Korban Tragedi 1965 Sudah Siapkan Orang Terbaik Hadapi Simposium

Salah satu cucu korban yang akan hadir dalam simposium, Baja Suseno, pihaknya telah memilih 15 orang terbaik untuk berbicara di depan simposium itu.

BERITA | NASIONAL

Minggu, 17 Apr 2016 21:01 WIB

Author

Wydia Angga

Korban Tragedi 1965 Sudah Siapkan Orang Terbaik Hadapi Simposium

Aksi menuntut penuntasan kasus pelanggaran HAM. Antara Foto

KBR, Jakarta - Korban tragedi 1965 mengaku sudah memiliki persiapan yang maksimal untuk menghadapi simposium  1965 yang akan digelar besok di Jakarta. Salah satu cucu korban yang akan hadir dalam simposium, Baja Suseno, pihaknya telah memilih 15 orang terbaik untuk berbicara di depan simposium itu.

Meski demikian, kata Baja, sikap korban tetaplah menuntut adanya pengadilan HAM ad-hoc. Karena menurut dia, jalur non yudisial tak akan bisa ditempuh sebelum hak para korban dipulihkan.

"Sepertinya kita masih akan dikalahkan ya, karena kan yang dominan kan mereka, yang berkuasa masih mereka jadi ini seolah pemerintah peduli terhadap kita, hanya seolah-olah, tapi kita tetap berusaha untuk berjuang semaksimal mungkin," ungkap Baja kepada KBR (17/4/2016)

Sebanyak 15 korban diundang hadir dalam simposium nasional yang dimulai esok. Mereka diberi kesempatan menceritakan tragedi yang menimpanya, sekaligus pembuktiannya. Baja sebenarnya tidak puas dengan pembatasan jumlah dan waktu yang diberikan namun pihaknya akan menggunakan kesempatan tersebut semaksimal mungkin untuk mengungkapkan fakta yang mereka miliki.

"Bukti-bukti bahwa benar-benar terjadi pembantaian massal, data-data korban, terjadi perbudakan, pemerkosaan itu ada datanya di kami lengkap. Selama ini kan Jaksa Agung selalu mengembalikan data-data yang sudah diajukan dari pihak kami. Selalu itu katanya kurang lengkap-kurang lengkap ya memang Jaksa Agung itu tidak pernah ada itikad baik untuk menuntaskan kasus ini," ungkapnya.  

"(Tapi tetap yang diinginkan pengadilan Adhoc?) Betul. Tidak ada ampun. Tidak ada tawar menawar. Harga mati," pungkas Baja.  

Selama dua hari yakni Senin-Selasa Tanggal 18-19 April 2016, bakal digelar simposium soal tragedi 1965. Ketua Panitia Pengarah Simposium, Agus Widjojo mengklaim kegiatan ini adalah kali pertama korban dan pelaku di pertemukan.

Meski acara yang berkaitan dengan pembantaian massal 1965/1966 ini resmi diselenggarakan pemerintah, namun pertemuan Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan YPKP 65 demi menyatukan suara sebelum bicara di depan simposium dibubarkan. Gabungan ormas intoleran mendesak acara yang dituding menghidupkan paham komunis itu dibatalkan. 

Sementara itu, Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) mengkritik rencana simposium ini. Menurut Koordinator Kontras,  Haris Azhar, pemerintah seharusnya membuat Komite Kepresidenan dalam rangka menyelesaikan pelanggaran HAM berat di masa lalu, bukan simposium.  

Editor: Sasmito Madrim

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Polisi Sebut Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan Beraksi Sendiri