MA Sirojul Wildan tengah berlatih paduan suara di dalam kelas. Foto: Eli Kamilah/KBR

KBR, Jakarta - Sofyan Asyauri sedang mengajar Bahasa Arab di Kelas X Madrasah Tsanawiyah Sirojul Wildan.

Dalam sepekan, Sofyan mengajar tiga kali. Perjamnya, pria berusia 30 tahun itu dibayar Rp40 ribu. Maka dalam sebulan, ia menerima gaji Rp800 ribu. 

“Sebulan Rp1 juta, ditambah tunjangan wali kelas. Jadi rinciannya Rp800 dan tunjangan Rp200ribu. Alhamdulillah,” ungkap Sofyan.

Tapi, dua bulan bekalangan gajinya belum juga cair. Ia pun hanya bisa pasrah. “Kalau saya menanggapi materi, dan sejak awal sudah turun terjun dunia pendidikan, niat awalnya apa? Kita ingin mengamalkan ilmu yang ada. Kalau ada materi ya Alhamdulillah, kalau yang belum, belum ada rezeki buat kita.”

Sofyan sudah mengabdi di sana selama enam tahun. Ia bercerita, saung –yang menjadi ruang belajar para siswa tak pernah sepi.

Bahkan suatu kali, Sofyan pernah menginap dan membimbing siswanya di luar jam sekolah. Pengalaman itu kata dia, hanya didapat di sini.

Acih Kosasih, guru olahraga bernasib sama. Belum dibayar selama dua bulan lantaran dana BOS yang macet dan biaya SPP yang tak merata.

“Siswa memang ada perkembangan, tetapi memang ada kesulitan dalam pembayaran guru. Saya lihat sekolah mengambil SPP juga tidak memaksa. Itu permasalahnnya,” ucap Acih.

Malah, ia sampai harus merogoh kocek sendiri, demi anak didiknya bisa ikut lomba. “Untuk dana terbatas sekali. Saya sebagai pendiri juga merasa ini sekolah. Kita bisa kerjasma dengan anak-anak sekolah dan donatur. Misalnya kejuaran, pertama dari anak dan sebagian dari masyarakat dan dari sekolah.”

Tak hanya Kosasih dan Sofyan, guru dan pegawai lainnya juga memaklumi kondisi sekolah itu. Karena itulah, Kepala Sekolah Adang Sudrajat mengaku beruntung memiliki mereka.

“Hampir semua guru telat dibayar gajinya. Pegawai itu ada pustakawan satu, TU dua, operator satu, pembantu sekolah satu, wakil kepala bidang kurikulum, kesiswaan ada dua, humas ada satu, kesiswaan dan kehumasan,” jelasnya.

Namun, sekolah tak tinggal diam. Mereka menyediakan pinjaman, baik uang maupun beras untuk para pegawai dan guru, sampai gaji mereka bisa dibayarkan.

“Dua bulan kita utang ke guru. Tetapi kalau mereka mendesak butuh beras atau uang bisa pinjam ke sekolah dulu.”

Dalam sebulan, sekolah butuh dana hingga Rp27 juta, untuk membiayai operasional mereka. “Berarti operasional sampai berapa? Kita sebulannya butuh Rp27 juta tambah ekskul.”
 
Saat ini, ada 29 guru di MTs dan Madrasah Aliyah. Hanya beberapa dari mereka yang mengajar sesuai bidang studi.
 
“Jadi memang dapat guru yang ikhlas itu rezeki. Memang guru harus sesuai bidangnya, karena memang banyak lulusan sarjana agama. Tetapi kita usahakan guru sesuai bidang, misalnya guru Bahasa Inggris,” ujar Direktur Yayasan Al Misbah, Halida Agustina.
 
“Kadang-kadang kalau honor pas, kita utamakan yang mengajar di kelas, kalau guru ekstrakulikuler molor tuh, tetapi mereka datang aja, karena kata mereka, anak anaknya semangat.”
 
MTs Sirojul Wildan terus berbenah. Ada banyak harapan yang digantungkan para guru dengan semua keterbatasan.
 
Semangat belajar siswa menjadi pemacu para pengajar. Kembali Adang Sudrajat. “Kita memang terapkan ke mereka bukan patokan itu. Jadi mereka punya keyakinan mengajar itu ibadah. Ada duit nggak ada duit mereka mengajar.”





Editor: Quinawaty Pasaribu
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!