timnas, skuat garuda, indra sjafrie, pssi, sepak bola

Perbaikan Pelatih

Di tengah kegemilangan prestasi Timnas U-19, prestasi timnas U-23 dan timnas senior ternyata tak semoncer yuniornya. Pengamat sepakbola, Budiarto Shambazy menuturkan,”Dari prestasi memang menarik, seharusnya ada kesinambungan antara U-17 sampai Timnas senior. Itu yang dilakukan negara-negara kuat seperti Uruguay,Spanyol dan Brasil. Kan mulainya dari bawah. Nah U-19 ini sudah mengikuti pola yang benar.”

Kegagalan terdekat yang dialami timnas senior adalah tidak lolosnya Boaz Solossa dan kawan-kawan ke putaran final Piala Asia tahun depan di Australia. Budiarto menilai gonta-gantinya kursi pelatih jadi salah satu sebabnya.  “Jadi kita ini, kurang dari 2 tahun sudah gonta-ganti pelatih timnas senior entah berapa kali, Makanya saya lupa, kalau tidak salah sejak Nil Maizar kemudian RD sebentar masuk Blanco, masuk lagi RD. Sekarang Jackson ganti lagi Riedl bingung saya. Makanya nanti kalau kalah berprestasi dibandingkan U-19 saya tidak akan kaget,” tuturnya.

Meski tak seburuk timnas senior, penampilan timnas U-23 di berbagai pertandingan seperti ajang Islamic Solidarity Games (ISG) di Palembang, Sumatera Selatan lalu tak terlalu menggembirakan. Tim yang diasuh pelatih Rachmat Darmawan saat itu hanya menempati posisi kedua, setelah ditekuk Maroko 1-2 di final. “Materi pemain-pemain tim ini bagus, tapi tidak bisa dimaksimalisasi lagi. Karena Rachmat Darmawan tidak tahu mau bikin apa. Kalau diperhatikan, Saya lihat ketika di ISG Palembang lalu turnamen mini MNC Cup. Maladewa, Papua Nugini, Timor Leste, menurut saya sudah berat mempertahankan Rahmat Darmawan,” tambahnya.

Budiarto juga menambahkan lolosnya timnas U-23 ke final SEA Games Burma menghadapi Thailand  lebih disebabkan faktor keberuntungan. “Walaupun penampilan dari pertandingan ke pertandingan membaik. Tapi membaiknya itu lebih ke motivasi pemain. Mereka tidak mau kalah. Akhirnya kalau kita lihat permainannya individualistis, menciptakan peluang saja agak sukar. Karena peluang itu hanya didapat melalui team work.”

Bayu Gatra dan kawan-kawan harus puas meraih medali perak, setelah ditekuk tim Gajah Putih 0-1. Prestasi skuat “Garuda Muda” ini mengulang prestasi SEAGames dua tahun silam di Jakarta. Saat itu Timnas U-23 kalah setelah difinal disikat Malaysia lewat adu pinalti.

Menurut pemerhati sepak bola, Budiarto  Shambazy agar prestasi timnas senior dan U-23 mengilap, maka yang perlu diperbaiki adalah pelatih. “Yang harus dievaluasi sekarang harusnya pelatih. Bukan lagi pemain. Stock pemain kita sekarang sudah bagus, baik yang lokal maupun naturalisasi. Banyak sekarang pilihan pemain di U-19, U-23 dan timnas senior. Ini ternyata masalah utama, pelatih-pelatih kita tidak mampu mengurus apalagi memaksimalisasi para pemain.”

Usai tahun 1990-an, prestasi Timnas Indonesia terus mengalami kemunduran baik di level Asia ataupun Asia Tenggara. Pada ajang sepak bola level Asia Tenggara atau Piala AFF, Indonesia kerap langganan menempati peringkat kedua. Pada 2012 nasib timnas malah jeblok. Tak lolos babak penyisihan di tengah perpecahan di tubuh PSSI saat itu. Miskinnya prestasi timnas dan buruknya kualitas sepak bola kita setidaknya tercermin dari peringkat yang dirilis induk sepak bola dunia, FIFA pekan lalu. Timnas Indonesia berada pada peringkat 161. Posisi ini menempatkan Indonesia menjadi negara terbaik no 9 di 12 negara ASEAN.

Menanggapi hal ini, PSSI mengaku telah melakukan seleksi pelatih sesuai standar FIFA. Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin menuturkan,“Jadi memang kita sudah ada ya, memakai standart-standart dari AFC, FIFA. Jadi untuk usia muda ada kategori, ada lulusan-lulusan dari,  AFC FIFA yang kita pakai. Dan kita berharap pelatih-pelatih tidak temporal, tidak hanya 1 event tapi permanen. Jadi model Indra Safrie kita pertahankan sampai 2017. Nah ini memberikan semangat dia untuk menyiapkan program-program untuk keberhasilan.”

Djohar juga menegaskan awal 2014 nanti pelatih timnas sudah tidak boleh merangkap jabatan di klub.“Kalau masih rangkap, kedua-duanya akan rugi. Klub rugi dan Timnas juga rugi, makanya untuk Timnas ke depan tidak boleh merangkap. Untuk Indra Safrie dia tidak boleh pegang klub manapun. Hanya untuk Timnas. Insyaallah tidak ada,” tegasnya.

Di samping itu, Menurut Djohar, PSSI juga telah membuat kaderisasi pemain dan timnas yang berkesinambungan dari level yunior hingga senior. Harapannya prestasi sepak bola  Indonesia—diberbagai kategori— di masa depan  bisa dibanggakan  masyarakat. Semoga!

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!