Pasca Pembubaran Lady Fast, Forum Jogja Damai Desak Pemda Lindungi Kebebasan Berekspresi

"Ini tidak bisa dibiarkan, karena Jogja butuh ruang damai untuk berpendapat, dan Jogja kehilangan itu."

BERITA | NASIONAL

Senin, 04 Apr 2016 16:42 WIB

Author

Febriana Shinta Sari

Pasca Pembubaran Lady Fast, Forum Jogja Damai Desak Pemda Lindungi Kebebasan Berekspresi

Pembubaran acara Lady Fast oleh polisi dan ormas. (Foto: FB Kolektif Betina)

KBR, Yogyakarta- Aktivis yang tergabung dalam Forum Solidaritas Jogja Damai, mengutuk aksi pembubaran paksa acara Lady Fast yang dilakukan ormas yang mengatasnamakan agama Islam. Salah satu anggota Forum Solidaritas Jogja Damai, Sukiratnasari prihatin dengan  adanya modus baru yang dilakukan polisi yang hadir saat kejadian tapi justru membiarkan terjadinya kekerasan.

"Ini tidak bisa dibiarkan, karena Jogja butuh ruang damai untuk berpendapat, dan Jogja kehilangan itu. Itu sangat menyedihkan dengan semakin banyaknya kejadian yang terjadi di Jogja," ujar Sukiratnasi
yang akrab dipanggil Kiki.

Kiki mengajak aktivis  melakukan langkah penolakan kekerasan yang berbasis agama, dan melakukan langkah progresif.

Hal yang sama disampaikan juga anggota Forum Solidaritas Jogja Damai, Anang. Menurut dia di Jogja saat ini sudah terlalu banyak kejadian pemaksaan yang dilakukan ormas mengatasnamakan agama.

"Saat ini di Jogja ruang berekspresi sudah mati, karena banyaknya ancaman yang dilakukan."

Untuk itu, dirinya mendesak kepada pemerintah daerah  dapat melindungi aktivitas untuk berekspresi dan menghilangkan kegiatan paksaan dan ancaman .

Aparat kepolisian bersama puluhan orang dari Forum Umat Islam (FUI) dan Front Jihad Islam membubarkan acara Lady Fast 2016 di ruang komunitas seni Survive Garage, Bugisan, Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada Sabtu (2/4/2016) malam. Acara itu dibubarkan karena tidak memiliki izin, dan dinilai mengganggu kenyamanan masyarakat. 


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Mengenang Sosok Artidjo Alkostar

Kabar Baru Jam 8

Hari Musik Nasional dan Strategi Musisi Mencari Panggung

Kabar Baru Jam 7