Rektor Beredel Redaksi 'Suara USU', Homofobia Kampus Menuai Kecaman

“Banyak akademisi ini tidak bisa membedakan di mana dia jadi ilmuwan dan di mana Jadi penganut agama itu."

NASIONAL

Rabu, 27 Mar 2019 08:25 WIB

Author

Anugrah Andriansyah, Dwi Reinjani

Rektor Beredel Redaksi 'Suara USU', Homofobia Kampus Menuai Kecaman

Ilustrasi: Peringatan Hari Internasional Melawan Homofobia di bundaran HI. (Foto: Antara)

KBR, Jakarta–  Pendiri yayasan GAYa NUSANTARA sekaligus akademisi universitas Airlangga, Dede Oetomo menyatakan keprihatinannya, terhadap sikap Rektor Universitas Sumatera Utara, Runtung Sitepu. Menurut Dede, sikap Runtung yang mempermasalahkan karya cerpen tentang LGBT berjudul 'Ketika Semua Menolak Kehadiran Diriku di Dekatnya', menunjukan bahwa ia tidak mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.

Menurut Dede dalam kehidupan sosial LGBT sudah diakui sebagai suatu kelompok,   universitas seharusnya mengajarkan mahasiswa untuk menerima hal itu.

"Saya agak sedih ya sebagai sesama pengajar di Universitas. Universitas harusnya menjadi perintis   perkembangan ilmu, (tapi) penerimaan seperti itu ya. Ini kan berarti rektor USU ini tidak mengerti perkembangan ilmu itu  menyedihkan. Sekarang gini aja deh kita belajar sosiologi yang dasar dari buku teks bahasa Indonesia sudah ada tentang LGBT kan karena itu suatu golongan," ujar Dede, saat dihubungi KBR, Selasa (26/03/2019).

Dede mengatakan, bahwa saat ini fobia akan golongan LGBT di universitas khususnya semakin meningkat. Para akademisi dinilai tidak bisa membedakan dirinya antara ilmuan atau akademisi dengan penganut agama. Sehingga kebanyakan dunia pendidikan menutup mata dan menganggap tabu hal-hal yang berhubungan dengan LGBT.

"Saya tidak tahu rektor USU ini keilmunya apa, tapi kalau di ilmu psikiater, psikologi bukan lagi dianggap sebagai ini (hal yang aneh). Bahkan kemudian banyak akademisi  ini tidak bisa membedakan di mana dia jadi ilmuwan dan di mana Jadi penganut agama itu. (Fobia meningkat?)  Jadi intinya mereka kurang bacalah, tidak ikut berkembang," ujar Dede.

Ia juga mengatakan bahwa saat ini ada kemunduran paradigma terkait golongan LGBT. Pasalnya pada saat ia menjadi pengajar di universitas Airlangga tahun 1987, kampus yang mengetahui dia gay  tidak lantas mengeluarkannya atau mengucilkannya. Kampus malah membikin seminar terkait LGBT di lingkungan kampus itu. Kata Dede,  terjadi kemunduran toleransi jika lingkungan kampus   tabu membicarakan LGBT.

Baca juga:


Sebelumnya  Rektor Universitas Sumatera Utara (USU), Runtung Sitepu mengganti  struktur  keredaksian uni kegiatan mahasiswa Suara USU.
"Suara USU tidak dibubarkan, itu malah diperkuat. Cuma orang-orangnya semua diganti karena sudah menyimpang dari tujuan dibentuknya UKM Suara USU," ujarnya kepada KBR, Selasa (26/3/2019).

Lanjut Runtung, seluruh mahasiswa yang berada di dalam UKM Suara USU terutama penulis cerpen, Yael Stefani Sinaga juga telah dimaafkan dan tidak menerima sanksi.

"Nasibnya sampai hari ini, saya mengatakan masih memaafkan mereka dan kembali kalian belajar di kelas. Cepat kalian tamat karena mereka tetap tidak menyatakan bersalah, sedangkan kita semua sudah rame-rame membicarakan itu, termasuk ahli sastra," ungkapnya.  


Baca juga:


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

What's Up Indonesia

Kabar Baru Jam 8

Penyalahgunaan Narkoba di kalangan Pelajar dan Mahasiswa Meningkat, Penerapan Regulasi Tidak Tepat Sasaran

Kabar Baru Jam 7

News Beat