Penyidik Diserang, Ketua KPK: Ada Lagi Selain Novel

"Itu kejadiannya sudah lama. Jadi ada yang mobilnya disiram air keras."

Rabu, 14 Mar 2018 13:32 WIB

Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan didampingi tim kuasa hukumnya memberi keterangan seusai menjalani pemeriksaan Tim Pemantauan Kasus Novel Baswedan di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnasham), Jakarta, Selasa (13/3).

KBR, Jakarta- Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Agus Rahardjo mengatakan, ada dua penyidik KPK selain Novel Baswedan yang diserang menggunakan air keras. Namun Agus tak ingat waktu kejadian penyerangan terhadap keduanya karena sudah lama.

"Itu kejadiannya sudah lama. Jadi ada yang mobilnya disiram air keras. Kalau yang satu lagi terus terang saya belum dapat info. Tapi yang kalau yang mobil itu termasuk penyidik yang senior," kata Agus di Kantor Kementerian Keuangan, Rabu (14/03/18).

Agus juga lupa nama dua penyidik yang diserang menggunakan air keras tersebut. Ia meminta awak media untuk mencari di berita-berita lama jika ingin mengetahui identitas keduanya.

"Anda kalau buka berita lama pasti ketemu," ujarnya.

Agus mengatakan, bentuk penyerangan terhadap penyidik KPK dilakukan dengan berbagai cara. Selain penyerangan menggunakan air keras, ada juga yang melempar bom molotov ke kediaman penyidik KPK.

Tapi kata Tim Kuasa Hukum Penyidik Senior KPK, Novel Baswedan   setidaknya ada tiga lagi kasus penyerangan penyidik KPK diluar kasus penyiraman air keras terhadap kliennya dan dua penyidik lain. Salah seorang Kuasa Hukum Novel, Yati Andriyani mengatakan, keterangan itu berdasarkan pengakuan kliennya dan sudah disampaikan kepada tim penyelidikan Komnas HAM.

Hanya saja Yati enggan menjelaskan lebih rinci soal siapa penyidik tersebut dan bagaimana bentuk penyerangannya. Dia mendesak Pemimpin KPK mengambil sikap.

"Apakah peristiwa itu diketahui oleh pemimpin KPK tentu saja diketahui, apakah peristiwa itu dilaporkan kepada Polisi dan seterusnya tidak sampai ke sana sepertinya. Jadi bukan hanya Novel, poinnya kira-kira begitu. Nah yang paling tepat memang, teman-teman konfirmasi ke KPK sejauh mana sebetulnya kerawanan dan kerentanan penyerangan terhadap penyidik KPK dan apa sebetulnya yang sudah mereka lakukan selama ini untuk memproteksi terhadap serangan itu. Karena kita mau sampaikan apa yang terjadi pada Novel adalah bentuk kelalaian  KPK  dalam memproteksi atau menindaklanjuti sejumlah ancaman dan teror kepada pegawai KPK yang lainnya," ujarnya kepada KBR.

Yati menambahkan, alasan belum mau mengungkap siapa penyidik KPK yang diserang dan bagaimana bentuk serangannya adalah pilihan dari korban   atas alasan keamanan. Kata dia, tidak menutup kemungkinan hal itu bakal diungkap   apabila   tidak ada respon sama sekali dari  pemimpin KPK terhadap masalah tersebut.

Yang pasti kata dia, serangan, baik kepada Novel maupun yang lain diduga kuat berkaitan dengan perkara korupsi yang sedang ditangani oleh penyidik KPK.

"Ini jelas kelalaian dari KPK. Seharusnya kan sebagai institusi yang besar, harusnya mereka memiliki mekanisme yang jelas terkait perlindungan terhadap pegawainya," ucapnya.

Menurut Yati, keadaan ini diperparah  tidak adanya sikap yang jelas dari Presiden Jokowi. Hingga saat ini, belum ada satu dukungan yang konkrit dari Jokowi terkait masalah penuntasan kasus Novel. Padahal, jika masalah Novel ini diberikan perhatian, maka akan menjadi acuan  KPK memperhatikan perlindungan pegawai  terutama penyidik. 


Sementara itu, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) memastikan bakal memeriksa semua pihak yang terkait dengan peristiwa penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan.

Anggota Komnas HAM, Sandrayati Moniaga mengatakan, pemeriksaan nantinya juga bakal dilakukan kepada   petinggi Polri yang diduga terlibat termasuk orang yang diduga pelaku lapangan, juga  Muhammad Lestaluhu yang sudah dilepaskan oleh penyidik Polri.

Terkait pemeriksaan Novel kemarin, dia enggan menjelaskan lebih rinci apakah ada fakta baru yang disampaikan atau tidak.

Yang pasti kata dia, saat ini tim tengah merumuskan hasil pemeriksaan tersebut untuk menentukan langkah apa yang kemudian diambil.

"Tidak bisa kami sampaikan soal pemeriksaan kemarin membahas apa saja, dalam SOP kan juga tidak dibenarkan itu. Yang pasti nantinya kami akan panggil berbagai pihak yang terkait. Tapi yang lebih penting juga kepada publik sebenarnya apabila ada informasi yang relevan dan bersedia disampaikan kepada kami, kami terbuka, asalkan valid. (Soal pemanggilan kapan?) Berjalan terus, hari ini juga ada. (Dari mana saja bu?) Macem-macem, saksi lapangan ada, KPK juga ada," ucapnya kepada KBR.

Sandra Moniaga menduga, penyiraman air keras kepada Novel berkaitan dengan perkara korupsi yang sedang ditanganinya saat itu di KPK. Alasannya kata dia, sepertinya Novel tidak akan diserang jika bukan berposisi sebagai penyidik KPK.

Kata dia, timnya juga mengakomodir dan memasukan dalam laporan terkait peristiwa penyiraman air keras kepada penyidik KPK selain Novel. Nantinya kata dia, akan dicari motif penyerangan, apakah memiliki kemiripan atau tidak.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang