Brigade Popok Penyelamat Sungai Brantas

Popok bayi, menjadi salah satu sumber polusi terbesar yang mencemari Sungai Brantas di Jawa Timur. Gerah dengan kondisi ini, Komunitas Anti-Lupa Pencemaran Kali Surabaya menerjunkan Brigade Popok.

Pasukan Brigade Popok sedang mengangkut sampah popok bayi dari Sungai Brantas.

Selasa, 12 Maret 2019

-

DWI REINJANI, NARATOR:

[AUDIO BRIGADE POPOK MENYUSURI SUNGAI BRANTAS]

Aziz Wakanda memakai baju tertutup khusus, masker, sepatu boots. Lantas mengambil alat pengais sampah dan tempat sampah besar.

Ia dan seorang temannya dari Brigade Popok siap menceburkan diri ke Sungai Brantas.

[AUDIO ALIRAN SUNGAI BRANTAS]

Sungai Brantas adalah sungai yang penting di Jawa Timur, membentang sepanjang 320 kilometer, melewati 6 kota dan kabupaten.

Ini adalah sumber air bagi masyarakat setempat.

Tapi, sungai ini sudah lama tercemar. Salah satu pencemar terbesar adalah limbah popok bekas.

AZIZ: Nama saya Aziz, usia 27 tahun. Di Ecoton saya sebagai staf mitigasi dan advokasi, dan juga koordinator brigade evakuasi popok. Brigade evakuasi popok itu khusus dibuat, dibikin Ecoton tahun 2017 karena banyaknya limbah popok yang berceceran di sepanjang sungai kali Surabaya.

Dalam satu kali aktivitas saja, Brigade Popok bisa mendapatkan 50 kilogram sampah popok. Itu hanya dari satu sisi bantaran sungai di Surabaya.

Brigade Popok digagas oleh Komunitas Anti-Lupa Pencemaran Kali Surabaya (KALAPS), yang dibuat LSM Lingkungan Ecoton sejak 2011.

Rully, koordinator KALAPS menuturkan, brigade popok bisa terbentuk lantaran pemuda sekitar geram dengan banyaknya sampah di sungai.

RULLY: Terkait pemuda-pemuda atau teman-teman yang suka mancing, campurlah ada suka ngelanet atau ngobat ikan. Cari ikan pakai obat biar ikannya mabok. Terus anak-anak atau pemuda yang yang geram dengan permasalahan sungai di Kali Brantas atau kali Surabaya ini, khususnya dalam masalah popok.


Dalam seminggu, Brigade Popok bisa mengumpulkan sampai 400 kilogram limbah popok.

Kebiasaan membuang popok bekas ke sungai, bukan sekadar tersebab rendahnya pemahaman masyarakat setempat akan pentingnya merawat lingkungan, tapi juga karena kepercayaan budaya Jawa. Begitu menurut peneliti Ecoton, Andreas Agus.

ANDREAS: Jadi kalau udah urusan popok, itu mereka masih percaya dengan budaya Jawa dulu yang kalau popok itu dibakar malah bikin anak sakit.

Akibatnya, limbah popok yang dibuang sembarangan ke sungai-sungai menyebabkan kualitas air menurun.

AZIZ: Popok yang dibuang masyarakat ke bantaran sungai itu akan tergerus ke sungai, mengalir ke bawah. Nah airnya sendiri di bawah digunakan untuk bahan baku PDAM Sidoarjo, Gresik dan Surabaya. Itu yang berbahaya.

Tahun 2005, tingkat pencemaran kali Surabaya hampir mencapai 70 persen. Selain berwarna, air sungai pun bau. Salah satu penyebabnya adalah zat pada plastik dan gel di popok.

Peneliti Ecoton Andreas Agus menjelaskan, ikan juga ikut terdampak.

ANDREAS: Saya menemukan dari 8 jenis ikan yang terkoleksi itu, 80 persen ikan yang ada di Kali Surabaya sudah mengandung mikroplastik di lambungnya, dalam bentuk fiber, dalam bentuk serpihan maupun dalam bentuk filamen. Bahayanya ketika ikan-ikan itu tercemar bahan pencemar, itu bahayanya bukan hanya untuk si ikan itu sendiri, tapi juga bisa masuk ke manusia juga. 

Kalau tak melakukan apa-apa, konsekuensi lebih besar menanti.

ANDREAS: Memang kalau kita bicara tentang masalah lingkungan itu dicubit sekarang sakitnya itu nggak bisa terasa sekarang. Sakitnya itu pasti 20 sampai 25 tahun ke depan sehingga itu yang menjadi konsen kita. Bisa menyebabkan kanker, bisa menyebabkan gangguan hormon di tubuh kita sendiri.

Peneliti Ecoton menunjukkan plastik dan mikroba yang ditemukan dalam beberapa jenis ikan Sungai Brantas. (Foto: KBR/ Dwi Reinjani)

Data Rumah Sakit Dr Sutomo di Surabaya menyebut, pada 2003, 60 persen anak yang tinggal di bantaran Sungai Brantas terindikasi kanker.

Menurut Andreas, pemerintah mengklaim setiap tahunnya ada perbaikan dari industri maupun mereka, sehingga baku mutu sedikit demi sedikit membaik.

Namun dalam catatan Ecoton, kasus ikan mati karena dampak pencemaran masih terjadi, diantaranya pada April dan November 2012, November 2013, Desember 2014, September 2016, DEsember 2017 dan Oktober 2018.

[AUDIO AKTIVITAS MASYARAKAT DI SEKITAR SUNGAI BRANTAS]

Supaya masyarakat tak lagi membuat popok ke sungai, sejak 2014, LSM Ecoton menyediakan 2 drop point atau tempat penampungan limbah popok.

Drop point tersedia di setiap desa atau di setiap rumah ketua PKK, kata Aziz.

AZIZ: Popok ini supaya nggak dibuang ke sungai kita sediakan drop point di depan rumahnya. Ada dua kontainer besar dan itu sebagai tempat pembuangan popok.

Dalam 10 hari, sampah popok menumpuk dan beratnya bisa mencapai ratusan kilogram.

AZIZ: Kalau kita biarkan dua minggu sudah meluber, kasihan depan rumahnya bau.

Brigade Popok tak bekerja sendirian. Mereka dibantu ibu-ibu PKK seperti Nur Hamidah.

NUR: Kami kan edukasinya nggak awal-awal, sekarang ini ada ibu baru, baru melahirkan terus ada remaja putri yang jadi ibu, barulah diedukasi ulang.

Kata Nur, mereka juga mulai mempopulerkan kembali penggunaan popok kain -- yang dikenal dengan nama cloth diapers atau klodi.

NUR: Kami ingatkan bahaya dari pemakaian popok terus dilihat dari segi ekonomi kan boros dihitung-hitung. Mari kita kaji sekarang, pakai klodi sama itu kita bandingkan sekali terus baru dihitung, iya lebih ekonomis pake klodi. Awalnya belinya sih mahal tapi bisa untuk adiknya. Kalau ini pertama menghabiskan uang kedua juga ada risiko iritasi.


Brigade Popok juga menggandeng Dinas Lingkungan Hidup Jawa Timur.

AZIZ: Kami inginnya sepanjang daerah aliran sungai Brantas itu ada droping popok. Jadi kami fokusnya di Sungai Brantas. Jadi sepanjang 14 kabupaten kota terdapat drop point popok. Itu tidak hanya tempatnya saja, itu harus reguler bekerja sama dengan DLH (Dinas Lingkungan Hidup) setempat juga setiap minggu harus diambil. Pemerintah pusat juga didesak ikut campur karena sungai termasuk Daerah Aliran Sungai (DAS) Prioritas.

Selain itu, produsen popok juga diminta lebih memperhatikan aspek lingkungan hidup.

AZIZ: Mereka harus bertanggung jawab atas produknya dengan cara menyediakan drop point dan bekerjasama dengan pemerintah kota atau kabupaten untuk mengangkat popok yang dihasilkan industri tersebut. Terakhir adalah prinsip 3P. Saya tidak anti pada industri atau pabrik, tapi jangan hanya P pertama (yaitu) profit yang diperhatikan, tapi juga memperhatikan P yang kedua people dan yang ketiga planet.