Kendalikan Harga, PPI Distribusikan Cabai 3 Ton Sehari

PT. Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) memerlukan stok cabai 3 ton per hari untuk menstabilkan harga di pasar.

Kamis, 12 Jan 2017 14:57 WIB

Ilustrasi: Cabai di Pasar Beringharjo Yogya. (Foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jakarta- PT. Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI)  memerlukan stok cabai 3 ton per hari untuk menstabilkan harga di pasar. Direktur Pemasaran PT. PPI Trisilo Ari Setyawan mengatakan, 3 ton cabai itu bakal didistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia.

Kata dia, konsumen terbesarnya adalah DKI Jakarta, yang memerlukan setidaknya 1 ton cabai dari PT. PPI.

"Kami kemarin masuk 1,8 ton dari Jawa Timur. Sehari, kami satu ton, 500 kilogram, di Jakarta, di-drop, diratakan. Daerah lain paling 100, 200 kilogram. Sehari total, kami transaksi bisa tiga ton, total ya, untuk didistribusikan ke semua cabang. Jakarta saja makan sekitar 500 kilogram sampai satu ton. Habis. Kami untung, petani juga masih untung, harganya masih bagus," kata Trisilo di Pasar Rawamangun, Kamis (12/01/17).

Trisilo mengatakan, hari ini perusahaannya mengirim 680 kilogram cabai ke Jakarta. Kata Trisilo, cabai itu dijual dengan menitipkannya kepada pedagang di dalam pasar. Adapun daerah lainnya, biasanya kebutuhannya berkisar 100 sampai 200 kilogram. Daerah yang memerlukan banyak pasokan cabai misalnya Sumatra Barat, Jawa Barat, dan Ambon.

Trisilo berujar, semua pihak yang terlibat dalam distribusi cabai itu sudah meraup untung. Kata dia, cabai itu dibeli dari petani seharga sekitar Rp 35 ribu per kilogram.Cabai itu lantas dijual ke pedagang seharga Rp 80 ribu untuk cabai rawit merah, dan Rp 48 ribu untuk cabai merah keriting.

Sedangkan pengiriman ke berbagai daerah, PT. PII   menggandeng perusahaan pelat merah di bidang penerbangan dan pelayaran, sehingga biayanya Rp 9 ribu per kilogram. Dari proses tersebut, PT. PPI mendapat keuntungan Rp 1 ribu per kilogram. 

Pedagang Jual Kembali Rp 120 Ribu

PT. Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) menyatakan tak bisa berbuat banyak, meski cabai yang dijualnya pada pedagang seharga Rp 82 ribu per kilogram, dijual kembali seharga Rp 120 ribu per kilogram. Direktur Pemasaran PT. PPI Trsilo Ari Setyawan mengatakan, perusahaan hanya mengimbau pedagang tak mengambil untung terlalu banyak. Pasalnya, perusahaannya saja hanya mengambil untung Rp 1 ribu per kilogramnya.

"Tadi kami cek di pedagang-pedagang yang mengambil cabai dari kami. Dia masih bisa margin Rp 20 sampai Rp 10 ribu. Jadi PPI cuma Rp 1 ribu. (Ada yang sampai Rp 40 ribu?) Iya, itu yang harus kami diawasi dari pedagangnya. kalau dari kami, suplai dikasih. Kalau soal jual berapa, kami cuma bisa mengimbau. (Imbauannya berapa?) Imbauannya sih, seperti cabai merah keriting kami berharap mereka jual di Rp 40 ribuan, Rp 48 ribu. Kalau rawit maksimal Rp 80-an," kata Trisilo di Pasar Rawamangun, Kamis (12/01/17).

Trisilo mengatakan, perusahaannya juga memberikan jaminan bagi pedagang yang cabainya tak laku. Kata dia, cabai yang tak terjual dapat dikembalikan ke PT. PPI, untuk kemudian dikirim ke perusahaan saus.

"Iya, kami semi konsinyasi. PPI punya backbone istilahnya, pabrik saus. Karena cabai paling maksimal tiga hari sejak dipetik. Begitu hari keempat harus siap-siap lempar ke pabrik saus. Kan PPI tidak boleh rugi. (Selama sepekan distribusi rutin?) Bagus. Hari ini di sini drop 150 kilogram habis, banyak yang enggak kebagian," kata Trisilo.

Editor: Rony Sitanggang
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Polisi Selidiki Penadah dan Penyuplai Hasil Pendulang Emas Ilegal di Freeport

  • Bappeda DKI: Anggaran Kunker DPRD Naik Karena Djarot
  • Presiden Minta Malaysia Impor Beras Dari Indonesia
  • Kejati Tahan 2 Tersangka Mark Up Alat Tangkap untuk Nelayan di Mandailing Natal

Guna mengembangkan dan mengapresiasi Organisasi Kepemudaan, Kementerian Pemuda dan Olahraga menyelenggarakan "Pemilihan Organisasi Kepemudaan Berprestasi 2017"