Bjorn Lomborg: Pemimpin Dunia Jangan Plin-Plan

Target Agenda Pembangunan Dunia Pasca 2015 (SDGs) dianggap terlalu muluk.

BERITA | INTERNASIONAL

Jumat, 27 Mar 2015 16:06 WIB

Author

Rio Tuasikal

Bjorn Lomborg, Direktur Copenhagen Consensus Center

Bjorn Lomborg, Direktur Copenhagen Consensus Center ketika berada di Jakarta untuk Seminar untuk Jurnalis yang diselenggarakan KBR, Rabu (25/3/2015).

KBR, Jakarta - Sustainable Development Goals (SDGs) yang akan diresmikan akhir tahun ini mendapat segudang kritik dari lembaga think tank, Copenhagen Consensus Center.

SDGs adalah lanjutan Millenium Development Goals (MDGs) yang sudah berjalan sejak 2000 dan akan berakhir tahun ini.

Bila MDGs berisi 8 topik dengan 17 target, SDGs berisi 17 topik dengan 169 target. Bagi Direktur CCC Bjorn Lomborg, target itu tidak masuk akal. 

"Itu gila! Jangan bicara 169 target. Itu seperti menjanjikan semua hal kepada semua orang. Akibatnya, semua orang (justru) akan mengabaikannya," ujarnya pada KBR dalam wawancara di Jakarta, Rabu (25/3) sore.

Setumpuk tebal target SDGs itu tercantum dalam proposal 'Masa Depan yang Kami Inginkan' yang merupakan hasil panel para pemimpin negara pada 2012. Presiden Indonesia saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono, adalah salah satu pemimpin dunia yang hadir dalam panel.

Menurut Bjorn, para pemimpin dunia itu bersikap plin-plan karena menampung semua usulan yang masuk. "Sangat mudah ketika kamu bilang akan menyelesaikan semuanya. Tapi pada kenyataannya, kamu tidak menyelesaikan apapun," tambah pria yang merupakan satu dari 100 orang paling berpengaruh versi Majalah TIME itu. Harian The Guardian dari Inggris menyebut Bjorn Lomborg sebagai satu dari 50 orang yang bisa menyelamatkan dunia. 

Dana 2,5 miliar dollar Amerika yang disiapkan untuk SDGs, kata Bjorn, akan masuk ke banyak program yang sia-sia dan tidak berdampak besar. 

Target cerdas vs target lemah

Dalam bukunya 'Target Paling Cerdas untuk Dunia', Bjorn menunjukkan salah satu target yang dinilai lemah. Misalnya: “pada 2030, merencanakan dan membuat kebijakan yang mendorong pariwisata berkelanjutan yang membuka lapangan kerja, mendukung budaya dan produk lokal.”

Kata Bjorn, target itu tidak konkret. Ia bahkan berpendapat, lebih baik dunia mengurus hal-hal yang lain terlebih dahulu. "Bagi kebanyakan warga dunia yang masih kelaparan, tidak dapat fasilitas kesehatan dan pendidikan yang baik, ini lebih penting," kata dia.

Bjorn juga menolak target menggandakan energi terbarukan seperti kincir angin dan sel matahari, karena saat ini biayanya terlalu mahal.

Bjorn menegaskan, "Jangan sampai isu menarik mengalahkan isu eksistensial."

Para analis CCC dari seluruh dunia sudah menghitung Cost to Benefit Ratio (CBR) untuk melihat target paling berhasil dari MDGs. Dalam kesehatan, misalnya, program untuk tubercolosis atau TBC menghasilkan efek Rp43 dari setiap Rp1 yang dikeluarkan. Sementara obat HIV menghasilkan Rp10 dari setiap Rp1 dikeluarkan.

Target paling efektif, menurut Bjorn, adalah pasar bebas Asia-Pasifik, akses kontrasepsi buat perempuan, dan mengurangi kerusakan terumbu karang. 

"Beberapa program sangat hebat, murah, dan berdampak banyak. Sementara yang lain mahal dan berdampak kecil," tambahnya.

Khusus buat Indonesia, Copenhagen Concensus Center mengusulkan penghapusan subsidi BBM dilanjutkan, menaikkan pajak tembakau, membatasi asupan garam dan kontrasepsi untuk perempuan.

Bjorn berharap warga dunia bisa mendesak pemerintah masing-masing untuk mengurangi target sampai jumlah yang masuk akal. 

"Jangan janjikan 169 target, tapi janjikan target-target paling hebat," pungkasnya.

Negosiasi soal SDGs akan dilakukan Juli ini di New York, Amerika Serikat, dengan melibatkan 193 negara.

"Lakukan yang murah dan berdampak besar dahulu, baru yang mahal dan berdampak kecil. Mari kita fokus pada target paling cerdas," tutupnya.

Bjorn Lomborg dari Copenhagen Consensus Center berada di Jakarta untuk Seminar untuk Jurnalis tentang isu pembangunan Pasca 2015 yang diselenggarakan oleh KBR. 

Editor: Citra Dyah Prastuti 

 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Izin Keruk Harta Karun RI

Kabar Baru Jam 8

Mama 'AB': Mengikat Yang Tercerai

Gelar Konser Musik dan Seni Pertunjukan Offline. Apa Sudah Memungkinkan?