Bagikan:

Kebijakan Dinilai Merugikan, Ribuan Nelayan Bakal Kepung Istana dan KKP

"Karena dampak setahun lebih itu sekarang sudah tercipta pengangguran nelayan sekitar 1.162 ribu orang."

BERITA | NASIONAL

Selasa, 05 Apr 2016 19:45 WIB

Author

Yudi Rachman

Kebijakan Dinilai Merugikan, Ribuan Nelayan Bakal Kepung Istana dan KKP

Ilustrasi (Foto: Antara)

KBR, Jakarta- Ribuan nelayan besok akan melakukan aksi unjuk rasa menuntut perubahan kebijakan di sektor perikanan dan nelayan tradisional. Menurut Ono Surono, salah satu Kordinator aksi Gerakan Nasional Masyarakat Perikanan Indonesia (Gernasmapi), kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti selama menjabat dinilai gagal mensejahterakan nelayan.

Kata dia, banyak kebijakannya yang merugikan nelayan tradisional. Kebijakan-kebijakan yang merugikan itu adalah masalah penggunaan jaring pukat hingga masalah transhipment, hingga penangkapan kepiting, rajungan, dan lobster.

"Tema aksi besok adalah Hari Nelayan tanpa Melaut, ke Laut untuk Rakyat.  Tetapi yang saya tahu, aksi ini ada dua titik, yang pertama di Kementerian Kelautan dan Perikanan, kedua di istana,"  jelas Ono Surono, salah satu Kordinator aksi Gerakan Nasional Masyarakat Perikanan Indonesia (Gernasmapi) kepada KBR, Selasa (05/04). 

Ono melanjutkan, "karena dampak setahun lebih itu sekarang sudah tercipta pengangguran nelayan sekitar 1.162 ribu orang. Devisa kita yang hilang sekitar 876 juta dollar Amerika. Nilai ekspor kita turun sampai 37.5% dibandingkan tahun 2014."

Ono yang juga anggota Komisi IV DPR dari Fraksi PDIP itu menambahkan, aksi nelayan ini merupakan bentuk protes dari nelayan yang selama ini tidak pernah didengar dari tingkat daerah hingga pusat.

"Kenapa sekarang mereka aksi kembali. Karena, komunikasi dengan nelayan ini tidak pernah dibuka oleh Menteri Susi. Tidak pernah ada dialog, tidak pernah menjawab surat yang dilayangkan nelayan maupun kepala daerah. Sehingga terjadi akumulasi kekecewaan dari nelayan dan mereka ingin menyampaikan aspirasi kepada Presiden secara langsung," tambahnya.

Editor: Rony Sitanggang 

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Pengungsi dan Persoalan Regulasi di Indonesia