Potret Brutal Polisi

Para korban itu bukan teroris. Mereka juga tidak tersangkut tindak kejahatan atau kriminalitas. Di dalam mobil tidak ada senjata, dan mereka juga tidak berupaya menyerang polisi.

Kamis, 20 Apr 2017 21:17 WIB

Kapolda Sumsel sedang memberikan keterangan pers.

Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol Agung Budi Maryoto mengakui kejadian penembakan saat razia di Lubuk Linggau tidak dapat dibenarkan dan berjanji menanggung biaya pengobatan para korban. (Foto: Antar

Citra polisi kembali mendapat sorotan publik dengan aksi brutal anggota kepolisian Lubuklinggau, Sumatera Selatan yang menembaki satu keluarga di jalan raya.Tragedi itu menimpa keluarga Kaswan, seorang kakek asal Rejanglebong, Bengkulu. Tujuh anggota keluarganya diberondong peluru saat bepergian ke Lubuklinggau menggunakan mobil. Mulai dari istri, anak hingga cucu yang masih balita.

Mobil itu ditembus enam peluru. Istri Kaswan tewas di tempat, sedangkan anak dan cucunya harus dirawat karena luka tembak di bagian kepala, leher dan bagian lain.  

Polisi berdalih penembakan dilakukan karena kendaraan itu tidak berhenti saat razia. Bahkan setelah ada tembakan peringatan, mobil itu justru menerobos barisan polisi.   

Para korban itu bukan teroris. Mereka juga tidak tersangkut tindak kejahatan atau kriminalitas. Di dalam mobil tidak ada senjata, dan mereka juga tidak berupaya menyerang polisi. Bahkan di dalam mobil itu terdapat balita dan anak-anak yang semestinya dilindungi dari kontak senjata.

Inilah potret brutal aparat kepolisian kita. Tindakan serampangan yang mencederai upaya reformasi di tubuh Polri. Nila setitik merusak susu sebelanga.  

Apapun upaya Polri, kini makin sulit melepaskan label pelanggar hak asasi manusia dari tubuh institusi itu. Awal tahun ini Komnas HAM menerima pengaduan pelanggaran HAM dari masyarakat, dan sepanjang tahun lalu pelanggaran terbanyak dilakukan anggota atau institusi Polri.

Karena itu kita mendesak Kapolri dan petinggi polri di Sumatera Selatan bertanggung jawab penuh atas tragedi itu. Pemberian sanksi saja tidak cukup untuk mencegah terulangnya kejadian serupa. Wajib ada evaluasi menyeluruh mengenai prosedur penggunaan dan pertanggungjawaban penggunaan senjata api.

Kita juga mendesak agar semua pihak menjamin keamanan keluarga korban dari intimidasi, baik oleh pelaku, keluarga pelaku, institusi polisi maupun pihak lain agar keadilan tetap ditegakkan. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Penggantian Ketua DPR Dinilai Tak Perlu Tergesa-gesa

  • PKB: Keputusan Golkar Terkait Posisi Setnov Menyandera DPR
  • Mendagri: Usulan Tim Gubernur Anies Melebihi Kapasitas yang Diatur Undang-undang
  • Golkar Resmi Dukung Khofifah-Emil di Pilkada Jatim