sela aksi.

Aksi ini dilakukan setelah DPRD DKI Jakarta sepakat menghentikan pembahasan Raperda tentang reklamasi Teluk Jakarta, ditambah Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang bersama Komisi IV DPR meminta proses reklamasi dihentikan sementara.

Kamis ini, sidang gugatan izin Pulau G akan berlanjut di PTUN Jakarta dengan agenda pembuktian. Pengacara LBH Jakarta, Tigor Hutapea, berharap keputusan DPRD DKI Jakarta dan DPR membuat pengadilan memenangkan nelayan.


Editor: Sasmito Madrim

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Menyongsong Terbitnya Rupiah Digital

Episode 4: Relasi Kuasa: Akar Kekerasan & Pengaturannya Dalam UU TPKS

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Mendorong Vaksinasi Booster untuk Antisipasi Kenaikan Kasus Covid-19 di Akhir Tahun

Most Popular / Trending