PTM 100 Persen Mendadak, Kak Seto Khawatirkan Psikologis Anak

Sedangkan masyarakat dan pemerintah diminta tidak terburu-buru mewajibkan anak untuk segera sekolah tatap muka.

BERITA | NASIONAL

Selasa, 04 Jan 2022 14:48 WIB

PTM 100 Persen Mendadak, Kak Seto Khawatir

Kak Seto Mulyadi khawatirkan psikologis anak terdampak PTM terbatas 100 persen yang mendadak. (Foto: antaranews)

KBR, Jakarta - Psikolog Anak Seto Mulyadi menyebut kebijakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas 100 persen yang berlangsung tiba-tiba atau mendadak saat ini, bisa berpotensi menciptakan dampak trauma bagi psikologis anak.

Kak Seto, sapaan akrabnya meminta agar kebijakan itu dievaluasi untuk melihat implementasinya. Sedangkan masyarakat dan pemerintah diminta tidak terburu-buru mewajibkan anak untuk segera sekolah tatap muka.

Kebijakan PTM, menurutnya, harus berlangsung secara fleksibel dan tidak kaku, serta mendengarkan masukan dari anak-anak.

"Sama seperti pada waktu pertama kali langsung daring, tercatat oleh kementerian pemberdayaan anak dan perempuan bahwa 13 persen anak depresi. Karena cara-caranya yang keliru. Kalau sekarang tiba-tiba harus 100 persen begini, terlalu mendadak. Ini juga takutnya anak tidak siap. Lalu belum kalau dipertimbangkan juga saran dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bahwa virus ini sangat berbahaya, penularannya sangat cepat dan sebagainya," kata dia saat dihubungi KBR melalui sambungan telepon (04/01/21).

Kak Seto juga meminta pemerintah memastikan hak hidup, hak kesehatan dan hak atas pendidikan bagi anak dalam setiap kebijakannya.

Menurutnya lagi, baik masyarakat maupun pemerintah saat ini harus memastikan jangan lagi ada kebijakan yang terlalu terburu-buru. Sebab, cukup banyak yang bisa dimanfaatkan dengan metode belajar jarak jauh.

"Seolah-olah 'wah sudah begini kita akan learning loss, atau kehilangan semangat belajar anak dan sebagainya'. Jadi sebaiknya kita tidak terlalu terburu buru dan mewajibkan anak harus segera tatap muka, " tambahnya.

Kak Seto menambahkan, terkait kebijakan PTM ini pemerintah harus memastikan kondisi wilayah masing-masing, harus sudah masuk zona hijau potensi penularan Covid-19, kemudian juga kesiapan anak, serta kesiapan sekolah harus benar-benar diperhatikan.

Kata dia pembelajaran, sebaiknya dilaksanakan tidak terlalu kaku dengan materi kurikulum yang seolah-olah pendidikan hanya sebatas memasukkan sebanyak mungkin pengetahuan ke kepala anak. Namun yang penting adalah bagaimana memunculkan potensi anak bahwa pemahaman cerdas itu bukan sekadar pada bidang akademik, namun bisa di bidang musik, olahraga, seni menggambar desain, hingga etika.

Anak juga mesti diperbolehkan memilih untuk belajar formal atau pembelajaran daring.

"Ya pertama juga mendengar suara masyarakat, suara orang tua dan suara anak. Kalau hanya mendengar suara orang tua, ada beberapa orangtua yang 'aduh capek ngurus anak udah biar cepat sekolah'. Nah ini juga enggak bener kan. Bahwa ternyata orangtua juga dituntut untuk bisa menjadi guru juga. Dilakukan secara fleksibel, jangan kaku. Karena sesuatu yang kaku akan tanpa sadar memberatkan murid atau menjadikan kekerasan terhadap anak tanpa sadar atas nama pendidikan. Jadi ini harus jadi pilihan anak yang boleh dipilih," tambahnya.

Dalam penelitiannya sejak 2007, Kak Seto menyebut pembelajaran daring, jarak jauh atau hybrid (gabungan daring dan luring) bisa efektif, asal dilakukan dengan cara yang benar. Metode pembelajaran ini kata dia juga bisa menciptakan sumber daya manusia yang unggul. Maka kata dia, yang penting adalah bagaimana pendidikan itu mesti dimaknai sebagai upaya untuk memunculkan potensi dalam diri anak.

"Kemudian belajar itu harus ramah anak, dan tidak kamu sekadar akademik tapi anak juga percaya diri karena memiliki potensi yang saling berbeda yang tidak harus dipukul sama rata," pungkasnya.

Sebelumnya pemerintah memutuskan PTM terbatas 100 persen. Aturan berupa Surat Keputusan Bersama empat Kementerian itu mulai berlaku semester baru di tahun ajaran 2022 ini.

Baca juga:

Kemendikbud: Sekolah PTM 100 Persen, Dibekali Teknologi QR Code

PTM 100 Persen, Jubir Vaksin Kemenkes: Bergantung Izin Orang Tua

Editor: Fadli Gaper

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Survei Sebut Mayoritas Masyarakat Ingin Pandemi Jadi Endemi