BKSDA Jatim Sita Puluhan Hewan Dilindungi yang Dijual Online

"Jenisnya Merak Hijau, Ular Sanca dan Biawak Coklat. Infonya ini jaringan on line melalui facebook dijual dengan Facebook."

BERITA | NUSANTARA

Rabu, 17 Feb 2016 21:59 WIB

Author

Hermawan Arifianto

BKSDA Jatim Sita Puluhan Hewan Dilindungi  yang Dijual Online

Petugas BKSDA Jawa Timur beserta aparat Kepolisian Banyuwangi menunjukan satwa-satwa sitaan dari praktek jual beli hewan dilidungi. (Foto: KBR/Hermawan Arifinto)

KBR, Banyuwangi- Balai Konservasi Sumber  Daya  Alam (BKSDA) Jawa Timur, menggagalkan penjualan puluhan satwa dilindungi. Kepala seksi Konservasi Wilayah V BKSDA Jawa Timur Pudjiadi mengatakan, puluhan  satwa liar yang dilindungi  undang-undang itu disita dari transaksi jual beli. 20 satwa yang disita  di antaranya,  11 ekor merak mijau (Pavo Muticus), 7 ekor Ular Sanca (Python Morulus), dan 2 ekor anakan  biawak coklat (Varanus Nebulosus).

Kata Pudjiadi, dalam pengungkapan penjualan satwa dilindungi ini, petugas juga menahan seorang pelaku berinisial RIF,  penjual satwa-satwa dilindungi tersebut. Menurut Pudjiadi, pengakuan dari pelaku jual beli satwa langka ini sudah dijalani sejak beberapa bulan yang lalu. Modusnya, dengan menawarkan satwa-satwa itu secara on line, melalui jejaring sosial.

“Kita amankan barang buktinya, kita bawa ke kantor. Semua ini termasuk satwa liar yang dilindungi undang-undang. Jenisnya Merak Hijau, Ular Sanca dan Biawak Coklat. Infonya ini jaringan on line melalui facebook dijual dengan Facebook. Menurut keterangnya dari mana-mana ngambilnya. Dari beberapa daerah sekitar Banyuwangi, Situbondo, Jember dan lainya,” kata Kepala seksi Konservasi Wilayah V BKSDA Jawa Timur Pudjiadi (17/2/2016).

Pudjiadi menambahkan,  satwa-satwa hasil sitaan ini selanjutkan akan  dirawat di Balai  Konservasi Sumber  Daya  Alam (BKSDA) Jawa Timur. Satwa   nantinya akan dilepas liarkan ke habitat aslinya.
Sedangkan penjual satw- satwa dilindungi ini selanjutnya akan dijerat dengan undang- undang tentang konservasi sumber daya alam hayati ekosistem dengan ancaman pidana penjara maksimal 5 tahun, serta denda sebesar seratus juta rupiah.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Pemerintah akan Evaluasi Peningkatan Serapan Anggaran

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17