Kapolda Kepulauan Riau Irjen Pol Sam Budigusdian (kanan) menunjukkan foto delapan orang terduga anggota teroris yang dideportasi dari Johor Bahru, Malaysia di Mapolda Kepri, Batam, Rabu (11/1). Foto: ANTARA


KBR, Jakarta - Delapan WNI yang dideportasi otoritas Singapura tengah menjalani pemeriksaan intensif oleh Detasemen Khusus 88 Anti Teror di Mako Brimob Polda Riau. Juru Bicara Kepolisian Indonesia, Awi Setiyono mengatakan, pemeriksaan dilakukan selama satu kali 24 jam untuk memastikan kebenaran soal dugaan keterkaitan ke-depalan orang tersebut dengan ISIS.

Kata dia, menurut informasi dari Otoritas Imigrasi Malaysia, delapan WNI tersebut memiliki gambar-gambar soal ISIS di telepon genggamnya masing-masing.

"Kemarin sekitar pukul 10 sampai 11 waktu di wilayah Kepri kita memang menerima pelimpahan 8 kasus terkait dengan deportasi WNI dari Malaysia. Yang bersangkutan memang 1x24 jam ini memang dilakukan pemeriksaan intensif di Mako Brimob Polda Kepri untuk tentunya kita akan mendalami apa betul tuduhan dari Malaysia tersebut," ucapnya kepada wartawan di Kantor Divisi Humas Mabes Polri, Jakarta.

"Informasinya yang bersangkutan mau menyebrang ke Indonesia, kemudian ditemukan gambar-gambar ISIS, kemudian imigrasi Singapura mengembalikan ke Malaysia dan dari Malaysia mengembalikan ke Indonesia," sambungnya.

Kata dia, menurut hasil pemeriksaan sementara, penyidik sudah tidak menemukan gambar-gambar terkait ISIS di telepon genggam ke delapan WNI tersebut. Ketika ditanya alasannya, gambar-gambar tersebut sudah dihapus atas perintah petugas keamanan negara Malaysia.

Dia menambahkan, oran-orang ini dipimpin oleh orang berinisial ERH yang merupakan anggota dari salah satu pondok pesantren di Sumatera Barat.

"Dia pimpinan rombongan, memang ini rombongan dari salah satu ponpes di Sumatera Barat, ada kegiatan-kegiatan pendidikan tentang keagamaan, terkait pengembangan madrasah. Yang bersangkuta ke Kuala Lumpur pada 3 Januari. Mereka sempat ke Thailand, kembali lagi ke Kuala Lumpur. Lalu rencana ingun kembalu ke Indonesia lewat Singapura namun dilakukan pemeriksaan imigrasi dan dikembalikan ke pihak Malaysia dan Malaysia mengembalikan ke pihak Indonesia," ucapnya.

Sebelumnya, sebanyak delapan WNI dideportasi dari Malaysia. Alasan Otoritas imigrasi Malaysia pulangkan paksa mereka karena diduga akan berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok radikal ISIS. Ke delapan orang tersebut berinisial FH, ASA, AK, SA, IO, MH, REH, dan HAP.

Mereka berangkat dari Kota Padang menuju Kuala Lumpur pada tanggal 3 Januari 2017 lalu. Selama di sana, mereka sempat melakukan berbagai macam aktifitas, bahkan sempat menyeberang ke Pattani Thailand.


600 WNI Gabung Teroris di Suriah

Kepolisian memperkirakan ada lebih dari 600 warga Indonesia berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok teroris di negara itu. Kapolri Tito Karnavian mengatakan, mereka hijrah untuk bergabung dengan dua kelompok teroris besar di sana.

"Ada 600 orang lebih yang berangkat hingga hari ini. Sebagian sudah meninggal, ada juga yang sudah kembali ke sini. Ada yang sedang diproses, ada juga yang digagalkan baik di Indonesia maupun di luar negeri. Informasi terbaru di Singapura ada dua orang, di Malaysia juga ada yang ditangkap, dan di Turki juga ada yang ditangkap dan dikembalikan Indonesia," kata Tito di Rupatama Mabes Polri, Rabu (28/12/16).

Kapolri Tito Karnavian menjelaskan, dua kelompok teroris di Suriah yang terbesar adalah kelompok ISIS dan Jabhah Nusrah yang merupakan cabang Al Qaeda. Dua kelompok teroris ini saling berkompetisi di Irak dan Suriah.

"Sebagian besar WNI bergabung dengan kelompok JAD yang mendukung ISIS," ujar Tito.

Warga Indonesia yang bergabung dengan ISIS, menurut Tito, berasal dari jaringan teroris Jamaah Ansharu Daulah (JAD). Sedangkan yang bergabung dengan kelompok Jabhah Nusrah adalah bekas anggota Jemaah Islamiyyah di Indonesia.





Editor: Quinawaty
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!