petani, mawar, lembang, sabun, ekonomi

KBR68H - Selama berpuluh tahun, petani di Lembang Jawa Barat berkutat dengan tanaman sayur.  Namun kini, mawar lah yang jadi primadona. Selain harga jualnya lebih tinggi, produk turunannya berupa sabun ekstrak mawar dinilai lebih ekonomis. Reporter Novaeny Wulandari berbincang dengan petani di sana yang berhasil mengubah hidup mereka.

Melangkah di jalan setapak di Lembang ini sangat menyenangkan... bisa menghirup udara segar dan menikmati kebun mawar di kiri kanan. Hari itu Hamid khusus datang ke Desa Cihideung Parongpong untuk mengambil pesanan bunga. Sudah 5 tahun ini ia langganan bunga di sini untuk dijual lagi ke sebuah toko dekorasi bunga di Bandung.   “Lagi ada dekorasi ngambil, ya kalau tidak ada ya tidak. Kecuali kalau yang saya order dari sini ke Lembang, seminggu 3 kali itu mah abodemen,” jelasnya. 

Mawar adalah primadona para petani di Desa Cihideung Parongpong. Sepuluh tahun silam, situasinya beda. Yang lebih banyak ditanam petani lokal justru sayur. Tapi saat masih bertanam sayur, petani harus membongkar kebunnya empat kali dalam setahun.. Juga berhadapan dengan harga jual sayur yang tak pasti.

Engkus Junaidi beralih ke mawar lima tahun lalu, setelah berpuluh tahun jadi petani sayur.  “Mencoba dulu, menanam 1000 pohon setelah menanam 1000 pohon setiap bulan. Wah lumayan ada lebihan sisa dari pupuk, sisa dari obat. Lalu saya menanam lagi, secara bertahap dan sekarang sudah memiliki 7000 pohon,” terangnya.

Engkus kini punya kebun mawar seluas 1400 meter persegi. “Kalau mawar kan kalau nanam bisa 3 tahun sampai 4 tahun kuat, gak diganti-ganti diproduksi terus asal perawatannya bagus. Pupuknya dan obatnya standar lah, kalau perawatannya bagus sampai 5 tahun juga kuat,” imbuhnya.

Dengan mawar, petani pun bisa menangguk untung lebih besar di hari-hari tertentu jelas  Ketua Kelompok Petani Bunga Anda Sukendar, “Kaya nanti Valentine harga yang merah paling dominan, bisa sampai 100 ribu rupiah.  Bukan, 1 kodi. Kalau biasanya kan 40 ribu, kalau itu bisa jadi 2 kali lipat dari harga bunganya,” 

Tapi para petani mawar harus selalu waspada supaya tak tertipu bandar mawar, cerita Anda.
“Kadang-kadang, si bandar itu membohongi si petani. Alasan rugi, di sana banjir di Jakarta, demolah, tapi kalau lagi untung ya diam saja.  Ya balik lagi, tapi sudah tidak ditanggapi, karena sudah membohongi kan,” katanya.

Mawar dengan kualitas tertinggi, dengan batang yang panjang dan kelopak yang utuh, bisa dihargai sampai 40 ribu rupiah per kodi. Sementara mawar yang batangnya kecil dan bengkok, alias kelas C, biasanya langsung dibuang, kata Engkus. “Yang tidak terpakai oleh bandar pada dibuangin begitu saja. Yah kebanyakan dibuang, dari bunga-bunga yang tidak terpakai. Apalagi yang bekas ulat atau bekas kutu-kutu itu dibuang, karena tidak ada wadah atau orang yang mau menampung. Yang dari bandingan itu juga dibuang, tidak mungkin tidak kan. Itu harus dipatahin karena mengganggu pertumbuhan bunga yang mau dipanen,” paparnya.

Tapi sekarang justru mawar kelas rendah itulah yang mengubah hidup para petani.


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!