daging sapi, impor, mahal, pemerintah

KBR, Jakarta - Pemerintah menilai kenaikan harga daging sapi lokal hingga Rp 120 ribu per kilogram jelang Idul Fitri, tak wajar. Tanpa pikir panjang pemerintah segera mengimpor daging sapi asal Australia dengan mimpi harga daging kembali murah. Tapi tak semua pedagang sepakat dengan langkah pemerintah. Reporter Dimas Rizky berkunjung ke pasar tradisional di Jakarta untuk mencari tahu alasan pedagang.

Jauh sebelum ayam berkokok, kegiatan pasar tradisional di kawasan Senen sudah bergeliat. Setiap pedagang bergegas menggelar dagangannya. Di areal penjualan daging, para pedagang mengeluarkan daging segar dari kotak penyimpanan. Tak lama, daging dipotong sesuai ukuran. Para pembeli lantar berdatangan.

Di pasar Senen juga ada Rohmat, seorang pedagang daging. Beda dengan para pedagang daging lainnya, Rohmat justru mengeluarkan daging beku 21,5 kilogram dari dalam kardus.Di Pasar Senen, hanya dia yang nekat menjual daging impor asal Australia. Alasan dia saat itu, banyak pelanggan yang memesan daging impor darinya.

Menumpuknya pasokan daging sapi impor adalah kerja pemerintah untuk mengatasi tingginya harga daging di pasaran lokal. Saat harga daging melambung hingga Rp 120 ribu per kilogram, pemerintah menerbitkan izin impor tiga ribu ton daging sapi.

Tapi sebagian pedagang pasar Senen enggan menjual daging sapi impor. Alasan mereka beragam, seperti banyaknya kandungan air pada daging beku, juga banyaknya lemak yang menyebabkan harga jual daging jadi murah. Ketua Pedagang Daging Pasar Senen, Entis mengatakan, mereka kehilangan dua puluh persen berat daging akibat banyaknya kandungan air dan lemak pada daging impor. Alasan lain, adalah pembeli yang lebih suka membeli daging potong segar, ketimbang daging beku asal negeri Kangguru.

Salah seorang pedagang menjelaskan soal kerugian mereka jika menjual daging beku impor. “Ini aja 21,5 Kg dari sana. Sekarang tinggal 20,8 Kg. Sudah 2 Ons hilang. Ya setengah Kilo lah tekor. Ruginya? Ini aja belum dibersihin lemaknya. Paling sedikit 2 Kg hilang. Pertama beli 21,5 Kg, hilang setengah kilo, udah dibersihin lagi, 2 Kg hilang lemaknya,” ujar salah satu pedagang yang enggan disebut namanya.

Diantara hiruk-pikuk kegiatan jual beli di bangsal penjualan daging di Pasar Senen juga ada Tono. Dia merupakan pedagang bakso di Kemayoran yang selalu membeli daging potong segar. “Saya gak mau pakai daging impor. Rasanya gak enak. Jadi sih jadi, tapi rasanya gak enak. Beda aja. Mau harga Rp 60 ribu atau Rp 65 ribu saya gak mau. Orang beli kan cari rasa. Kalau gak enak, buat apa dipaksa. Nanti kabur pembelinya,” tambahnya.    
   
Situasi bisnis daging di Pasar Senen ternyata berbeda dengan apa yang terjadi di Pasar Kramat Jati Jakarta Timur. Di sana ratusan pedagang daging justru menunggu glontoran daging impor dari sejumlah pemasok, termasuk Perum Bulog. Mereka tak mau, kekurangan pasokan karena pembeli daging berlimpah di pasar itu. “Kita gak bos impor dan chanel impor. Tapi kalau ada, kita lihat dulu barangnya dulu, liat dagingnya dulu bagaimana. Jangan sampai nanti silakan beli, tapi gak bisa dijual. Itu sama aja ketahan,” ujar salah satu pedagang, Joni.

Pro kontra daging sapi impor ini juga terjadi di daerah di luar Jakarta. Di Jombang, Jawa Timur misalnya, para peternak menolak keberadaan daging luar negeri ini. Salah satu peternak Mohamad Anshori Efendi mengaku tak sanggup menyaingi harga daging sapi impor. "Dengan adanya import yang masuk sudah barang tentu mengejutkan bagi peternak, akhirnya harga jadi amburadul, harga jadi murah. Ya nggak papa harga segitu Cuma harus diimbangi dengan harga pakan. Kalau Rp. 75 ribu belum balik modal, nangis peternak jelas gulung tikar," ujarnya.

Menurut pedagang, tingginya harga daging sapi lokal jelang Lebaran adalah wajar. Entis yang sudah berdagang sejak tahun 80an di Pasar Senen mengatakan, harga daging selalu mahal saban jelang lebaran. Semua tak lain karena permintaan pembeli tinggi. Tapi kenaikan itu berbeda untuk tahun ini. “Kalau jaman pak Harto, kenaikan wajar. Tapi yang gak wajar, tahun ini. Dari puasa tahun lalu jadi Rp 62 ribu.  Turun lagi normal jadi Rp 60 ribu. Lalu sekarang kenapa naik jadi Rp 75 ribu? Sudah ada kenaikan Rp 15 ribu didalam 11 bulan. Pedagang kan menjerit,” keluhnya.

Karena itu Entis mengaku heran dengan kebijakan pemerintah mendatangkan daging sapi dari Australia. Apalagi dengan dalih jurus meredam harga komoditi pokok itu.

Baca lanjutannya: Balada Daging  Sapi Impor (bagian 2)

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!