DAA, Obat Generasi Terbaru untuk Penderita Hepatitis C

"Sekarang daclatasvir yang didengung-dengungkan, karena daclatasvir bisa untuk semua genotype."

Obat baru untuk Hepatitis C, DAA daclatasvir. Foto: Dian Kurniati/KBR.

Rabu, 06 Desember 2017

- [SAGA KBR] DAA, Obat Generasi Terbaru Untuk Penderita Hepatitis C (1)

- Minim Efek Samping

KBR, Jakarta - Satu dekade lalu, untuk kali pertama Feri Zull atau Izul, datang ke salah satu rumah sakit di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Ia hendak memeriksa darah. Hasilnya? Positif HIV/AIDS, Hepapatis A, B, dan C. 

Meski tahu didera empat penyakit sekaligus, tapi Izul tak nampak gundah. Ketika menceritakan ulang kondisi saat itu, ia tertawa. Katanya, komplikasi penyakit itu berasal dari kebiasaannya memakai narkotika selama 20 tahun plus melakukan seks berisiko.

Kala itu, Izul hanya berobat untuk HIV/AIDS-nya. Sedang Hepatitis C, baru dimulai delapan tahun kemudian –atau 2014. Dan saat pemeriksaan, barulah ketahuan hatinya sudah parah. Masuk level F3 atau selangkah lagi sebelum menjadi sirosis. 

"Sampai 2014 untuk Hepatitis C baru saya obati, karena ada program gratis. Ternyata saat tes pendukung, saya sudah di sirosis. Padahal enggak berasa lho," kenang Izul.

Izul mendapat pengobatan gratis dari TREAT –Yayasan Penelitian AIDS di Asia, dengan dasar bahwa kerusakan hatinya sudah kronik. Selama setahun, dia mengonsumsi obat interferon dengan ribavirin. Tapi ada efek samping yang mesti ditelannya; kulit ruam hingga gangguan psikologis seperti halusinasi-depresi. 

Sadar nyawanya kian terancam, Izul mengambil risiko itu. Toh ia tak punya pilihan lain. 

"Habis enggak ada obat, saya enggak ada uang juga kalau harus bayar Rp120 juta," sambungnya.

Sebagai pereda efek depresi, ia diresepkan obat tidur. Mulanya, dijatah dua butir sehari. Tapi jadi bertambah hingga enam butir. Katanya, obat tidur itu cukup membantu; yakni menenangkan. Apalagi waktu itu, ia belum sepenuhnya lepas dari narkotika. 

Hingga program pengobatan itu rampung, Izul dinyatakan bersih dari Hepatitis C. Sial, karena sembilan bulan kemudian virus itu muncul lagi. Hal serupa juga terjadi pada teman-temannya.  

"Tetapi saya akui ketika saya menggunakan itu, saya masih menyuntik. Beberapa teman yang barengan, setahun terakhir nongol semua,"

- ucap Izul.

Beruntung karena pria 39 tahun ini tak sendirian. Keluarga tak pernah berhenti menyokong semangat. Menariknya, di tengah masa pengobatan ia bertemu dengan istrinya dan kini memiliki dua anak perempuan –yang bebas HIV dan Hepatitis. 

Tahu, ia belum sepenuhnya bebas dari penyakit mematikan itu. Pada pertengahan 2017, ia beralih ke obat generasi baru golongan Direct Acting Antiviral (DAA). Dengan tingkat kesembuhan mencapai 95 persen. 

Ada tiga obat DAA yang beredar di Indonesia; sofosbuvir, simeprevir, dan daclatasvir. Izul mengonsumsi kombinasi obat sofosbuvir dan daclatasvir, plus zidovudine, lamivudine, dan nevirapine untuk mengendalikan pertumbuhan virus HIV. 

Obat itu diperolehnya secara gratis, karena menjadi program Kementerian Kesehatan. Padahal bila membeli di pasaran, harga obat paten produksi Amerika Serikat itu mencapai Rp1,1 miliar.

Kini, saban hari ia mesti menelan tujuh butir obat.  Dua butir pagi hari dan lima butir saat malam. Dan baru setengah jalan, Izul sudah merasakan impaknya. Bobot tubuhnya yang semula 57 kilogram, naik jadi 70 kilogram. Nafsu makan juga menggila. 


(Feri Zull atau Izul , pasien Hepatitis C. Foto: Dian Kurniati)

Selain Izul, ada pula Audila Fitriani. Perempuan 44 tahun ini kena Hepatitis C pada 2014. Waktu SMA, ia mulai kenal heroin suntik. Delapan tahun setelahnya, ia baru berhenti total, karena enggan terus-terusan kesakitan saat sakaw.

Audila kini menjalani program pengobatan Hepatitis C dengan sofosbuvir dan daclatasvir selama tiga bulan dan akan berakhir pada Desember nanti. 

 

"Saya melihat banyak yang gagal. Teman itu sampai, aduh, jangan sampai deh. Mending menunggu daclatasvir, mau lama juga enggak apa-apa. Efek sampingnya enggak ada soalnya,"

- tutur Audila.

Jejak Izul dan Audila, diikuti Nawani Hermawan atau Ebay. Lelaki 37 tahun ini positif Hepatitis C awal 2017 lantaran kebiasaannya mengonsumsi narkotika suntik. Kini, setelah dua bulan persiapan, Ebay akan mendatangi RSUD Bogor untuk konsultasi soal pengobatan Hepatitis C dengan obat DAA. 

"Untuk pengobatan, saya pertimbangkan dua bulan karena saya pengen melihat efek obat ini," ujar Ebay. 

Ebay meyakini, obat generasi baru ini lebih manjur. 

Masuknya obat baru Hepatitis C golongan Direct Acting Antiviral (DAA) ke Indonesia sesungguhnya melewati perjalanan panjang. Paling tidak butuh waktu tiga tahun, agar Izul dan kawan-kawannya bisa mengonsumsinya.  

Minim Efek Samping


KBR, Jakarta - Pasien Hepatitis C di Indonesia butuh waktu setidaknya empat tahun untuk bisa menikmati khasiat obat generasi baru golongan Direct Acting Antiviral (DAA). Sebelumnya, mereka bergantung pada interferon dengan ribavirin.

Ketua Peneliti Hati Indonesia (PPHI), Irsan Hasan, menyebut berlikunya perjalanan obat DAA ke Indonesia, lantaran aturan hak produksi dan pemasaran yang hanya dimiliki oleh si pemilik hak paten. 

Sementara, hak paten obat itu sendiri 20 tahun. Itu artinya, selama jangka waktu itu, produsen lain belum bisa menduplikasinya sebagai obat generik. Dampaknya, para pasien Hepatitis C harus membeli dengan harga mahal. Gilead –sebagai produsen asal Amerika Serikat, mematok harga Rp1,1 miliar. 

Pada 2014 lalu, sesungguhnya ada kerjasama antara Gilead dengan perusahaan farmasi India untuk memproduksi obat DAA jenis sofobusvir secara generik. Dengan kualitas yang sama tapi harga miring, yakni Rp2,6 juga-Rp3,6 juta perbotol. 

Hanya saja, meski ada sofobusvir dengan harga murah meriah, akan tetapi tetap tak mudah mendapatkannya di Indonesia. Ini karena Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) belum menerbitkan izin edar. 

Itu mengapa pasien Hepatitis C yang punya uang, tak keberatan mengejar kesembuhan sampai ke India. Termasuk pasien Irsan di RSCM.  

"Masalahnya kalau berobat langsung ke sana, kami yang dokter dari sini tidak tahu dia berobatnya ke mana atau beli obat pada siapa. Apakah dibohongi, kita tidak tahu. Makanya kami tidak menganjurkan ke India. Tetapi yang kami sampaikan, hati-hati kalau mau beli,"

- ujar Irsan.

Dokter di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo itu juga menyebut, obat generasi DAA ini memang lebih ampuh dibanding pendahulunya yakni kombinasi interferon dan ribavirin. Dua obat terakhir, punya efek memicu anemia, lebam, demam, menggigil, sakit kepala, dan nyeri otot. Tak ketinggalan depresi dan gelisah. Dengan risiko itu, tingkat keberhasilan melawan virus Hepatitis C hanya di bawah 66 persen. 

Sementara, efek samping dari obat terbaru DAA terbilang ringan; insomnia, anemia, sakit kepala, dan muntah-muntah. 

Dan kini, obat DAA sudah bisa dipakai secara legal di Indonesia. Beruntungnya pula, tahun ini Kementerian Kesehatan telah menyiapkan 6 ribu paket pengobatan Hepatitis C dan akan terus bertambah tahun depan.

Kepala Seksi Hepatitis Kemekes, Regina Tiolina Sidjabat, mengatakan jumlah itu masih kecil jika bertolok pada perkiraan jumlah penderita Hepatitis C yang mencapai 2,5 juta orang. 

"Makin banyak obat yang terbit izin edarnya, harga obat juga akan makin turun. Karena kalau cuma tiga obat, sofosbuvir, simeprevir, dan ribavirin, harganya masih terus tinggi. Tetapi karena sudah ada daclatasvir, akan lebih simpel," jelas Regina.

Regina juga mengatakan, obat DAA belum termasuk tanggungan BPJS Kesehatan. Itu mengapa tak semua RS menyediakan dan pemberiannya pun harus berdasarkan dokter ahli hati. 

Sekarang saja, obat tersebut hanya tersedia di enam provinsi; Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan. 

Ferri Zull atau biasa disapa Izul, adalah pasien penerima obat Hepatitis C jenis baru. Ia berobah ke RSUD Tebet. Meski program dari Kementerian Kesehatan hanya menanggung obatnya, tapi ia sama sekali tak mengeluarkan uang sepeser pun. Pasalnya, sejumlah tes pendukung ditanggung BPJS Kesehatan. 

"Kalau enggak pakai program, berarti harus bayar. Tetapi kalau program, bisa ditanggung," ucap Izul. 

Ada tiga obat DAA yang beredar di Indonesia; sofosbuvir, simeprevir, dan daclatasvir. Kini, saban hari Izul mesti menelan tujuh butir obat.  Dua butir pagi hari dan lima butir saat malam. Dan baru setengah jalan, Izul sudah merasakan impaknya. Bobot tubuhnya yang semula 57 kilogram, naik jadi 70 kilogram. Nafsu makan juga menggila. Tak hanya itu, ia juga tak lagi mudah lelah atau mudah marah –seperti dulu mengonsumsi interferon. 

Meskipun terdengar hebat, tak berarti pengobatan DAA tak ada risiko kegagalan. Tetapi, dengan beberapa macam obat DAA itu, dokter bisa menyusun kombinasi agar tetap manjur mengobati Hepatitis C.

"Kalau livernya sirosis, angka keberhasilannya menurun," terang Ketua Peneliti Hati Indonesia (PPHI), Irsan Hasan. 

Irsan juga menyebut, teknologi pengobatan untuk Hepatitis C yang terus berkembang, membuat obat generasi baru yang ada di Indonesia saat ini, tak akan pernah cukup. 


(Ketua Peneliti Hati Indonesia (PPHI), Irsan Hasan. Foto: Dian Kurniati/KBR)

"Sementara ini cukup, tetapi ke depannya tidak cukup. Sekarang daclatasvir yang didengung-dengungkan, karena daclatasvir bisa untuk semua genotype. Nanti akan lagi muncul obat yang bisa delapan minggu, bukan 12 minggu,"

- tukas Irsan.