[SAGA] Riwayat Kejayaan Wong Kalang di Kota Gede

Nama Tembong yang paling membekas. Selain kisah kekayaannya yang luar biasa, Tembong dikenal eksentrik. Hobinya membagi-bagikan uang dari dalam mobilnya.

Jumat, 16 Des 2016 16:45 WIB

Rumah bekas Prawiro Suwarno Tembong –yang merupakan jejak terakhir Wong Kalang di Kota Gede. Foto: Ria Apriyani/KBR

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jakarta - Kisah Prawiro Suwarno Tembong –yang merupakan jejak terakhir Wong Kalang di Kota Gede, masih hidup meski sudah seabad lebih berlalu.

Saat saya berkunjung ke sentra perak itu, deretan rumah dengan arsitektur campuran Jawa dan Eropa masih gagah berdiri. Dewi –pemandu saya, menunjuk salah satu rumah Tembong.

“Kalau lihat di beberapa pintu ada ukiran mozaiknya. Kaca patri warna-warni, walaupun sudah ada beberapa yang direnovasi, tapi diperbaikin pintu-pintunya aja. Kita bisa lihat kaca patri warna-warni, pilar-pilar gaya Eropa. Tapi di bawah ada pendopo joglo,” terdang Dewi.

Menyaksikan rumah itu, saya membayangkan Prawiro Tembong hidup di sana; dikelilingi perabotan emas bagai Raja Midas. Pasalnya dulu, Tembong dijuluki Raja Berlian Tanah Jawa –menggambarkan betapa kayanya dia.

“Karena harta beliau saking banyak sampai punya emas batangan sebesar jerigen minyak tanah. Juga ada hiasan dari emas berbentuk pisang. Semua emas murni.”

Riwayat Wong Kalang kali pertama ditemukan pada zaman Majapahit. Catatan lain muncul pada abad ke-17 ketika kedatangan seorang ahli ukir dari Bali; Joko Suroso. Joko datang ke Kota Gede setelah dipanggil Sultan Agung –Raja Mataram.

“Masa kejayaan Mataram, Sultan Agung dari Mataram Islam memanggil Joko Suroso, seorang ahli ukir dari Bali untuk mengukir Keraton Mataran dan membuat desain arsitektur keraton. Joko ini jatuh cinta ternyata dengan keponakan Sultan. Sultan kemudian kecewa, tapi dia merestui. Syaratnya, mereka nggak boleh kembali ke Kota Gede. Akhirnya mereka memutuskan kembali ke tempat asal si puteri ini, Banyumas.”

“Sultan Agung bilang ketika kamu di Banyumas, kamu dikalang. Artinya dikunci, nggak boleh keluar dari Banyumas. Tapi lama-kelamaan kan mereka beranak-pinak, ya keluar dari Banyumas sampai ke daerah Kroya, Kebumen.”

Selepas Sultan Agung mangkat, keturunan Kalang kembali ke Kota Gede. Dengan kemahiran mereka berdagang dan mengukir, orang-orang ini justru menjelma menjadi saudagar-saudagar kaya. Beberapa juga mendirikan rumah gadai. Dari situlah, penduduk asli Kota Gede mencari pinjaman uang.

Nama Tembong yang paling membekas. Selain kisah kekayaannya yang luar biasa, Tembong dikenal eksentrik. Hobinya membagi-bagikan uang dari dalam mobilnya.

“Katanya supaya semua bisa menikmati baik besar kecilnya berapa, tanpa Tembong tahu uang itu didapat oleh siapa. Jadi kalau dulu salah satu cucu beliau bilang kenapa harus dibuang-buang, dia bilang kalau saya bersedekah saya milih orang yang saya senangin saja. Yang enggak saya senang, jadi nggak dapat. Tapi kalau dengan cara ini semua bisa menikmati.”

Kebiasaannya itu dianggap arogan. Tapi memang, kalau menyebut nama Tembong kepada para prajurit Belanda dulu, maka boleh jadi mereka akan menyebut si saudagar ini pongah.

“Beliau yang membuat kontroversi karena ingin membuat salah satu ruangan di rumahnya, lantainya dari koin emas. Gulden. Tapi enggak disetujui sama Belanda. Dianggap menghina Ratu Belanda. Akhirnya boleh bikin, tapi nggak boleh ditidurin. Harus berdiri posisinya.”

Meski begitu, Tembong banyak membantu Keraton Yogyakarta. Di masa-masa ketika kondisi keuangan keraton buruk, Tembong sedikit-banyak sering menyumbang. Begitu pula orang-orang Kalang lainnya.

Tapi, hikayat mereka di Kota Gede berhenti ketika pada suatu hari kerusuhan pecah. Agaknya penduduk asli Kota Gede sudah tidak betah. Mereka merasa menjadi budak di kampung mereka sendiri. Sehari-hari bekerja untuk orang-orang Kalang.

Rumah Tembong dan orang Kalang lainnya diserbu penduduk, dijarah. Para pemiliknya kabur, menyelamatkan diri.

“Orang Kalang, meski mereka membantu menaikan ekonomi, tetapi mereka bukan penduduk asli. Mereka tidak pernah dianggap sebagai pribumi asli. Akhirnya pada waktu itu, timbul lah penjarahan dan perampokan besar-besaran.”

Nasib Tembong sejak itu simpang siur. Ada yang mengatakan dia kabur bersama orang Kalang lainnya ke Plered. Ada juga yang bilang Tembong mati dibunuh perampok. Kisah lain berakhir dengan Tembong mati bunuh diri. Dewi sendiri tak berani memastikan.

Kini, rumah dan usaha orang Kalang diambil alih orang-orang asli Kota Gede. Beberapa rumah sudah alih fungsi menjadi restoran atau galeri. Arsitekturnya tetap dipertahankan yang asli.

Sementara keturunan Kalang kini tersebar di Jogja, Kroya, Banyumas, hingga Cirebon. Kebanyakan kembali berdagang, namun tidak lagi menjual logam mulia atau bebatuan. Dewi mengatakan, kebanyakan dari mereka menjadi pengusaha sukses. Salah satunya pemilik hotel besar di Jogja.





Editor: Quinawaty 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

Disebut Dukung HTI, Menpora Segera Panggil Adhyaksa

  • Diprotes Imvestor, Presiden Sentil 2 Menteri
  • KPPU: 5 Perusaah Atur Tata Niaga Beras di Sejumlah Provinsi
  • Indonesia Gandeng Azerbaijan Buat Pusat Pelayanan Terpadu

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.