daging sapi, impor, mahal, pemerintah

#
Balada Daging  Sapi Impor (bagian 2)

Di Ibukota Jakarta, pejabat pemerintah menyalahkan peternak atas tingginya harga daging sapi jelang Idul Fitri hingga Rp 120 ribu per kilogram. Menteri Pertanian Suswono beranggapan, para peternak menaikkan harga sepihak, padahal stok ada. Untuk itu, dia meminta peternak untuk menggelontorkan persediaan dagingnya. Dia mencontohkan keadaan itu di Jakarta. “Sebetulnya kalau normal kebutuhan DKI ini 50 ribu ton setahun. Berarti satu bulan rata-rata 4 ribu ton. Tinggal sekarang ini ada kenaikan kebutuhan karena ramadhan. Nanti kebutuhannya berapa bisa dihitung,” ujarnya. Karena itu dia menilai wajar jika pemerintah mengimpor daging sapi untuk pemenuhan dalam negeri.

Pada awalnya daging impor masuk ke pasar-pasar, harga jual daging turun. Namun beberapa hari jelang Idul Fitri, harga daging kembali melonjak. Dan lagi pemerintah, kembali menyalahkan pedagang. Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Sri Sgustina mengatakan, pedagang mengambil untung terlalu besar. "Dua hari ini saya pantau sampai malam di RPH itu harganya sudah Rp 82 ribu. Harganya sudah Rp 62 ribu ditambah ongkos dan sebagainya sebesar Rp 15 ribu itu jatuhnya Rp 82 ribu. Kalau mau ngambil untung lima ribu ya paling 87 ribu. Jadi i2ni pedagang yang ambil untung terlalu besar. Saya sudah himbau ke PD Pasar Jaya supaya menghimbau para pedagang supaya tidak ambil untung terlalu besar."

Menanggapi tuduhan pemerintah, para pedagang mengaku terpaksa menaikkan harga daging sapi. Menurut para pedagang, harga jual daging mahal karena tingginya biaya operasional untuk mengambil daging dari rumah potong. Menurut mereka biaya operasional untuk mengambil daging potong mencapai Rp 95 ribu per kilogram.

Namun Ketua Asosiasi Pedagang Daging Indonesia, APDI Asnawi menampik tudingan pemerintah yang menganggap pedagang mengambil untung terlalu besar.Dia menjelaskan pedagang hanya mengambil untung Rp 5 ribu per Kg. "Kita harus punya modal untuk daging ya dengan segala tetek bengeknya dan lain-lain itu sudah di posisi 93-95 ribu. Itu belum kita jualnya. Kalau kita jual 100 ribu kita cuma untung 5 ribu mas. Siapa yang bilang pedagang ambil untung gede.”

Asnawi justru menduga adanya mafia daging  yang menangguk untung di balik kisruh melonjaknya daging sapi  akhir-akhir ini.  Pasalnya, selain mengimpor daging sapi, pemerintah juga mengimpor ribuan sapi hidup. "Masuk lagi 10 ribu katanya kemarin. Tanggal 2 itu, ada beritanya juga. Terus dimana rimbanya sapinya itu? Siapa yang menerimany? Siapa koordinator distributor impornya? Saya mau tanya itu. Dan di RPH mana dimasukkannya? Pemerintah sudah bagus. Tapi mekanisme pelaksanaannya ini banyak setannya saya bilang,” tanyanya dengan kesal.

Dugaan adanya mafia daging juga dilontarkan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia YLKI. Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi mengatakan pemerintah seharusnya bisa menjual harga daging sapi dibawah Rp 75 ribu per Kg. Berdasar data yang dipunya YLKI, Tulus mengatakan harga daging sapi di Australia hanya tiga dollar atau sekitar Rp 30 ribu per Kg.

“Mengapa dijual di Indonesia Rp 75 ribu?Jadi sudah 100 persen lebih. Saya kira, dalam mengambil untung sudah tidak rasional lagikarena biaya pokok dan biaya transportasi dan segala macam tidak sampai Rp 75 ribu per Kg,” tanyanya.

Karena itu, Tulus meminta Komisi Pemberantasan Korupsi, KPK dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha,  KPPU  turun tangan menyelidiki dugaan korupsi impor daging sapi.

Namun pemerintah tak bergeming. Di tengah karut-marut  masalah tersebut,  pemerintah justru berencana mendatangkan kembali  daging sapi  dari luar negeri. Menko Perekonomian Hatta Radjasa mengatakan impor distop jika harga sudah mencapai Rp 75 ribu per Kg.

Tahu pemerintah berkeras kembali membuka keran impor daging sapi, pedagang dan peternak memprotesnya. Asosiasi yang tergabung dalam  Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia bahkan menyebut mereka terancam rugi  hingga Rp 1,8 triliun akibat impor daging sapi. Menurut sekjen perhimpunan tersebut, Rochadi Tawaf  para peternak sudah terlanjur membeli sapi dengan harga tinggi untuk digemukkan, sebelum disembelih.

“Begini, beli harga pada saat sapi itu 32-33 ribu, misalnya. Kemudian dia harus menjual di harga 35 ribu per kilogram. Berarti, itu gini, bandingkan dengan pada saat menjadi dagingnya itu harus Rp 90 ribu, itu dia akan untung. Tapi, kemudian dengan harga 76 ribu, dia akan turun menjadi harga 29, atau katakanlah 30 ribu, jadi akan ada loss gain yang terjadi . Nah, itu kalau dihitung dari 2 juta kontribusi ekor yang diberikan kepada konsumen, maka akan loss sekitar Rp1,8 triliun,” jelas Rochadi Tawaf mencontohkan.

Kerugian itu juga yang dialami pedagang pasar tradisional di Pasar Senen. Entis mengaku sudah menjual mobilnya untuk menutup pengeluaran penjualan. “Kita motong rugi, gak potong juga butuh karena konsumen kan tuntut juga. Jadi akhirnya, apa yang ada, ya kita banyak tombok. Tahun ini saja saya sudah hilang mobil satu untuk nombokin. Jadi kenaikan seribu perak itu, kita gak bisa langsung naik, harus ada negosiasi dulu. Sementara di penjagalan kabarin naik, kita gak bisa apa-apa. Kita tolak, kita sendiri yang gak dapat barang,” ceritanya.

Sementara Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia (ASPIDI) mengkritik langkah pemerintah yang menurut mereka tak terencana. Ketua ASPIDI, Thomas Sembiring mengatakan kebijakan tersebut sangat terlambat karena dilakukan beberapa hari jelang bulan puasa.

Banyaknya persoalan kebijakan daging sapi, membuat pemerintah membuat terobosan baru dengan mendatangkan sapi siap potong. Namun di mata perhimpunan peternak, langkah itu menunjukkan pemerintah telah gagal total terkait program swasembada daging.

Pengurus Perhimpunan Peternak sapi dan Kerbau Indonesia, Rochadi Tawaf mengatakan tak ada rencana yang jelas yang dibuat pemerintah."Cetak biru  tidak menyebutkan ada bulog untuk bermain. Jumlahnya dan segala macamnya. Itu nggak ada. Dan bulog pun kan upaya penyetabilan harga. Jadi kalau Bulog sudah masuk, kebijakan swasembada sudah stop. Saya juga agak khawatir, apa yang terjadi ini, karena kan Bulog tak punya tangan-tangan, penjualan sapi. Jadi, nanti dia menjualnya digelontorin aja,”tegasnya.

Pemerintah memang menargetkan Indonesia bakal swasembada daging tahun depan. Namun melihat  sengkarut melonjaknya harga daging sapi akhir-akhir ini, target itu ibarat mimpi di siang bolong.

Editor: Irvan Imamsyah

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!