Menunggu Lebaran bagi Mereka Yang ‘Disingkirkan’

Mereka paling banyak menjadi korban persekusi, korban hukum jalanan dari pihak lain yang merasa paling benar dan merasa berhak menghakimi keyakinan orang lain.

Selasa, 20 Jun 2017 00:23 WIB

Ilustrasi

Ilustrasi (foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Jutaan umat Islam di Indonesia pekan ini menjalani sepertiga terakhir bulan Ramadan. Berlomba membuat amal kebajikan. Juga bersiap untuk Hari Raya, mudik dan silaturahmi. Di sisi lain, sebagian umat waswas menyambut hari raya di masjid sendiri. Mereka adalah umat Islam dari kelompok Ahmadiyah dan Syiah yang selama ini terpinggirkan, disingkirkan bahkan diusir. Masjid Ahmadiyah disegel, kegiatan ibadah mereka dipersulit. Warga Syiah asal Sampang Madura bahkan sudah lima tahun tinggal di pengungsian di Sidoarjo, Jawa Timur. Lebih dari 200 pengungsi Syiah itu tidak bisa berlebaran di kampung halaman.

Mereka paling banyak menjadi korban persekusi, korban hukum jalanan dari pihak lain yang merasa paling benar dan merasa berhak menghakimi keyakinan orang lain. Mungkin hingga mati, warga yang terpinggirkan ini akan terus dilabel sesat, kafir, murtad dan lain-lain.

Ramadan adalah bulan berserah diri, bulan meningkatkan keimanan yang hakiki. Tidak hanya soal ritual ibadah, namun pada kualitas yang tercermin di perilaku sehari-hari. Ramadan dan Lebaran bukan hanya monopoli umat Islam Sunni yang mayoritas di negeri ini, tapi milik semua umat Islam dari beragam paham. Bahkan semua umat manusia berhak juga merayakannya.

Ramadan dan Lebaran adalah saat yang tepat untuk memulai kembali membangun jembatan untuk memperkecil perbedaan dan memperbesar persamaan diantara sesama warga negara, khususnya umat Islam di Indonesia. Jembatan untuk dilewati bersama-sama menebar kedamaian, dan keselamatan bagi bangsa. Bukan justru mempertajam pisau kebencian dan memperuncing panah permusuhan. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi