Hadapi MEA, Pemerintah Disarankan Berdayakan BUMDes

BUMDes bisa didorong membentuk gugus pemasaran berjaringan untuk mendongkrak industri UMKM

BERITA , NUSANTARA

Senin, 04 Jan 2016 13:11 WIB

Author

Muhamad Ridlo Susanto

Hadapi MEA, Pemerintah Disarankan Berdayakan BUMDes

Ilustrasi. Produk UMKM. Foto: Antara

KBR, Purwokerto– Pemerintah diminta memberdayakan Badan Usaha Milik Desa atau BUMDes untuk menghadapi persaingan ekonomi tingkat Asia Tenggara. Peneliti dari Lembaga penelitian sosial ekonomi SMERU, AKhmad Fadli mengatakan BUMDes perlu digiatkan membentuk gugus pemasaran berjaringan untuk mendongkrak industri mikro kecil menengah atau UMKM di era Masyarakat Ekonomi ASEAN atau MEA. 

Peneliti Lembaga Penelitian Smeru, Akhmad Fadli mengatakan, gugus pemasaran ini bisa saling terhubung mulai dari BUMDes antar desa, antar kecamatan hingga antar kabupaten. Gugus pemasaran ini bisa meniru jaringan pasar modern, dimana di tiap desa terdapat toko ritel yang menampung produk masyarakat. Hanya saja pengelola toko adalah manajemen BUMDes di wilayah tersebut, dan produk yang dipasarkan di cluster berjaringan merupakan produk Usaha Kecil menengah atau produk skala keluarga. 

"Tidak usah berfikir ekspor saja sebenarnya pemasaran dalam negeri Indonesia saja sangat luas. Cuma, pemerintah selama ini memang tidak bisa menyediakan cluster pemasaran untuk menampung produk-produk desa. Jadi kalau BUMDes ini ingin maju, maka BUMDes ini harus bergandengan dengan BUMDes di luar desanya. Cuma ini memang, sistemnya juga harus mulai modern ya. Tidak lagi bisa mengandalkan model-model manual tradisional lagi", jelasnya, Senin (4/1/2016).

Peneliti Lembaga Penelitian ekonomi sosial SMERU, Akhmad Fadli menjelaskan, Undang-undang Desa mensyaratkan tiap desa memiliki BUMDes. Usaha toko ritel menurut dia sangat mungkin dibangun sebagai salah satu implementasi bentuk unit BUMDes. Menurut Fadli, yang dibutuhkan adalah komitmen pemerintah pusat hingga desa untuk membentuk gugus pemasaran berjaringan melalui BUMDes. Jika pemerintah tidak mempersiapkan jaringan pasar, maka produk dalam negeri bakal sulit bersaing dengan produk negara Asean lain. Mulai 1 Januari ini, Indonesia sudah masuk dalam jaringan pasar bebas ASEAN. 

Editor: Agus Lukman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Eps.2: Kuliah di UK, Cerita dari Rizki Putri Part 2

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17