petani, mawar, lembang, sabun, ekonomi

Di pameran kreasi produk wanita ini, Nadya Syaib sibuk memamerkan produk kosmetik dengan merk Wangsa Jelita. Produk-produk dari Wangsa Jelita semuanya memakai bahan alami salah satunya adalah mawar.  “Cita-cita awal kami itu ingin membuat produk yang konsepnya natural. Kita ingin bikin produk yang beda di pasaran, tapi benar-benar cermat dalam formulasinya. Bahan-bahan yang tidak ada manfaatnya dalam tubuh itu kita eliminasi. Jadi bahan-bahan yang tidak berguna bagi tubuh itu tidak kita pakai,” jelas Nadya.

Nadya lah yang pertama kali memperkenalkan kebun mawar kepada para petani sayur di Lembang. Lama kelamaan, banyak petani sayur yang beralih ke mawar karena harga jual mawar yang lebih baik ketimbang sayur.

Mawar bisa dihargai sampai 40 ribu rupiah per kodi.  “Dari 15 ribu per kodi jadi 40 ribu per kodi. Jadi sama dengan si grade A. Sebenarnya tidak masalah ya, karena yang penting buat kita itu kelopaknya. Yang penting kelopaknya sehat, gak ngaruh tangkainya panjang atau tidak yang penting kelopaknya sehat,” ungkapnya.

Ketika masih menjadi mahasiswa di Institut Teknologi Bandung, Nadya dan teman-temannya berhasil menciptakan sabun padat dari bahan alami. Nadya lantas memperkenalkan gagasan ini kepada para petani mawar.  “Pas pertama kali kita sampikan ini mawar bisa lho diolah untuk jadi sabun.. Awalnya sih kaya lucu-lucuan. Semuanya pada tertawa, oh bisa ya...,” kenangnya. 

Tak mudah meyakinkan para petani untuk mendukung gagasan Nadya. Mula-mula hanya 5 petani yang tertarik. Kini ada 25 petani, termasuk Engkus, yang awalnya sempat meragukan ide Nadya.  “Dari dulu itu saya tahunya, tapi sekarang-sekarang kata teh Nadya bisa jadi parfum dan sabun. Jadi parfum wangi mawar dan sabun wangi mawar, itu tahu dari teh Nadya. Jadi setahu saya dulu ya itu saja buat dekorasi pengantinan, hotel-hotel. Itu dulu. Tapi mungkin zaman lebih maju sekarang bisa jadi sabun dan parfum,” jelasnya.

Bahan baku sabun Wangsa Jelita ini adalah mawar kelas C yang biasanya dibuang begitu saja oleh para petani. “Proses untuk akhirnya tertarik dan sampai akhirnya yuk cobain saja sama-sama bagaimana mawar yang mereka hasilkan di kebun itu petalnya atau kelopaknya menjadi air mawar. Dari air mawar itu kita masukkan ke dalam formula sabun,” beber Nadya. 

Untuk membuat sabun, ekstrak bunga mawar dicampur dengan minyak zaitun, minyak kelapa serta air. Campuran itu lantas dicetak dan dibiarkan sebulan sampai mencapai kadar asam yang sempurna.

Menurut Nadya, keunggulan sabun ini adalah tak membuat kulit iritasi atau kering. “Minyak tambah basa jadi menghasilkan gliserine dan basa ini harus sempurna berubah menjadi glisrine. Karena basanya sendiri kalau kita pakai soda api kena ke tangan kan iritasi tuh. Itu basa. Nah itu harus sempurna berubah menjadi gliserine, di cold proses perubahannya si basa menjadi gliserine itu lama butuh waktu 4 – 6 minggu. Kalau di hot proses cepat, makanya orang kalau mandi suka ngeluh. Saya kalau mandi kok kullit suka kering, itu karena gliserinenya kurang,” terangnya.

Selain sabun, Wangsa Jelita juga memproduksi sabun serta pelembab kulit. Semua memakai bahan alami – mulai dari mawar, sampai teh hijau, apel dan kunyit. Sudah dua tahun ini Nadya bekerjasama dengan para petani sebagai pemasok utama mawar untuk sabun Wangsa Jelita.

Sekarang Wangsa Jelita memproduksi 2000 batang sabun mawar setiap bulan dengan pasar utama di dalam negeri. Nadya berencana mengembangkan produksi sabun mawar di masa mendatang.  “Tadinya kita bercita-cita ingin mereka menjadi unit produksinya Wangsa Jelita. Pinginnya mereka bisa menghasilkan sabun dari mawar yang mereka hasilkan. Cuma sekarang kendalanya tempat, kalau produk perawatan tubuh, kosmetik seperti itu kan butuh regulasi tematnya seperti apa, memenuhi syarat tertentu dan disana, dan disana ada hambatan lah karena tidak semua tempat memenuhi syarat itu,” tambahnya.

Meski pengembangan usaha sabun mawar masih mengalami kendala, Engkus sudah merasakan nikmatnya jadi petani mawa. “Ya lumayanlah bisa nyicil rumah, beli motor,  bisa menyekolahkan anak,” katanya sumringah.

Editor: Citra Prastuti


Foto-fotonya...

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!