kelompok tani, benih, padi, indramayu, petani pemulia

KBR68H - lewat tangan Joharipin, benih padi Bongong bisa dipanen hingga 11 juta ton lebih di lahan seluas satu hektar. Hasil panen yang jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan hasil produksi benih padi hibrida yang digagas pemerintah. Bongong adalah satu dari 50 varietas benih yang telah dimurnikan terus menerus oleh Joharipin bersama kelompoknya. Tapi ironi, sampai kini pemerintah masih belum berpihak pada petani pemulia tanaman di dalam negeri.

#
Di areal persawahan Desa Jengkok, Kecamatan kertasemaya, Indramayu, Jawa Barat para petani mulai beranjak pulang menuju rumah. Tapi di salah satu lahan seluas tiga kali lapangan bulutangkis, Joharipin sibuk mencermati pertumbuhan benih padi yang ditanamnya. Setiap musim tanam dimulai, Joharipin punya kerja tambahan. Dia punya gawe memurnikan benih padi rakitannya demi mencari benih unggul yang lebat bulir-bulirnya.

“Ini proses permurnian, kita bagi ini satu meter setengah. Ke sananya 20 meter. Nanti kita bisa hitung. Ini baru enam hari. Kurang menyenangkan. Kalau sudah ngelilir, segar. Ini tanamnya satu-satu. Jangan satu lobang ramai-ramai,” jelas Johar.

Waktu disambangi, lelaki berusia hampir 40 tahunan itu tengah memurnikan 18 galur benih hasil rakitan di lahannya. Bapak tiga anak itu punya lebih dari dua hektar sawah untuk menopang kebutuhan hidup keluarganya. Dari dua hektar lahannya,lahan seluas tiga kali lapangan badminton disisakan untuk memurnikan benih-benih padi.

Joharipin punya alasan, mengapa ia tertarik melahirkan benih padi idaman.“Dengan program Revolusi Hijau itu, harus semua daerah harus pakai benih yang seragam satu jenis. Akhirnya benih-benih yang lain tidak ada. Monokultur. Jadi keanekaragaman hilang. Apalagi benih-benih lokal, tidak cocok, tidak dipakai lagi, karena harus pakai benih yang umurnya genjah (cepat tumbuh-red). Supaya mempercepat. Dengan berbagai dalih itulah, keanekaragaman benih-benih itu hilang. Nah bagaimana kita melakukan kerangka pemuliaan, intinya memperkaya varietas. Sehingga petani punya pilihan,” tegasnya.

Revolusi Hijau yang disinggung Joharipin berlangsung saat Soeharto memerintah negeri ini. Konsep Revolusi Hijau yang dikenal sebagai gerakan bimbingan masyarakat itu merupakan program nasional untuk meningkatkan produksi pangan, khususnya swasembada beras. Sedang target swasembada beras ditetapkan dengan mitos bakal menjadi komoditas strategis, baik dari sisi pandang ekonomi, politik dan sosial.

Gerakan bimbingan masyarakat yang diserukan Soeharto dengan mengutamakan penggunaan benih unggul. Tapi agar bisa tumbuh optimal, petani diharuskan menggunakan pupuk kimia untuk menggenjot produksi, juga pestisida untuk menghalau serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Revolusi Hijau yang diserukan saat itu oleh pemerintah Soeharto menurut Joharipin menyebabkan petani sangat bergantung pada benih, pupuk dan pestisida yang dijual oleh perusahaan negara, swasta dan multinasional. Tapi dengan upaya ekstra itu, swasembada pangan yang diraih hanya berumur lima tahun saja, yakni pada 1984 - 1989.

Untuk menghapus ketergantungannya kepada benih perusahaan itu pula yang mendorong Joharipin belajar memuliakan benih pada 2004 silam. Sejak itu pula, Joharipin menjadi paham mengapa benih menjadi hal yang utama dalam usaha taninya. “Jadi kita mencoba melakukan pemuliaan benih karena usaha pertanian 60 persen faktor utama keberhasilan adalah benih. Produktivitas tinggi dan kualitas bagus itu juga termasuk tergantung benihnya sendiri. Karena secara umum mahluk hidup itu ada empat. Tumbuhan, manusia, binatang dan mikro organisme. Jadi harus hidup bebarengan. Saling hormat-menghormati dan saling sayang-menyayangi di antara keempat mahluk hidup itu,” pungkasnya.
 
Joharipin adalah satu dari sedikit petani di Indonesia yang tak lagi mengandalkan benih milik perusahaan yang lama bercokol di lahan pertanian warga. Karena sejak bisa merakit benih sendiri, ia tak lagi membeli benih produksi dalam negeri dari PT. Shangyang Sri dan PT. Pertani. Termasuk benih dari perusahaan asing, seperti Monsanto Indonesia. 

“Tapi untuk konsumsi keluarga sekolah, kita produksi satu Bongong. Saya tak pernah beli benih. Benih apa pun saya sudah punya. Nah jangan ngomong-ngomong sejahterakan rakyat, apa sejahtera wong rakyatnya masih bergantung pada pihak lain kok sejahtera. Harus mandiri dulu baru sejahtera,” tegasnya.

Bersama Kelompok Peduli Karya Petani dia telah memuliakan 50-an benih padi unggulan. Mulai dari varietas Bongong (persilangan benih padi kebo dan longong-red), gading merah dan putih, selong, senapati, juga benih dengan nama unik, “alhamdullilah”. Setiap jenis benih itu punya keunggulan dan kelemahan masing-masing.

“Banyak, punya saya namanya Bongong sudah terkenal ke mana-mana. Sampai tahun kemarin diuji langsung disaksikan perangkat desa dan PPL para penyuluh. Bahkan disaksikan anggota DPRD, pasca panen. Diuji coba unggul nasional BLBU dengan benih saya. Setelah diubin dapat 11,3 6 ton per hektar. Rasa sudah pulen, tidak beraroma. Biasa. Tengkulak juga masuk. Kalau unggul nasionalnya dapat 8,93 ton. Itu musim kemarin."

Seperti saat musim gaduh lalu, Joharipin menanam gading merah dan putih di lahannya sendiri. Hasilnya mencapai 9 ton per hektar dengan biaya yang murah. "Kemarin ada ledakan wereng, tapi lahan saya dengan gading tak terkena serangan hama wereng juga. Penyemprotan juga buat sendiri. Dari buah maja, brenuk, campur air kelapa. Varietas Ciherang berapa kali penempatan, kena (OPT-red). Saya Cuma dua kali. Itu gading,” jelasnya.

Dengan hasil panen yang memuaskan itu, Joharipin dan kelompok taninya makin percaya diri kalau benih karya mereka tak kalah hebat dengan benih yang dijual perusahaan. Rata-rata produksi dari benih buatan Joharipin dan kelompok taninya mencapai  9 ton per hektar.

Tapi sayang, petani pemulia seperti Joharipin belum dapat sokongan pemerintah. Bahkan Undang-undang tentang Sistem Budidaya Tanaman yang diterbitkan pada tahun 1992 silam tak memberi peluang bagi petani untuk membuka usaha budidaya tanaman. Mereka tak boleh memperjualbelikan benih sebelum mendapatkan sertifikat dan izin edar dari Kementerian Pertanian.

Tapi belum lama, Joharipin tengah menjajaki pelbagai persyaratan yang diminta pemerintah. Kebetulan dia disertakan Balai Besar Penelitian Padi di Subang untuk mematenkan benihnya bersama perusahaan dan lembaga produsen lain. Tapi dalam perjalanannya, dia menyebut banyak praktek curang dalam proses mendapatkan sertifikasi benih. Misalnya saat menguji ketahanan benih dari serangan hama.

“Pas dilakukan uji tahan OPT. Kalau varietas yang tahan OPT itu khan tak perlu gunakan pestisida. Tapi itu harus gunakan pestisida sebagai pengendaliannya. Itu artinya benih apa? Tahan karena pestisida. Bahkan dari BP Biogen kena wereng itu. Saya laporkan ke Balitbang yang jadi panitianya. Bu bagaimana nih benih yang dari BP Biogen ada yang kena wereng. Pak Johar tolong disemprot pakai pestisida. Enggak bu, ini khan diuji kalau yang gak tahan berarti gak masuk khan. Jangan pak Johar, nanti saya bisa kena marah atasan. Saya males ngejar-ngejar kebijakan macam itu,” jelas Joharipin kesal.

Ikut rombongan konsorsium otomatis Joharipin tak perlu keluar uang. Gratis. Menurut keterangan pejabat Dinas Pertanian Indramayu kepadanya, biaya mematenkan satu benih bisa menghabiskan uang hingga Rp 500 juta. “Petani tak mungkin akan mensertifikasi benih. Untuk mendapatkan hak paten. Karena untuk mendapatkan hak paten, benih mendapatkan sertifikat itu mahal. Kata kepala dinas waktu itu bilang sampai Rp 500 juta. Untuk dapat sertifikasi benih.”

Ongkos nan mahal itu, tak lain untuk biaya uji tanam pada sepertiga wilayah Indonesia. Karena itu, petani semacam Joharipin hanya sanggup melakukan uji multilokasi secara lokal. Antar kecamatan saja. “Lebih murah malah. Mungkin itu untuk menakut-nakutin petani, supaya tidak mampu. Yang mampu perusahaan,” katanya.

Saat ini dua benih hasil rakitan Joharipin masih bertahan dalam uji lokasi lanjutan di sejumlah daerah. Sambil menunggu hasil uji lokasi, Joharipin nekat menjual benih unggulnya ke petani yang berminat. Satu kilogram benih Bongong dijual delapan ribu rupiah. Lima ribu untuk modal budidaya, sedang tiga ribu rupiah untuk kas kelompok taninya. Dia yakin, cara yang ditempuhnya itu aman hindari jerat hukum.

Sementara pascaputusan Mahkamah Konstitusi mengenai uji materi UU Sistem Budidaya Tanaman Juli 2013 lalu, petani hanya dibolehkan memuliakan benih dan bertukar benih di dalam komunitasnya. Untuk bisa komersil, petani tetap diwajibkan mendapatkan sertifikat dan izin edar dari Kementerian Pertanian.


Baca lanjutannya: Petani Benih Berdaulat di Lahan Sendiri (2)


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!