[SAGA] Nikmatnya Menyesap Kopi Liberika dari Rawa Gambut

Sialnya, karena kopi yang dinamai Kopi liberika Tungkal Komposit ini belum optimal pemasarannya. Padahal, tanaman kopi jadi sumber utama pendapatan warga setempat.

Kamis, 01 Des 2016 16:30 WIB

Kopi liberika tungkal komposit yang ditanam di lahan gambut Kabupaten Tanjung Jabung sejak 1940-an. Foto: Gilang Ramadhan/KBR

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jambi - Di sebuah rumah panggung –yang dikelilingi kebun kopi, belasan cangkir kopi disuguhkan untuk para pengunjung, termasuk saya.

Bubuk kopinya berwarna coklat. Setelah diseduh, rasa kopi sedikit asam dengan aroma rubbery. Saya pun tergoda mencicipi dan memang, cita rasa kopi ini tak mudah dilupakan.

Belakangan saya tahu, ini adalah kopi liberika tungkal komposit yang ditanam di lahan gambut Kabupaten Tanjung Jabung sejak 1940-an.
 
Pemilik rumah sekaligus Ketua Kelompok Tani Sri Utomo III Parit Tomo, Sumarno bercerita, kopi liberika produktivitasnya justru lebih tinggi karena berbuah sepanjang tahun.
 
Tak hanya itu, kopi liberika juga ramah alias tak merusak gambut. Sebab si kopi masih bisa menerima level air setinggi 40 hingga 60 sentimeter dari dasar gambut ke permukaan.
 
Dengan tanaman kopi pula, tak perlu membuat kanal. Kata pria berusia 56 tahun ini, cukup dengan parit kecil atau dikenal parit cacing sedalam tiga jengkal dan lebar tiga jengkal untuk mengalirkan air. Ditambah parit berukuran besar untuk menampung air.
 
“Dulu penggalian irigasi parit ini nggak pakai alat, pakai cangkul. Baru sekarang inilah ada penggalian parit lagi, parit cacing kalau kami bilang. Ada aliran parit kecil yang bisa dilihat di sebelah rumah, ada parit-parit cacing untuk mengalirkan air di perkebunan,” kata Sumarno.
 
Sumarno bersama 40 orang yang tergabung dalam Kelompok Tani Sri Utomo III bisa memanen 500-600 kilogram kopi perhektar dalam setahun. Namun jika tak masa panen, petani masih bisa memanen 30-50 kilogram dalam sebulan.
 
Hanya saja, dalam tiga tahun terakhir, petani kopi di Tanjung Jabung Barat agak kewalahan dengan serangan hama yang belum juga bisa diatasi.
 
Sementara cara yang digunakan adalah membabat pohon kopi yang terkena hama agar tak menjalar kemudian menggantinya dengan pohon baru.
 
“Jadi saya amati saya lihat dari batang mati sebelah. Nanti setelah yang sebelah mati, sebelahnya lagi ikut mati. Baru setelah itu timbul jamur.”
 
Sialnya, karena kopi yang dinamai Kopi liberika Tungkal Komposit ini belum optimal pemasarannya. Padahal, tanaman kopi jadi sumber utama pendapatan warga setempat.

“Kalau yang kami rasakan sekarang ini kayaknya masalah pasarnya belum banyak. Pasarnya belum memuaskan buat kita selain ke Malaysia yang asalan tadi.”
 
Sumarno mengakui, harga jual kopi liberika memang lebih mahal ketimbang arabika atau robusta, Rp70 ribu perkilogram. Sementara dua jenis lainnya, antara Rp16 ribu-Rp18 ribu perkilogram. Di dalam negeri sendiri, kopi liberika tak begitu dikenal. Selain karena harganya yang mahal itu.
 
Pendamping petani dari Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, Bimo Primono menyebut, pemasaran kopi masih lesu.
 
Yang bisa diusahakan, petani diminta memilah kopi kualitas bagus lalu dikemas menggunakan merek Kopi Liberika Tungkal Komposit yang sudah dipatenkan Kementerian Hukum dan HAM.

“Karena marketingnya masih kurang, petani di sana lebih kepada komoditi bukan kepada produk, dan baru-baru ini kita dorong untuk membuat kemasan. Kita kemarin bertemu dan mulai pengemasan. Jadi masih dalam upaya untuk membangun brand sendiri,” kata Bimo.
 
Salah satu cara mempromosikan kopi gambut ini, dengan ikut beragam pameran seperti Jambore Masyarakat Gambut 2016 di Jambi.
 
Kegiatan yang digagas Badan Restorasi Gambut (BRG) ini diikuti berbagai elemen masyarakat gambut dari tujuh provinsi.  Kembali Bimo

“Harapannya dengan adanya BRG dan Jambore Masyarakat Gambut itu bisa mempromosikan kopi ini dan disamping melihat potensi kopi ini yang cukup menjanjikan ke depannya, itu kenapa Warsi juga menginisiasi atau menumbuhkan kembali masyarakat di daerah lain. Karena memang secara budidaya kopi sentranya ada di sini,” harap Bimo.




Editor: Quinawaty
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

Disebut Dukung HTI, Menpora Segera Panggil Adhyaksa

  • Diprotes Imvestor, Presiden Sentil 2 Menteri
  • KPPU: 5 Perusaah Atur Tata Niaga Beras di Sejumlah Provinsi
  • Indonesia Gandeng Azerbaijan Buat Pusat Pelayanan Terpadu

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.