toleransi beragama, vihara, pan kho, bogor, pulau geulis

Kekhawatiran Warga

Sesepuh Pulau Geulis, Abraham Halim bercerita soal asal mula pengajian di vihara. “Dari dulu terbuka. Tapi, kan istilahnya orang segan untuk masuk sini. Hanya orang-orang yang akan beribadah ke situ aja. Tetapi sejak 2007 saya di situ banyak kawan kawan juga karena saya notabene tidak beribadah di situ, mungkin agak ini juga saya ngurus di situ banyak orang di sekitar juga yang masuk ke sini. Kebetulan juga banyak kawan kawan saya dari Ciomas sering ziarah ke tempat ini. Nah saya ngobrol ngobrol dengan mereka yang sering ziarah ke tempat ini. Ya bagaimana kalau saya setiap malam Jumat begini begini. Ya silahkan. Saya bicarakan dengan pengurusnya dan itu tidak jadi masalah. Warga sekitar juga banyak yang ikut,” kata dia.

Sekretaris Vihara Pan Kho Chandra Kusuma mengatakan, warga tak pernah menentang adanya pengajian di sini. “Ya mungkin berbisik bisik diantara mereka. Kok di vihara ada marawisan, kok di vihara ada yang semacam begini. Tapi kita sudah istilahnya memberikan penjelasan kepada mereka bahwa ini adalah tempat ibadah. Yang mana kita menghargai leluhur. Di sini di dalam satu rumah ada leluhur kita, orang Tionghoa, ada juga karuhun setempat. Kenapa kita tidak bersama sama. Toh dari dulu mereka sudah rukun, masa kita anak cucunya mau gontok gontokan,” jelas Chandra. 

Namun warga tengah was-was. Sejak tiga tahun lalu, Pemkot Bogor berencana membenahi Daerah Aliran Sungai Ciliwung. Rumah-rumah bakal ditata, jalur sanitasi diperbaiki. Pulau Geulis pun diproyeksikan menjadi kampung wisata.

Ini rencana pemerintah, jelas Kepala Sub Bidang Sarana Prasarana bidang Fisik Bappeda Kota Bogor Marse Hendra Putr, “Pertama mungkin kaitan dengan pengaturan pengelolaan sampah. Karena di kawasan Pulau Geulis kita belum mendapatkan sistem pengelolaan persampahan, artinya dalam skala kawasan dalam hal ini mungkin 3 R. Ini yang rencananya akan kita usulkan nanti. Kemudian penataan jalan lingkungannya karena di situ kita lihat jalan lingkungannya kurang tertata dengan baik.  Kemudian juga nanti ke depannya nanti fungsi bangunan itu sendiri. Termasuk juga drainase dan pengolahan air limbah domestiknya artinya rumah tangga.”

Awal November lalu, sosialisasi pertama soal penataan ulang Pulau Geulis mulai digelar. Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan Kelurahan Babakan Pasar, Ahadiat Prihatna menjelaskan rencana penataan sekitar vihara,“Kemarin itu hasilnya semua sepakat itu Pulau Geulis ditata. Dan penataannya sifatnya pertama mungkin dari jalan masuk ke vihara. Seperti jembatan yang tadinya hanya cukup untuk jalan kaki, gimana caranya nanti diperlebar untuk dua motor lah.”  

Namun Vihara Pan Kho terletak dekat sungai. Warga khawatir vihara bakal ikut kena gusur.

Ini dibantah Marse. Vihara akan tetap berdiri.  “Itu tetap. Kan itu tadi saya bilang kita tidak punya pemikiran untuk mengubah itu tapi hanya menata. Pemkot tidak berfikir akan merubuhkan itu terus menggantikannya, tidak. Kita hanya menata kawasan tersebut menjadi kawasan yang ramah lingkungan,” tegas Marse.

Kehadiran Vihara dan kerukunan antar umat beragama justru bakal menjadi sesuatu yang ditonjolkan dari Pulau Geulis sebagai tempat wisata, kata Prihatna.“Terus mengenai sanitasinya juga kalau bisa diperbaiki. Nanti ke depannya mau dibuat. Apa sih yang menjadi ciri khas Pulau Geulis ini? Nah mungkin nanti ke depannya akan ada wisata religi disandingkan dengan wisata kuliner. Sehingga dicapailah satu motto Bersih, Sauyunan, Indah. Pulau Geulis Berseri kalau nda salah.”

Prihatna mengakui, banyak warga yang menolak program penataan wilayah ini lantaran takut digusur. “Kalau direlokasi mereka tidak mau. Apalagi sebelumnya beberapa tahun lalu ada wacana rusunawa, tetapi warga menolak. Malah akhirnya diputuskanlah ini udah warga maunya penataan tapi mauny di talud aja sekelilingnya,” kata dia. 

Warga seperti Suryana mengaku terus berdoa supaya tak digusur.  Sekretaris Vihara Pan Kho Chandra mengatakan punya satu syarat soal penataan Pulau Geulis. “Yang penting jangan merusak tatanan yang sudah ada dan jangan mengobok obok masyarakat yang sudah ada. Mereka tinggal di sini sudah lama. Mereka tinggal di sini sudah lama. Mau dirapihkan monggo, mau ditambahkan tempat wisata silahkan. Kita kerjasama. Tapi kalau seandainya tatananya dirubah. Semua yang sudah ada diacak acak. Warganya nggak mau,” tegasnya.

Kekuatan toleransi antar umat adalah kecantikan milik Pulau Geulis. Ini tak boleh digusur, kata sesepuh Pulau Geulis Abraham Halim. “Sekarang nama pulau ini Pulau Geulis. Pulau Geulis ini Pulau cantik. Kalau dilihat di sini sudah tidak cantik lagi Pulaunya sudah padat, penghijauannya kurang. Tetapi geulis di sini cantik dengan masyarakatnya yag walaupun dengan berbagai macam agama tetapi hidup rukun berdampingan tidka ada singgungan tentang agama. Dan lebih unik lagi di vihara Pan Kho ini mungkin kalau Anda memperingati maulidan atau buka bersama biasanya di masjid atau di musola. Tetapi di klenteng ini setiap maulidan, di sini memperingati dengan warga sekitar dan tokoh agama yang ada di situ,”tegasnya.

Asep mengaku bangga jadi warga Pulau Geulis. “Beberapa teman saya yang saya ajak ke sini heran juga, terpukau. Cengak gitu. Kok bisa gitu satu tempat ibaratnya vihara tapi bisa menampung beberapa umat beragama tapi bisa rukun. Mereka juga acungi jempol juga gitu. Belum pernah saya belum pernah dengar di daerah manapun. Patut dibanggakan juga. Makanya saya sebagai warga pulau juga mungkin dengan sedikit banyaknya itu ikut menjaga budayanya yang ada. Kalau bisa sih diteruskan kepada cucu cucu anak kita, jangan sampai hilang budayanya,” katanya.

Editor: Citra Prastuti







Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!