Dituding Fasilitasi Komunis, Simposium 65 Ditolak

Rencananya, Front Pancasila bakal mendatangi Hotel Aryaduta, apabila Simposium tetap berlangsung Senin besok.

BERITA | NASIONAL

Sabtu, 16 Apr 2016 17:58 WIB

Author

Ninik Yuniati

Dituding Fasilitasi Komunis, Simposium 65 Ditolak

Partai Komunis Indonesia PKI. (Foto: kvltzine.com)

KBR, Jakarta - Front Pancasila menolak penyelenggaraan Simposium Nasional Tragedi 65/66. Ketua OC Front Pancasila Shidki Wahab menuding acara tersebut diselenggarakan oleh kelompok berpaham komunisme yang, difasilitasi pemerintah. Selain itu, kata dia, konsep Simposium itu tak berimbang lantaran tidak membahas korban-korban kejahatan PKI.

"Ini diselenggarakan oleh komunis, kalau Front Pancasila melihatnya, difasiltiasi oleh pemerintah, kita maunya semua unsur yang memang mengerti, mengalami juga. Jadi bukan yang mengalami, mendapat siksaan. Tapi yang di pesantren, yang ayahnya jadi korban, itu dicari juga. Kalau mau benar ya dilakukan secara komprehensif, bukan tiba-tiba sudah ada, dan yang diundang yang tertentu saja" kata Shidki kepada KBR, Sabtu (16/4).

Shidki Wahab memandang acara Simposium sebetulnya tidak perlu dilakukan. Ini karena, korban pelanggaran HAM 65/66 telah diterima masyarakat dan dihormati hak-haknya.

"Kita sudah bisa hidup biasa dengan mereka, bermasyarakat, hak-hak politik mereka sudah berjalan, misalnya KTP sudah tidak ada lagi ditanda-tanda. Sudah jadi anggota DPR, DPRD, gubernur, walikota, nggak masalah bagi kita" ungkap Shidki.

Shidki mengaku telah menyampaikan protes tersebut kepada pemerintah. Front Pancasila, kata dia, akan tetap menolak apabila Simposium tetap terselenggara. Namun, ia memastikan takkan melakukan kekerasan dalam menyampaikan protes.

"Kita coba menunjukkan bahwa kita tidak setuju itu terselenggara dengan cara yang baik-baik saja" ujar dia.

Rencananya, Front Pancasila bakal mendatangi Hotel Aryaduta, apabila Simposium tetap berlangsung Senin (18/4) pekan depan. Namun, Shidki memastikan ratusan massa yang akan hadir tidak akan melakukan kekerasan.

"Rencananya begitu (aksi di Aryaduta-red). Ratusan (massa) kalau daerah-daerah jadi masuk bisa ribuan. Kita coba menunjukkan bahwa kita tidak setuju itu terselenggara dengan cara yang baik-baik saja" kata dia.

Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Saga Akhir Pekan KBR

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18