korupsi, trias koruptika, Atut, KPK

Dari Proyek Hambalang ke SKK Migas

Bekas orang nomor satu di Partai Demokrat Anas Urbaningrum sejak Februari lalu,  telah ditetapkan KPK sebagai tersangka. Anas dituduh menerima suap berupa mobil Toyota Harrier senilai Rp 1 milyar . Menurut bekas koleganya di Partai Demokrat yang kini jadi terpidana korupsi Proyek Hambalang Muhammad Nazaruddin mobil tersebut diberikan perusahaan kontraktor pemenang proyek, PT Adhi Karya.

Selain menerima mobil,  Anas tuding Nazar juga menerima suap untuk biaya pemenangan sebagai Ketua Umum Demokrat saat kongres di Bandung pada Mei 2010. Pengacara Nazaruddin, Junimart Girsang menuturkan,” Ya kan pak nazar itu sudah sering mengatakan bahwa yang namanya Pak Anas itu menerima uang bahkan melalui PT Duta Citra Lara itu kan sudah terbukti dari laporan keuangan. Bahwa PT Duta Citra Laras itu ada menerima uang sekitar 60 miliar dari Adi Karya kan sudah jelas itu., dalam rangka apa itu? kan begitu itu satu. Kedua ada juga penerimaan untuk dipakai kongres"

KPK sendiri telah memeriksa sejumlah petinggi partai berlambang merci tersebut. Seperti Max Sopacua, TB Silalahi, Ahmad Mubarok dan Marzuki Ali. 

“Saya ditanya soal seputar perjalanan kongres Partai Demokrat yang berlangsung tahun 2010 yang berlangsung di Bandung, jadi bagaimana proses kongres itu, bagaimana perana saya sebagai tim sukses Marzuki Alie, dan bagaimana hubungannya dengan yang lain,” kata Max.

TB Silalahi menjelaskan,"Sebagai Ketua Komisi Pengawas, tugas Komisi Pengawas itu adalah mengawasi kinerja dari kader Partai Demokrat yang ada di eksekutif maupun legislatif, jadi saya dipanggil dalam rangka itu,”

Ahmad Mubarok menimpali, "Soal kongres (Demokrat) ini ya bukan soal uang. (Apa yang ditanyakan KPK soal kongres ini?) ya soal kongres, kenapa dukung Anas. (Ada yang lebih khusus menyangkut aliran dana?) Ya itu saja kan sesuai dengan arahan Pak SBY tidak boleh ada money politic, pilih dengan hati nurani, sekedar transport dibolehkan. Hanya itu"

Lain lagi komentar Marzuki Ali, "Saya hanya dengar suara-suara saja tidak perlu, saya tidak mau tahu urusan begitu. Karena urusan itu tanggung jawab masing-masing kepada Tuhannya masing-masing. Orang yang menyuap, orang yang disuap kedua-duanya masuk neraka jadi saya gak ada urusan. Urusan kongres ada yang menyuap masuk neraka, yang disuap masuk neraka jadi saya tidak berkepentingan untuk tahu,"

Rasuah Hambalang dimulai pada 2010. Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) diduga lalai karena telah meneken kontrak proyek. Akibatnya anggaran pembangunan pusat olah raga di Bukit Hambalang, Bogor, Jawa Barat membengkak dari Rp 125 miliar menjadi Rp 1,75 triliun.

Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng  juga ikut terseret dalam pusaran korupsi.  Oktober silam bekas Juru Bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu resmi ditahan KPK. “Saya menilai penahanan KPK sebagai proses untuk mempercepat penyelesaian kasus. Harapan saya bahwa segera peradilan dapat segera mengadili , kebenaran dapat terungkap. Yang salah, salah, yang tidak salah tidak salah,” kata Andi.

KPK juga menetapkan tersangka lainnya seperti petinggi kontraktor Hambalang PT Adhi Karya  Teuku Bagus, Kepala Biro Perencanaan di Kementerian Pemuda dan Olahraga Deddy Kusdinar yang telah menghadapi persidangan terlebih dahulu. Hingga kini dua tersangka kasus Hambalang yang belum ditahan yaitu Anas Urbaningrum dan Direktur Utama PT Dutasari Citralaras, Mahfud Suroso.

Ketua KPK Abraham Samad, menjanjikan penahanan terhadap Anas tinggal menunggu waktu. "Ini soal penahanan masalah teknis ya. Kalau kita sudah bisa memperkirakan bahwa kasus ini sudah diatas 50 persen atau 60 persen lah. Karena ini menyangkut batas atau masa penahanan. Kita terikat disitu makanya kita harus hitung. Kalau kita anggap kasusnya sudah 70 persen, atau 60 persen lah sudah mendekati, kita lakukan penahanan. Oleh karena itu tim penyidik masih menghitung persentase penyelesaiaan berkas kasus ini," kata Samad.

Selain Partai Demokrat,  korupsi juga membelit Partai Keadilan Sejahtera. KPK telah menahan bekas Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Lutfie Hasan Ishaq  akibat menerima suap milyaran rupiah dari  pengusaha Ahmad Fatanah.

Duit itu merupakan uang muka dari komisi Rp 40 miliar yang dijanjikan oleh Direktur Utama PT Indoguna Utama, Maria Elizabeth Liman. Suap untuk melicinkan penambahan kuota impor daging sapi PT Indoguna Utama dan anak perusahaannya sebesar delapan ribu ton. Luhfi  dan Fatanah kini sudah mendekam hotel prodeo  selama belasan tahun.

Dari partai politik, korupsi juga menggerogoti Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas).  Pada lebaran silam, Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini  tertangkap tangan  menerima suap Rp 4 milyar dalam bentuk dollar dari petinggi Kernel Oil Simon Sanjaya.

Belakangan dalam persidangan Rudi mengaku duit tersebut akan diberikan kepada Anggota Komisi Energi DPR bernama Tri Yulianto. Suap dibagikan  untuk tunjangan hari raya atau THR. "Namun itu belum terjadi, muncullah permintaan-permintaan THR dari DPR. Pada posisi satu ada permintaan THR, di posisi lain. Itu komisi 7. DI sisi lain ada tawaran-tawaran bantuan-bantuan untuk kasus seperti itu,"katanya. 

KPK saat ini tengah menyelidiki keterlibatan anggota DPR yang menerima duit THR tersebut. Di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi sang penyuap, pengusaha Simon Sanjaya telah divonis 3 tahun  penjara.   Ia terbukti memberikan suap kepada Rudi Rubiandini.

KPK tak hanya berhenti pada kasus korupsi tersebut. Lembaga yang dipimpin Abraham Samad ini tengah bekerja keras menuntaskan kasus Hambalang dan skandal Bank Century. Keterbatasan jumlah penyidik bukan jadi alasan kasus kakap tersebut tak tuntas, tegas Samad. "Oleh karena itu kedua kasus ini menuurt hemat saya harus bisa diselesaikan secara tuntas, gak boleh parsial-parsial begitu. Oleh karena itulah saya sangat yakin teman-teman penyidik KPK akan melakukan itu walaupun memang terasa sangat lambat," tegasnya. 


***

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!