Bagikan:

KKP Bangun 40 SKPT Hingga 2019

Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) ini memungkinkan pulau-pulau kecil dan perbatasan mengirimkan komoditas perikanan ke luar negeri tanpa melalui Jakarta

NASIONAL | BERITA

Selasa, 08 Mar 2016 11:53 WIB

Author

Wydia Angga

KKP Bangun 40 SKPT Hingga 2019

Seorang nelayan mengumpulkan hasil tangkapannya di Pantai Kema, Bitung, Sulawesi Utara, Senin (7/3). Hasil tangkapan nelayan tradisional yang menggunakan jaring dan pancing mengalami penurunan karena

KBR, Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan membangun Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) di 15 lokasi pada tahun ini. Sampai akhir 2019 KKP menargetkan hingga 40 SKPT di pulau-pulau kecil dan kawasan perbatasan. Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan, Sjarief Widjaja menggambarkan, melalui program ini pulau-pulau kecil dan kawasan perbatasan dapat mengirimkan komoditas perikanannya langsung ke negara tetangga tanpa melalui Jakarta.

"Jadi dari Simeulue kita tak perlu lagi tarik ke Jakarta, dari sana bisa kita dorong ke Sabang, masuk ke Phuket, Kuala Lumpur, Singapura, dan Johor itu target kita. Dari Nunukan langsung ke Filipina, masuk ke Hongkong. Dari Merauke tak perlu dari Jakarta yang butuh 8 jam cukup ke Cairns Australia yang berjarak 1 jam perjalanan. Jadi konsepsinya adalah membangun ring luar ini memiliki direct communication dengan negara tetangga jadi mendapat devisa," papar Syarief (8/3/2016).

Belasan kabupaten yang dipilih sebagai target pembangunan SKPT di pulau-pulau kecil dan kawasan terbatasan tahun ini adalah Kabupaten Morotai, Biak Numfor, Sarmi, Maluku Barat Daya, Maluku Tenggara Barat, Natuna, Nunukan, Kota Tual, Simeulue, Kepulauan Mentawai, Rote Ndao, Kepulauan Talaud, Merauke, Kepulauan Sangihe dan Mimika.

"Pertama, kita survey lokasi apa komoditas yang paling diunggulkan, kemudian kita data apa yang sudah dimiliki dan belum. Kita putuskan kalau pelabuhan sudah bagus tak perlu dibangun, pabrik es kurang, kita bangun. Yang kedua, pertemuan dengan pemerintah daerah, semua muspida. Dan yang ketiga kita ketemu dengan masyarakat dan dalam perjalanannya mereka jadi aktif," ujar Syarief.

Syarief berharap, program SKPT ini mendapat dukungan pemerintah daerah. "Kita ingin direct business terjadi di masyarakat dan masyarakat mendapat manfaatnya," pungkas Syarief.

Terhadap program ini, Wakil Bupati Simeuleu, Hasrul Ediar menyambut baik. Menurutnya, manfaat kerja sama sudah mulai nampak dirasakan masyarakat. Kabupaten Simeulue menjadi daerah percontohan SKPT yang telah lebih dulu dibangun tahun 2015.

"Dengan program ini prospek untuk mengembangkan komoditi dan hilangnya perasaan masyarakat bahwa sia-sia mendapat tangkapan banyak tanpa ada yang menampun dan ikan busuk pada masa lalu, dengan kerja sama ini hal tersebut tidak terjadi lagi," tegas Hasrul.

Masyarakat Simeulue, menurut Hasrul, tidak sedikit hasil panen ikan yang tidak terserap dibuang ke pantai, sehingga membusuk dan menjadi sumber penyakit.

Editor: Damar Fery Ardiyan
 

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Menyongsong Terbitnya Rupiah Digital

Episode 4: Relasi Kuasa: Akar Kekerasan & Pengaturannya Dalam UU TPKS

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Mendorong Vaksinasi Booster untuk Antisipasi Kenaikan Kasus Covid-19 di Akhir Tahun

Most Popular / Trending